Daerah

Sekda Kota Probolinggo Pimpin Rilis Inflasi, Warga di Himbau Tak Lakukan Panic Buying

×

Sekda Kota Probolinggo Pimpin Rilis Inflasi, Warga di Himbau Tak Lakukan Panic Buying

Sebarkan artikel ini

 

Probolinggo, Sekilasmedia.com – Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Probolinggo yang dipimpin Sekda Kota drg. Ninik Ira Wibawati di Radio Suara Kota, Selasa, (17/03) sampaikan rilis hasil inflasi. Daging ayam ras menjadi penyumbang utama terjadinya inflasi di Kota Probolinggo.

“Kenaikan dari harga daging ayam ras di bulan Februari lalu, menjadi faktor utama penyumbang inflasi,” ujarnya.

Sedangkan komoditas yang jadi penghambat inflasi antara lain ikan tongkol/ikan ambu-ambu, tomat, cabai rawit, dan bawang merah.

Ditengah maraknya pemberitaan mengenai virus corona akhir-akhir ini, Sekda mengimbau masyarakat agar tidak panik dan khawatir serta tidak melakukan panic buying atau pembelian secara berlebihan karena panik.

BACA JUGA :  Bupati Gresik Minta IKA PMII Gresik Jaga Sinergitas Dan Berkontribuasi

“Semoga ancaman virus ini tidak berlangsung lama dan dapat segera teratasi sehingga tidak berpengaruh pada laju inflasi mendatang. Serta kami imbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak melakukan aksi panic buying,” pesannya.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Probolinggo mencatat inflasi Februari 2020 sebesar 0,39 persen, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 103,42 persen. Dimana dari delapan kota di Jawa Timur, seluruhnya mengalami inflasi.

“Seluruh kota IHK mengalami inflasi. Dan Kota Probolinggo adalah kota kedua tertinggi setelah Jember,” kata Ka. BPS Kota Probolinggo, Adenan.

Jika dibandingkan dengan tingkat inflasi tahun kalender dari Januari-Februari 2020, Kota dengan ikon Seribu Taman itu masuk dalam kategori kota dengan inflasi tahun kalender sebesar 0.41 persen. Laju kalender tahun kalender sebesar 0,79 persen dan laju inflasi tahunan 2,55 persen.

BACA JUGA :  Meninjau Distribusi Minyak Goreng Curah di Pasar Lemabang

Dari 11 kelompok pengeluaran, lanjutnya, delapan kelompok pengeluaran mengalami inflasi dan sisanya stabil. Kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi tertinggi adalah kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 1,02 persen, diikuti kelompok kesehatan sebesar 0,77 persen.

“Sedang kelompok yang tidak mengalami perubahan adalah kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan, kelompok rekreasi, olahraga dan budaya, serta kelompok pendidikan,” tuturnya.(fahrul mozza)