MUI Kabupaten Probolinggo Gelar Musyawarah Daerah – SEKILAS MEDIA

MUI Kabupaten Probolinggo Gelar Musyawarah Daerah

MUI Kabupaten Probolinggo Gelar Musyawarah Daerah

 

Probolinggo, Sekilasmedia.com – Duet KH Munir Kholili dan KH Syihabuddin Sholeh kembali dipercaya memegang amanat sebagai Ketua Umum dan Sekretaris Umum MUI Kabupaten Probolinggo masa khidmat 2020-2025.

Keputusan ini diambil dalam Musyawarah Daerah (Musda) III MUI Kabupaten Probolinggo, Sabtu (05/12) yang diwakili oleh Tim Formatur sejumlah 9 orang dari berbagai unsur ormas keagamaan yang menjadi anggota MUI. Selanjutnya hasil Keputusan Tim Formatur MUI Kabupaten Probolinggo ini ditetapkan oleh Sekretaris Umum MUI Provinsi Jawa Timur Ainul Yaqin.

Ke-9 Tim Formatur tersebut diantaranya KH Munir Kholili (Ketua Umum Demisioner), KH Syihabuddin Sholeh (Sekretaris Umum Demisioner), KH Amin Fathullah (Penasehat Demisioner), KH Moh Barzan (DP MUI Kecamatan Paiton selaku perwakilan wilayah timur), KH Hilmi (DP MUI Kecamatan Banyuanyar selaku perwakilan wilayah tengah), KH Zainul Mustofa Hasan (DP MUI Kecamatan Tongas selaku perwakilan wilayah barat), H Ahmad Muzamil (ormas Islam perwakilan PCNU), Ust. Muhammad Fadlal (ormas Islam perwakilan PD Muhammadiyah) dan KH Abdul Wasik Hannan (pondok pesantren).

Musda III MUI Kabupaten Probolinggo yang digelar di aula Kantor PCNU Kota Kraksaan di Jalan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Kelurahan Sidomukti Kecamatan Kraksaan ini mengambil tema “Dengan Musda Kita Tingkatkan Peran MUI Dalam Menghadapi Problematika Ummat di Era dan Pasca Pandemi Covid-19”.

Kegiatan yang diikuti oleh pengurus MUI Kabupaten Probolinggo dan DP MUI Kecamatan se-Kabupaten Probolinggo ini dibuka secara resmi oleh Ketua Umum MUI Provinsi Jawa Timur KH Abdusshomad Buchori.

Pembukaan ini dihadiri oleh Ketua DPRD Kabupaten Probolinggo Andi Suryanto Wibowo, Wakapolres Probolinggo Kompol Agung Setiyono, perwakilan Kodim 0820 Probolinggo, Kabag Kesra Setda Kabupaten Probolinggo Didik Abdul Rohim, ormas Islam (NU, Muhammadiyah dan Al Irsyad) serta perwakilan sejumlah pondok pesantren di Kabupaten Probolinggo.

Ketua Umum MUI Kabupaten Probolinggo KH Munir Kholili mengatakan Musda ini diselenggarakan untuk konsolidasi organisasi dan evaluasi segala kegiatan yang harus dilaksanakan selama lima tahun yang merupakan beban yang sangat berat terhadap pengurusan untuk menjalankan roda organisasi dengan aktif dan progresif.

“Alhamdulillah terwujudlah kesuksesan dan kemajuan yang betul-betul bisa dibuktikan dan dirasakan oleh masyarakat muslim. Maka Musda MUI ini merupakan forum musyawarah tertinggi di Kabupaten Probolinggo dan merupakan nuqthoh inthilaq. Yaitu batu loncatan untuk lebih majunya dalam melaksanakan tugas, terutama pengurus yang akan datang, baik ke dalam maupun keluar sesuai dengan program kerja MUI,” katanya.

Program kerja MUI tersebut diantaranya selalu aktif mengadakan rapat pengurus untuk membicarakan tentang perlindungan aqidah Islamiyah dengan amar ma’ruf nahi munkar khususnya dalam menangkal penyebaran aliran sesat dan melaksanakan koordinasi antara ulama dan umaro dan ormas Islam serta dengan pejabat pemerintah lainnya di wilayah Kabupaten Probolinggo.

“MUI juga bekerja sama dengan lembaga kemasyarakatan untuk pembinaan narapidana, Dinas Pendidikan dan kepolisian untuk ikut menjaga ketenangan masyarakat, Kantor Kementerian Agama terutama urusan jamaah haji serta Pemerintah Kabupaten Probolinggo sebagai mitra kerja terutama dalam mengatasi wabah virus Corona, pencegahan penularannya dan tata cara pemulasaraan/tajhis janazah bagi yang terpapar Covid-19 sesuai dengan Fatwa MUI,” jelasnya.

Menurut Kiai Munir, inilah sebagian program kerja MUI yang telah dilaksanakan bahkan kurang lebih 90% yang sudah terlaksana, baik oleh pengurus harian atau oleh komisi-komisi yang semuanya merasa bertanggungjawab demi majunya dan suksesnya MUI Kabupaten Probolinggo.

“Kebahagiaan itu terasa semakin mendalam, jika kita ingat perjalanan MUI diantara periode ke periode. Bahkan sampai hari ini bukan tanpa tantangan dan hambatan, akan tetapi berkat tekad dan keikhlasan semua pengurus,” pungkasnya.

Sementara Ketua Umum MUI Provinsi Jawa Timur KH Abdusshomad Buchori menyampaikan MUI itu milik umat Islam dan bukan milik golongan. Meskipun demikian ormas Islam ikut memiliki MUI karena turut serta mendirikan MUI.

“MUI kepada pemerintah ini sebagai mitra atau teman kerja sebagai pelayan ummat. Namanya teman ya diingatkan apabila salah dan jangan mendukungnya. Tentunya itu untuk kebaikan bersama. MUI itu merupakan wadah umat Islam, dimana pengurusnya berasal dari latar belakang yang berbeda-beda,” ungkapnya.

Menurut Kiai Abdusshomad, peran MUI adalah mewarisi tugas nabi untuk disampaikan kepada ummat. MUI juga berperan untuk menjaga ummat, sehingga apabila terjadi pertentangan MUI harus ambil kompromi untuk mendamaikannya.

“MUI tidak bisa didikte oleh siapapun dan tidak boleh merusak. Tugasnya adalah amar ma’ruf nahi munkar. MUI bukan organisasi politik, tetapi harus mengerti politik. Mari di MUI istiqomah, masih banyak ulama yang masih tekun memperjuangkan Islam. Jangan sampai MUI berubah, karena MUI itu pertahanan,” pungkasnya. (Mahmudi)

SEKILAS MEDIA