Hansamu Yama  dan Ahmad Dzaki Akmal Yuda, Proses Awal Di Kota Mojokerto, Kini di Persebaya – SEKILAS MEDIA

Hansamu Yama  dan Ahmad Dzaki Akmal Yuda, Proses Awal Di Kota Mojokerto, Kini di Persebaya

Hansamu Yama  dan Ahmad Dzaki Akmal Yuda, Proses Awal Di Kota Mojokerto, Kini di Persebaya

 

Foto: Siswahyu, Ahmad Dzaki Akmal Yuda, Azrul Ananda, Hansamu Yama.

MOJOKERTO, Sekilasmedia.com – Dari waktu ke waktu, lebih-lebih akhir-akhir ini meskipun sebelum wabah pandemi Covid-19, sangat kurang perhatian Pemerintah Kota Mojokerto maupun kalangan terkaitnya terhadap kehidupan olahraga di Mojokerto, termasuk sepakbola. Padahal kawasan Kota Mojokerto memiliki daya tarik tersendiri bagi kalangan pesepakbola anak-anak, termasuk yang dari wilayah Kabupaten Mojokerto tak jarang yang ‘belajar’ dan berlatih sepakbola di wilayah Kota Mojokerto dengan mengikuti SSB-SSB yang ada di Kota Mojokerto misal Gen-B, Sinar Mas, Sikatan Muda yang diantaranya dilatih pelatih muda berbakat Hadi Kurniawan (Pulorejo), Hanza FC di Surodinawan yang diantaranya dilatih Pak No (dalam naungan keluarga Hansamu Yama yang saat ini bermain untuk Persebaya/senior Liga 1 Indonesia). Kurang-lebih hal tersebut diungkapkan Mochamad Mustofa (Topeng), aktivis, dalam diskusi terbatas di Mojokerto kemarin.

Soal olahraga termasuk sepakbola tersebut menurut Mustofa Topeng perhatian Pemerintah Kota Mojokerto maupun pihak terkaitnya saat ini sangat kurang apalagi jika dibandingkan dengan era Walikota Mojokerto Mas’ud Yunus maupun Walikota era Abdul Ghani (almarhum). Padahal dari waktu ke waktu banyak bibit pesepakbola muda yang ditempa di wilayah Kota Mojokerto meskipun pada akhirnya para pesepakbola muda itu harus cari jalan sendiri untuk lompatan, dengan terpaksa keluar dari Kota Mojokerto diantaranya ke Surabaya, disebabkan karena tidak ada dari pihak Pemkot maupun jaringannya yang secara memadai ‘menuntun’ para pesepakbola muda ketika menginjak remaja tersebut. “Contohnya Hansamu Yama yang pernah di SSB Sinar Mas, yang kemudian mendapatkan lompatan sendiri, jalan sendiri, hingga sukses menjadi pesepakbola profesional hingga saat ini, di Persebaya Surabaya dibawah kendali Azrul Ananda,” ungkap Mustofa Topeng soal Hansamu Yama, padahal Hansamu bukan warga Kota Mojokerto, tapi warga Kabupaten Mojokerto (Lengkong, Mojoanyar) yang pada saat anak-anak berlatih di SSB di Kota Mojokerto.

Hingga Hansamu Yama bisa menjadi pesepakbola Timnas sejak U-19 hingga sekarang. Begitupun Muchlis Hadi yang sempat masuk timnas, adalah warga Kabupaten Mojokerto (Blimbingsari) yang berlatih di SSB di Kota Mojokerto. Menurut Mustofa Topeng banyak pesepakbola anak yang pada proses awalnya berlatih di SSB-SSB di Kota Mojokerto yang kemudian ‘terpaksa’ cari lompatan sendiri-sendiri menjadi pesepakbola di Liga 1 (liga utamanya nasional Indonesia) bahkan menjadi pesepakbola timnas, meskipun tanpa campur-tangan yang jelas dari Pemkot Mojokerto soal pembinaan saat ‘transisi’ remaja.

Mustofa Topeng kemudian juga menyebut, diantara yang terbaru ialah adanya Ahmad Dzaki Akmal Yuda kelahiran tahun 2004 (4 Juni 2004, red.) yang kemudian bermain di Bhayangkara FC U13 – U14 – U15 – U16 pada tahun 2017 hingga awal tahun 2019. Lalu pada sekitar bulan Februari – April 2019 ditarik gabung Liga 1 U-16 Kalteng Putra saat Festival Filanesia U-16 Elite Pro Acadeny yang diadakan di National Youth Training Center PSSI di Sawangan Depok. Ketika itu Akmal/Dzaki Akmal yang pelajar SMPN 2 Kota Mojokerto diminta untuk menjadi anak angkat oleh Subagja Suihan yang juga ayah angkat pesepakbola Egy Maulana Vikri.

Akmal juga harusnya masuk timnas U-16 pada awal tahun 2019, namun karena ada kesalahan teknis tertentu dari pihak yang memproses, sehingga digantikan anak lain dengan alasan yang belum terungkap hingga saat ini. Setelah itu kebetulan Akmal terpantau Persebaya U-16, hingga ditarik masuk Persebaya U-16 Liga 1 Elite Pro Academy (EPA) sejak akhir April 2019 hingga kini. Sebelum di Persebaya U-16 itu, Akmal sempat dipanggil trial oleh Barito Putera U-16 untuk Liga 1 U-16 Elite Pro Academy (April 2019), namun terlambat hadir. “Tapi Alhamdulillah, Akmal selalu mendapatkan rezeki dan tanpa suap. Tapi yang jelas, kami berharap saat senior jauh lebih penting. Sekarang ini masih permulaan saja tapi semua kita syukuri,” ungkap Siswahyu Kurniawan ayah Ahmad Dzaki Akmal Yuda kemarin (13/7/2020), yang menyebut Akmal juga mendapat peluang ke luar negeri namun masih terhambat karena Covid-19 dan faktor usia yang masih terlalu muda.

Kebetulan pula menurut Mustofa Topeng, Ahmad Dzaki Akmal Yuda awal proses bersepakbola juga dari SSB-SSB yang ada di Kota Mojokerto. Sempat di SSB Sinar Mas saat dilatih Pak No, baru bergabung sekitar empat (4) bulan sudah ikut menjadi Juara IV se-Jatim Piala Walikota Mojokerto tahun 2014. Ketika Pak Puji ayah Hansamu Yama memisahkan diri dari SSB Sinar Mas, dan kemudian mendirikan SSB Hanza FC, Akmal sempat kebingungan sehingga dalam beberapa waktu sempat berlatih di SSB Sinar Mas dan SSB Hanza FC.

Dari Pak No saat di SSB Sinar Mas awal Akmal bisa sepakbola, kemudian menjadi lebih bisa bermain sepakbola ketika dilatih oleh Hadi Kurniawan pelatih muda berbakat di SSB Sikatan Muda. Lebih meningkat signifikan ketika Akmal lolos seleksi masuk Bhayangkara FC, kemajuan pesat saat ditangani tim pelatih Bhayangkara FC.

Namun yang disayangkan oleh Mustofa Topeng adalah nasib ‘para’ SSB di Kota Mojokerto, yang dari waktu ke waktu kurang mendapatkan perhatian yang memadai dari Pemkot Mojokerto maupun jajaran terkaitnya. Sehingga ketika tahun 2013 masih ada sekitar 17 SSB yang aktif, namun saat ini (2020) tinggal sekitar 5 – 7 SSB saja diantaranya Gen-B, Hanza FC, Sinar Mas, Sikatan Muda, Internal, Bina Putra namun diantaranya kembang-kempis. Menurut Mustofa Topeng sangat perlu kepedulian Pemkot Mojokerto, misal dengan diberi semacam subsidi ‘hibah’ dana pembinaan. “Misal anggap saja ada sekitar sepuluh SSB, masing-masing dibantu Rp.3 juta per bulan, maka ketemu hanya Rp.30 juta per bulan atau sekitar Rp.360 juta per tahun. Kecil sekali dibandingkan APBD Kota Mojokerto yang mencapai sekitat Rp.1,14 Triliun,” ungkap Mustofa Topeng seraya menyebut hal itu perlu segera mendapatkan perhatian, apalagi tidak lama lagi akan ada pemilihan Ketua PSS Kota Mojokerto yang sekaligus bisa dijadikan momentum ‘para’ SSB mengarah perubahan yang lebih maju untuk sepakbola Kota Mojokerto.  (Sis).

SEKILAS MEDIA