Nuansa Ramadhan Saat Pandemi Covid-19 | SEKILAS MEDIA

Nuansa Ramadhan Saat Pandemi Covid-19

Nuansa Ramadhan Saat Pandemi Covid-19
Nuansa Ramadhan Saat Pandemi Covid-19
foto ilustrasi

Mojokerto, Sekilasmedia.com – Pandemi penyakit yang diakibatkan oleh virus korona (Covid-19), selain menyerang jutaan dan menewaskan ratusan ribu orang secara global, juga menimbulkan banyak perubahan dalam berbagai bidang kehidupan. Covid-19 menjungkirbalikkan konsep dan praksis politik, ekonomi, sosial, budaya, dan juga agama.

Salah satunya terkait pelaksanaan ibadah dibulan ramadhan, di tahun – tahun kemarin, bulan Ramadhan merupakan bulan yang diwarnai dengan sholat tarawih berjamaah, buka bersama dengan sanak saudara, dengan teman, dengan keluarga. Untuk tahun ini, hal itu hanya berupa angan – angan saja.

Pelaksanaan Ramadhan kali ini sangatlah beda, dimana kita harus melaksanakan sholat tarawih dirumah, berbuka puasa dirumah saja, bahkan perihal mudikpun harus ditiadakan dan tidak boleh dilaksanakan.

Bagi semua orang, Ramadhan ini merupakan bulan Ramadhan yang sangat aneh, perilaku – perilaku yang sudah sudah menjadi kebiasaan, kini sirna karena proses pencegahan agar covid-19 cepat berakhir.

Bahkan, termasuk para dokter yang bertugas menyembuhkan. Suasana ingar-bingar yang biasanya meramaikan masjid dan tempat-tempat ibadah hanya menjadi angan-angan menyedihkan. Betapa tidak? Saat-saat syahdu untuk bersalaman saling memaafkan tidak diperbolehkan. Saat-saat indah merapatkan barisan di safsaf jemaah Tarawih pun tak lagi diperkenankan. Buka bersama yang menjadi ajang melepas rindu teman lama juga tak bisa lagi menjadi prioritas agenda.

Barangkali inilah Ramadhan yang menggugah kesadaran. Meruntuhkan keangkuhan, bahwa manusia tak berdaya bahkan di hadapan makhluk mahakecil bernama virus korona. Ia tak terlihat, tapi bisa menular cepat. Hingga saat ini belum ditemukan vaksin yang bisa menyembuhkan. Yang bisa kita lakukan hanya menghambat lajunya, memutus rantai penularan, dengan tinggal di rumah, dan menjaga jarak fisik antarsesama.

LIHAT JUGA :   Unit Covid Hunter Polda Jatim Temukan ODP Corona Saat PSBB Surabaya

Inilah Ramadhan yang memaksa kita introspeksi untuk menyulap dusta jadi nyata, membalik benci jadi cinta, meredam amarah dan engubahnya jadi rahmah. Rumah Tuhan yang mewujud dalam Kemegahan arsitektur dibuat sunyi, menjadi isyarat bahwa Tuhan yang sejati ialah yang bersemayam dalam hati.

Ramadhan ialah saatnya mengelak dari nafsu yang terus bergejolak. Kita redam kerakusan dengan menyepikan pusat-pusat perbelanjaan. Dengan masker yang kita kenakan, mungkin itulah cara Tuhan membungkam mulut kita dari ucapan-ucapan tak senonoh dalam ragam pergunjingan.

Perintah untuk tetap di rumah, larangan untuk bepergian, ialah pesan terkuat agar hubungan dengan keluarga makin erat. Mungkin karena sudah sekian lama kita hanya berbusa-busa menyatakan rindu pada keluarga, nyatanya tiap hari sibuk kerja dan kerja.

Memanggil Tuhan dengan suara keras dari atas menara mungkin sudah tak lagi berguna karena Tuhan sejati ada dalam ketulusan hati. Memohon ampun pada Tuhan tak perlu dengan cara berteriak, tapi dengan khusyuk dan terisak. Cobalah menepi di sudut-sudut sepi, dan berbisiklah dengan pasrah, “Tuhan, aku datang memohon ampunan.”

Jadikan Ramadan sebagai saksi, kecintaan pada Tuhan tak cukup hanya diucapkan, tapi harus diaktualisasikan dengan menumpahkan kasih sayang pada sesama manusia: memberi makan kepada saudara-saudara kita yang papa. Memberi kehidupan kepada fakir muskin yang senantiasa menderita.

Berpuasa pada hakikatnya juga cara berempati kepada mereka yang menahan lapar dan dahaga setiap hari karena tak mampu membeli sesuap nasi. Covid-19 mengubah cara pandang kita terhadap banyak hal, termasuk bagaimana cara kita beragama. Sejatinya sudah banyak firman Tuhan atau sabda Nabi Muhammad SAW yang kita baca, bahwa Allah tidak melihat baju yang kita kenakan, juga bukan pada cantik dan gagahnya penampilan. Namun, pada teguhnya keimanan serta satunya kata dan perbuatan.

LIHAT JUGA :   Pererat Silaturahim Dengan Tokoh Agama, Danpos Ramil 20 Mojoanyar Hadiri Pengajian Rutin Lailatul Ijtima’

Wabah covid-19 ialah ujian ketangguhan, dari perspektif agama apakah kita sudah benar-benar beriman. Dari sisi kemanusiaan, apakah kita sudah benar-benar memiliki kepedulian dan, dari sudut pandang kebangsaan/keindonesiaan, apakah kita sudah benar-benar rela berkorban. Agama, kemanusiaan, dan kebangsaan ialah satu kesatuan.

Beragama di era covid-19, tak bisa dilakukan secara egoistis, dengan tetap ngotot berjemaah di masjid misalnya, tanpa menghiraukan anjuran pemerintah dan seruan fatwa para ulama. Bisa jadi, kitalah yang membawa virus korona atau bisa jadi juga jemaah lain.

Hakikat iman yang benar ialah pada saat orang lain merasa aman dan nyaman dengan kehadiran kita. Itulah makna bersatunya agama dan kemanusiaan. Beragama yang tidak mencelakakan orang lain dan tidak pula membuat orang lain merasa terancam karena agama diturunkan untuk membawa rahmat bagi siapa saja di jagat raya (rahmatan lil ‘alamin).(gih)

SEKILAS MEDIA