TENTARAKU

Koramil 09820/22 Dringu Kembali Bedah Rumah Warga Miskin

×

Koramil 09820/22 Dringu Kembali Bedah Rumah Warga Miskin

Sebarkan artikel ini
Koramil 09820/22 Dringu Kembali Bedah RUmah Warga Miskin
foto proses bedah rumah warga
Koramil 09820/22 Dringu Kembali Bedah RUmah Warga Miskin
foto proses bedah rumah warga

Probolinggo, Sekilasmedia.com – Cuaca hari ini sangat panas, matahari bersinar terang disertai dengan angin bertiup kencang, namun hal ini tidak membuat Ibu Arifah janda paruh baya yang tidak punya anak ini untuk segera berangkat beraktifitas, ibu Arifah hanya duduk didepan rumahnya dengan sesekali memandang rumahnya yang baru selesai di renovasi oleh anggota TNI dari Koramil 0820/22 Dringu, senyum bahagia jelas terlihat dari wajah tuanya, pekerjaan kesehariannya ia habiskan hanya mencari sisa-sisa orang panen bawang ataupun padi, hasilnya dia jual untuk menyambung hidupnya, terkadang juga dia menjadi buruh tani untuk bekerja disawah. Tapi hari ini dia ingin benar benar beristirahat. Rabu, ( 27-11-19)

Awal cerita adalah pada waktu itu ada program RTLH ( Rehap Rumah Tidak Layak Huni ) Tahap XV Tahun 2019 dari Pemprov Jatim yang bekerja sama dengan Kodam V Brawijaya, dengan adanya kegiatan tersebut, Danramil 0820/22 Dringu langsung memerintahkan anggotanya untuk mencari rumah sasaran calon penerima bantuan, dengan tidak berpikir panjang para Babinsa langsung mencari sasaran didesanya masing masing tidak terkecuali Sersan Dua Supriadi Babinsa Desa Tamansari Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo. Babinsa kelahiran Probolinggo ini tidak merasa kesulitan karena dia memang sangat fasih dalam berbahasa madura yang dijadikan bahasa sehari hari oleh warga Desa Tamansari. Salah satu yang dia dapatkan adalah Rumah ibu Arifah warga Dusun Sumberkepoh Rt 02 Rw 07 Desa Tamansari Kecamatan Dringu. Dia tinggal dalam rumah yang sama sekali tidak ada sekat pemisah antara ruang tamu, dapur, kamar tidur ataupun kamar mandi. Yang lebih memprihatinkan lagi dia tinggal bersama kambing piaraanya dalam satu rumah.

BACA JUGA :  Wali Kota Tampung Aspirasi Sopir Angkot Terkait Transportasi Online

Ketika ditawari oleh Babinsa untuk diberi bantuan untuk rehap rumah, wanita tua ini langsung memeluk babinsa dengan berlinang air mata pertanda rasa haru dan bahagia dengan berkata ” Alhamdullah,,Le,, emak di bantu ( Terima kasih nak,, emmak dibantu).

Sebenarnya melihat kondisi rumah yang sangat memprihatinkan itu dengan alokasi dana yang ada, jelas tidak cukup untuk merenovasi rumah janda yang tak tau dia berumur berapa, namun bila kita lihat raut wajahnya berkisaran umur 60 tahunan.

Hari pembongkaran rumahpun tiba, kami terkejut seluruh genteng diturunkan dan seluruh dinding rumah yang terbuat dari anyaman bambu ( gedek bahasa Jawa ) dibongkar karena ibu ini minta rumahnya digeser sedikit karena kalau musim penghujan air limbah rumahtangga dari rumah tetangganya masuk kedalam rumahnya, karena memang posisi rumahnya lebih tinggi dari posisi rumah ibu Arifah. Masih beruntung rumah ibu ini ukurannya tidak terlalu besar, sesuailah dengan ukuran rumah yang kami cari 4 X 6 meter sesuai petunjuk dari Komando atas.

BACA JUGA :  Berikan Rasa Aman, Babinsa Pandanwangi Berikan Pendampingan Penyaluran BLT-DD

“Sebanarnya kami hanya merehap bagian depan dan mengganti dinding bambu dengan calsibolt yang kami dapat dari satuan atas dengan membuatkan kamar dengan ukuran sederhana.” ujarnya salah satu anggota Koramil Dringu.

“Kami tidak punya waktu banyak untuk mengerjakan rumah ini, hanya punya waktu 6 hari suatu hal yang mustahil bila kami bahas, namun kami dilapangan harus tetap bekerja dengan dibantu saudara dan para tetangga.” tambahnya.

Untuk sementara waktu ibu Arifah harus menumpang dirumah saudaranya untuk bermalam karena rumahnya sedang kami bongkar. Setiap hari kami bekerja dengan canda tawa dengan masyarakat yang membantu termasuk dengan ibu Arifa pemilik rumah, tidak ada lagi jarak antara kami dengan orang yang biasa memanggil kami dengan sebutan “Bapak Tentara” saat itu kita bisa bercanda lepas tanpa ada pembatas termasuk ibu Arifa yang setiap memanggil kita dengan sebuta ” Le” ( Tole ) bahasa jawa atau “Anak” dalam bahasa Indonesia. Kami bercengkrama sambil bekerja kadang berlogat jawa terkadang madura yang kami bisa sedikit sedikit bercampur tanpa mengunakan tata bahasa lagi.

Tak terasa dengan obrolan dan canda tawa kami setiap hari yang tanpa penghalang antara kami dengan warga, pekerjaanpun dapat kami selesaikan dengan baik.(fahrul)