Olahraga

Gala Siswa Indonesia Dinilai Ideal Anti Manipulasi, NAMUN DI EDISI NASIONAL KE-1 PERLU PEMBENAHAN KOORDINASI

×

Gala Siswa Indonesia Dinilai Ideal Anti Manipulasi, NAMUN DI EDISI NASIONAL KE-1 PERLU PEMBENAHAN KOORDINASI

Sebarkan artikel ini

               SMPN 2 dan SMPN 4 Mojokerto
Reporter: tim
Editor: Siswahyu

JAKARTA (sekilasmedia.com) Liga Sepakbola Siswa Indonesia atau Gala Siswa Indonesia, GSI, yang sempat ada lantas vakum, kemudian digerakkan kembali dengan keprihatinan Presiden RI Joko Widodo soal kenapa sepakbola Indonesia yang berpenduduk besar sekitar 262 juta jiwa kok kalah dengan Australia yang berpenduduk hanya sekitar 24 juta jiwa?

*HARUS SERIUS DIDUKUNG DIKNAS DAERAH-DAERAH*
Dari keprihatinan itu, diterjemahkan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Mujadjir Effendy maka lahirlah kembali Gala Siswa Indonesia yang diharapkan lebih serius didukung Dinas-Dinas Pendidikan seluruh Indonesia bersinergi dengan Komite Olahraga Nasional Indonesia dan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia. Yang untuk tahun 2018 ini fokus pada sekolah SMP dengan berbagai pertimbangan, termasuk faktor ideal untuk pembinaan pesepakbola junior anak-anak.

Level GSI pun dimulai dari tingkat kecamatan, lalu kabupaten/kota, kemudian ke level provinsi September 2018, dilanjut level nasional pada Oktober 2018. Bahkan tim Sang Juara akan dimasukkan Pelatnas untuk dikirim ke level internasional.

*HARUSNYA DIDAPAT BANYAK HAL IDEAL*
Dengan melihat ‘format’ semacam itu, untuk kalangan siswa SMP serta berjenjang dari kecamatan hingga nasional bahkan internasional, harusnya didapat banyak hal ideal.

Misal soal pilihan usia SMP yang merupakan transisi junior anak-anak menuju remaja, usia 13-14-15, yang selama ini sangat jarang mendapatkan perhatian untuk suatu turnamen atau kompetisi formal apalagi yang dihelat oleh negara beserta jajaran perangkatnya hingga ke bawah. Dengan begitu pengawasan dan pembinaan harusnya lebih mudah, dan harusnya bisa lebih berhasil dibanding kejuaraan-kejuaraan lain, misal kejuaraan antar Sekolah Sepakbola atau SSB dan sejenisnya ‘diluar’ jalur negara.

*EFEKTIF UNTUK ANTI PENCURIAN UMUR*
Dengan melalui jalur sekolah juga akan didapat efektivitas yang ideal untuk sangat meminimalisasikan PENCURIAN UMUR yang selama ini marak banyak dilakukan oleh pelatih dan ‘klub’ atau Sekolah Sepakbola yang kongkalikong dengan panitia kejuaraan.

Sebab dengan jalur sekolah, data diri siswa lebih terjamin validitasnya. Jika akan melakukan manipulasi misal, maka diperlukan rekayasa yang luar biasa sulit dan akan mudah terlacak untuk dimasukkan ke wilayah pidana. Tentu guru dan pihak sekolah, yang kebanyakan sebagai PNS, akan berpikir ribuan kali untuk terlibat hal-hal semacam itu.

BACA JUGA :  EMBA Dukung Sport Tourism Kota Malang Lewat Event “EMBA Run Malang 10K”

*PERLU WASPADA JIKA WASIT DAN PERANGKAT PERTANDINGAN DIMAINKAN*
Celah untuk manipulasi lainnya untuk tidak fairplay masih ada, yaitu ‘main-mata’ atau memainkan wasit dan perangkat pertandingan lainnya misal dengan cara tidak adil atau memaksakan hasil pertandingan untuk kemenangan tim tertentu.

Untuk itu Kemendikbud harus tegas terhadap perangkat-perangkat dibawahnya, hingga Diknas di daerah-daerah, agar tidak mencoreng ide bagus Presiden Jokowi dalam GSI yang baru digulirkan kembali untuk pertama kalinya ini. Jika terjadi manipulasi semacam itu, maka GSI bisa tergelincir seperti turnamen atau liga lainnya yang terlanjur negatif.

*PERLU KEWASPADAAN DIKNAS DAERAH-DAERAH*
Untuk menjaga agar GSI bisa menjadi ‘contoh’ bagi yang lain, maka Mendikbud harus benar-benar bisa mengendalikan para Diknas daerah agar benar-benar adil dan waspada dalam menggelar GSI terutama soal fairplay. Ini sepakbola, dan ini diadakan bersama lembaga-lembaga sekolah! Harus jauh lebih fairplay.

Namun bagaimana pelaksanaan GSI tahun 2018 ini, yang untuk bulan-bulan ini sedang memutar tingkat kecamatan dan ada pula yang sudah menginjak level Kabupaten/Kota?

*PERLU PEMBENAHAN KOORDINASI*
Banyak pihak, termasuk peserta dan pemerhati sepakbola bahkan guru yang mengeluhkan soal GSI di daerah-daerah terutama mengenai lemahnya koordinasi panitia yang dari Diknas beserta jaringan pelaksananya di daerah, untuk level kecamatan maupun level Kabupaten/Kota.

Sehingga momentum kebangkitan GSI dari ide Presiden Jokowi yang memiliki banyak keidealan itu, dalam pelaksanaan di daerah tak jarang terkesan asal-asalan termasuk untuk sejumlah kawasan Jabodetabek yang lokasinya dekat dengan Jakarta ibukota negara. Juga di Jawa Timur maupun di berbagai daerah lain. Lebih parah lagi di Daerah Istimewa Aceh dan Nusa Tenggara Timur, banyak yang belum mendapatkan sosialisasi. Padahal sosialisasi jauh-jauh hari itu penting agar tiap tim SMP bisa lebih menyiapkan diri.

                            SMPN 1 Talun Blitar

*KELUHAN DARI JABODETABEK DAN JAWA TIMUR*
Keluhan lemahnya koordinasi GSI di berbagai daerah juga terungkap di Jabodetabek. “Sebelum ada GSI secara nasional ini, di Bekasi sudah ada Gala Siswa yang dilaksanakan secara lokal sendiri. Juga di daerah sekitar. Namun dengan adanya GSI  yang secara nasional, kok koordinasi jadi kurang?” ungkap Yadi Iyus yang biasa mengadakan even-even sepakbola junior anak-anak di Jabodetabek dan mengikuti koordinasi Dinas yang kurang sinkron.

BACA JUGA :  Ultah KONI ke-87, Ratusan Pecatur Ambil Bagian di Open Turnamen Catur Walikota Cup 2025

Hal kurang lebih sama diungkapkan Samsul sekretaris Asskab PSSI Gresik yang menilai Diknas dan jajarannya kurang serius dalam persiapan GSI, termasuk soal koordinasi dan standar pelaksanaan.

*BANDUNG MULAI MELAKSANAKAN PADA 3 MARET*
Standar pelaksanaan diantaranya menyangkut perangkat penunjang seperti lazimnya suatu even turnamen atau liga sepakbola junior anak-anak. Misal yang kurang diperhatikan, soal ketersediaan tenaga keamanan yang penting untuk antisipasi hal-hal yang tak diinginkan. Juga tidak ada standar medis yang jelas, misal tanpa ada tenaga medis khusus yang stand by.

“Kalau di Bandung, dimulai sejak 3 Maret 2018 meskipun serasa mendadak,” ungkap Lussy Susanti pegiat sepakbola di Bandung Jawa Barat seraya menyebut sejumlah kecamatan yang telah memulai GSI setiap Sabtu termasuk sejumlah kecamatan ini: Arcamanik, Antapani, Ujungberung, Cibeunying Kidul, Panyileukan dan Mandalajati.

*KABUPATEN BLITAR MEMASUKI BABAK 8 BESAR*
Sejumlah daerah yang telah memulai level kecamatan selain Kabupaten Bandung, juga di sejumlah daerah lain di Jawa Timur seperti Kabupaten Gresik, Kota Mojokerto, Kabupaten Blitar dan Kabupaten Malang. Bahkan untuk Kabupaten Blitar menjelang memasuki Babak 8 Besar.

Beberapa tim SMP yang menyongsong Babak 8 Besar di Kabupaten Blitar diantaranya adalah SMPN 2 Wlingi, SMPN 2 Gandusari, SMPN Ponggok dan SMPN 1 Kesamben. “Kami senang dengan adanya GSI ini. Harapan kami, ini menjadi awal yang baik,” ungkap Yudianto guru ekstra sepakbola SMPN 1 Talun Blitar yang juga aktif di SSB Panji Laras.

                                   Hardiansyah

*KADISDIK KOTA MOJOKERTO BELUM BERI KONFIRMASI*
Daerah lain yang sedang berjalan melaksanakan GSI 2018 adalah Kota Mojokerto, yang dilaksanakan secara simultan di GOR A.YANI Mojokerto. Banyak pihak yang berharap GSI ini berlangsung lebih fairplay.

Namun Kadisdik Kota Mojokerto, Novi Rahardjo, belum memberi jawaban meskipun beberapa kali dikonfirmasi via seluler soal harapannya pada GSI ini. Begitupun jajaran Diknas yang lain. “Sesuai permintaan Mendikbud maka Diknas-Diknas daerah dan pihak terkait harus mengawal GSI ini hingga ke level provinsi dan seterusnya,” ungkap sejumlah sumber. Pendapat Anda? Sms atau WA kesini= 081216271926.