Ki Surya Prana  Sebut Lawan Dominasi PKB – Iin, PDIP – Sumi “Intensifikasi” Kelana Aprilianto Di Pilbup Sidoarjo

×

Ki Surya Prana  Sebut Lawan Dominasi PKB – Iin, PDIP – Sumi “Intensifikasi” Kelana Aprilianto Di Pilbup Sidoarjo

Sebarkan artikel ini

 

Foto: Ki Surya Prana DN, Iin, Kelana Aprilianto, Sumi Harsono.

Sidoarjo, Sekilasmedia.com – Ki Surya Prana Dharma Nusantara tetap melihat kekuatan besar dari keluarga Mas Iin (Ahmad Amir Aslichin) yang mendominasi PKB Kabupaten Sidoarjo, sehingga penting menjadi catatan bagi Kelana Aprilianto yang digadang-gadang maju Calon Bupati Sidoarjo 2010 oleh PDIP, juga penting menjadi perhatian oleh Sumi Harsono selaku Ketua DPC PDIP Sidoarjo yang menggantikan ketua sebelumnya, Tito Pradopo.

Apalagi PKB Sidoarjo memiliki kader internal yang melimpah untuk Pilbup 2020, tidak hanya Iin, namun ada nama lain yaitu Ahmad Muhdlor Ali (Gus Muhdlor) putera KH.Agoes Ali Mashuri salah satu kyai kharismatik Jatim asal Sidoarjo, juga ada nama Nur Ahmad Syaifuddin (Cak Nur) yang kini menjabat plt. Bupati Sidoarjo. Hal tersebut kurang-lebih disampaikan Ki Surya Prana Dharma Nusantara pemerhati politik Majapahit Nusantara Untuk Indonesia, dalam diskusi terbatas kemarin (20/06/2020).

Selain itu, menurut Ki Surya Prana DN, di Sidoarjo dalam dua kali Pemilu berturut-turut PKB juga menjadi juara dan jumlah kursinya selalu naik signifikan, pada Pemilu 2014 meraih 13 kursi (padahal Pemilu 2009 baru meraih 10 kursi) sementara pada Pemilu 2019 meraih 16 kursi. Hal tersebut dilengkapi kemenangan dua kali berturut-turut dalam Pilbup-nya, yaitu tahun 2010 dan 2015. “Kemenangan beruntun oleh PKB Sidoarjo dalam Pemilu 2014 dan 2019 serta Pilbup 2010 dan 2015 tersebut, minimal menunjukkan betapa solidnya PKB di Sidoarjo dan perlu dicermati bagi yang ingin melawan dan mengalahkan dominasi PKB. Jadi Kelana Aprilianto dan PDIP – Sumi berserta kawan-kawan harus lebih intensifikasi. Jika tidak, maka sulit,” tegas Ki Surya Prana DN.

BACA JUGA :  Gus Ton Ajak Jelang Idul Fitri Dan Sesudahnya, Penting Istiqomah Dalam Kebaikan

Menurut Ki Surya Prana Dharma Nusantara, dengan melihat berbagai sudut pertimbangan tersebut, sehingga sangat penting agar segera DPP PDIP menurunkan rekom untuk jagonya, jika memang yang ditunjuk misal adalah Kelana Aprilianto sebagai Sidoarjo-01, atau siapapun jagonya. Agar PDIP – Sumi Harsono lebih bisa maksimal melakukan intensifikasi Kelana Aprilianto kolaborasi jaringan PDIP dkk, agar tidak terlalu panjang ‘pemanasan’ sehingga kehabisan nafas, dan agar tidak ragu-ragu lagi, jika ingin mengimbangi dominaai PKB. Apalagi PDIP yang memiliki sembilan (9) kursi masih memerlukan tambahan minimal satu (1) kursi jika ingin mengusung Cabup – Cawabup. Dan PDIP di Sidoarjo juga kelihatan kekurangan kader internal untuk sekelas Pilbup Sidoarjo.

Lantas apakah mungkin DPP PDIP memunculkan jago lain, misal ‘drop-dropan’ dari pusat? Jika mengacu lingkungan partai politik dan kecenderungan politik yang berkembang hingga saat ini sangat pragmatis, hal tersebut menjadi sangat mungkin-mungkin saja.

BACA JUGA :  PWI Perwakilan Probolinggo Gelar Pelantikan Pengurus

Namun jika turunnya rekom dalam waktu terlalu mepet, maka sulit bagi PDIP untuk menang dalam Pulbup Sidoarjo 2020. Sidoarjo milik PKB, dan Sidoarjo bukanlah Surabaya dimana di Surabaya sangat didominasi PDIP meskipun saat ini muncul banyak tanda-tanda perpecahan internal.

Dalam kesempatan terpisah diskusi terbatas di Surabaya kemarin, Siswahyu Kurniawan penulis buku Bung Karno Dan Pak Harto kurang lebih sepakat dengan yang disampaikan Ki Surya Prana DN, jika PDIP ingin menang dalam Pilbup Sidoarjo 2020 maka harus lebih siap agak jauh-jauh hari, agar bisa melakukan intensifikasi untuk menang. Meskipun lawan yang dihadapi PDIP bukanlah hanya dominasi PKB.

Menurut Siswahyu Kurniawan jika PKB (16 kursi) usung jagonya sendiri (Muhdlor – Iin?), lalu PDIP (9 kursi) dan PPP (1 kursi) usung Kelana Aprilianto – M. Bahrul Amiq, maka diantara musuh besar lainnya adalah Bambang Haryo Soekartono (BHS) yang justru bisa jadi kuda terkuat yang untuk sementara didukung Gerindra (7 kursi) dan Golkar (4 kursi). Jika misal untuk sementara tiga ‘paket’ tersebut yang muncul, maka masih tersisa tigabelas (13) kursi yang bisa digunakan untuk usung Cabup-Cawabup lain asalkan kompak, terdiri dari PAN (5 kursi), PKS (4), Demokrat (2), Nasdem (2). Meskipun konon ada kemungkinan PAN gabung ke PDIP. (Siswahyu).