Terverifikasi faktual Dewan Pers .

Home / Daerah

Rabu, 10 Oktober 2018 - 09:47 WIB

LSM Ecoton Masih Belum Puas, Hasil audit Kementrian LHK Soal Limbah PT Pria.

Direktur Pencegahan Dampak Lingkungan, KLHK, Ari Sugianto, saat diwawancarai awak media.

 

Mojokerto, Sekilasmedia. Com-Polemik Dugaan soal pencemaran limbah yang terjadi antara Warga Lakardowo dan PT PRIA sudah lama terjadi, bahkan aksi unjukrasa pun sering di lakukan, berbagai upaya laporan sampai ke-Presiden juga telah di laksanakan pihak Warga yang mengatas namakan LSM Pendowo bangkit bersama LSM Ecoton, keduanya dengan getol memperjuangkan Warga Lakardowo yang menurutnya terkena imbas Limbah B3 dari PT PRIA.

Sehingga tepatnya Rabu (10/10)Di ruang Satya Bina Karya (SBK) Pemkab Mojokerto, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) hadir guna menjelaskan hasil audit dugaan masalah limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) di pabrik pengolahan limbah B3 PT Putra Restu Ibu Abadi (PT PRIA) yang berada di Desa Lakardowo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, secara terbuka.

Dalam acara tersebut dihadiri Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Timur, Asisten II Pemkab Mojokerto, perwakilan Dandim 0815 Mojokerto, perwakilan Polres Mojokerto Kota, KLHK,Camat Jetis, Kapolsek Jetis,Management PT PRIA, LSM Pendowo Bangkit, LSM Ecoton, dan beberapa warga sekitar Pabrik PT PRIA .

Ketika pemaparkan hasil audit yang dilakukan oleh auditor independen berdasarkan kualifikasi yg diterbitkan oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP),Direktur Pencegahan Dampak Lingkungan, KLHK, Ari Sugianto mengatakan, “kami audit karena terjadi pencemaran dan mengakibatkan penyakit gatal-gatal di masyarakat yang diduga disebabkan limbah dari PT PRIA. Tindak lanjut dari Laporan dan Rekomendasi Komnas HAM. Kami hanya menerima hasil auditor BNSP yang mempunyai kelayakan” ungkapnya.

Dari hasil audit tersebut intinya PT PRIA yang memproduksi Limbah menjadi Batu Batako dan lainnya, tidak ditemukan Limbah yang mencemari warga, serta tidak ada korelasinya penyakit masyarakat (gatal-gatal) dengan aktivitas di PT PRIA terutama terkait adanya penyebaran melalui media air. Secara hidrogeologis aliran air tanah, tidak ada hubungan dengan limbah PT PRIA dan air yang digunakan masyarakat.”jelas Ari

“Hasil analisis kandungan kontaminan logam berat di pemukiman dan PT PRIA masih sesuai dengan tanah pelapis dasar. Bahkan kalau ada yang lebih itu masih tergolong limbah bukan B3,jadi masih di anggap normal,” bebernya.

“jika tidak sampai pada intervention velue atau nilai dimana harus dilakukan tindakan remediasi atau pembongkaran,kenapa harus di lakukan pembongkaran?,Dari hasil audit tersebut diduga penyakit kulit yang ada di masyarakat diakibatkan debu yang tersebar dari limbah batubara fly ass bottom ass yang tertimbun di rumah penduduk atau di halaman penduduk,yang sewaktu waktu terkena angin”imbuhnya

Ari menambahkan, memang struktur Tanah PT PRIA lebih tinggi namun di kelilingi lembah sehingga pasti secara logika aliran sungai pasti terputus kalau sampai ke pemukiman, serta kemampuan untuk larut ke air rendah. Menurutnya, dari sisi sumbernya sudah tidak meyakinkan.Aliran air tanah dari PT PRIA, tidak sampai ke lensa sumber air di dalam tanah sehingga tidak mungkin sampai ke arah pemukiman warga. Pasalnya, hasil sample tanah yang diambil sebagian besar memenuhi kriteria air bersih.

“memang ada juga sumur milik warga yang TDS nya tinggi sebesar 3000-an yaitu di Rumah Suhadak namun hal itu sejak dulu sempat di bangun WSLIC 2,Dari hasil audit tidak ditemukan hubungan antara penyakit masyarakat dengan aktivitas di PT PRIA terutama terkait adanya penyebaran melalui media air. Secara hidrogeologis aliran air tanah, tidak ada hubungan antara air tanah PT PRIA dan air yang digunakan masyarakat,” tegasnya.

Dalam pemaparan tersebut juga di berikan kesempatan bertanya atau klarifikasi dalam hal ini, dari LSM ECOTON,Daru Setyorini mengatakan”Hasil audit ini bukan merupakan kebenaran mutlak masih butuh klarifikasi karena perkembangan Ilmu selalu terus mengalami perkembangan,juga mengalami perubahan-perubahan, intinya masih relatif tidak ada yang baku dalam ilmu, hasil penelitihan pun berbeda secara siknifikan berarti masih banyak celah perbedaan pandangan”

Pada hasil audit tersebut menghasilkan beberapa rekomendasi diantaranya kepada Pemerintah untuk mengkapsulisasi timbunan-timbunan limbah di masyarakat dengan cara pengecoran menggunakan adukan semen guna mengurangi tertiupnya Limbah yg sudah menyebar di Masyarakat,” tutupnya. (wo/Rw)

Share :

Baca Juga

Daerah

Ambulans Bawa Kambing, Kades di Lumajang Langsung Diperiksa Inspektorat

Daerah

Amartahills Hotel And Resort Batu Hadirkan Pertunjukan Spektakuler Amarta Kingdom 

Daerah

Raih Adipura, 500 Petugas Kebersihan dan Pertamanan DLH Terima Tali Asih Bupati Yani

Daerah

Pembelajaran Menyenangkan Itu Ada Di Ponpes Sunan Drajat Sumber Terang Kyai Jafar Ghoni Sepupu Ki Begawan Siti Abdul Halim

Daerah

Maket Revitalisasi Makam Ulama Pondok Pesantren Sono Sidoarjo

Daerah

Wakil Bupati Blitar Buka Bazar Ramadhan di RTH Kanigoro

Daerah

Berbelit, Syarat Lelang Pemeliharaan Rutin Bina Marga Karangasem Dikeluhkan Kontraktor

Daerah

Pertunjukan Sagar Tari Maheswari Bikin Pengunjung Hill House Terpukau