
LUMAJANG, Sekilasmedia.com–
Kelangkaan Pupuk bersubsidi membuat Warga petani di Lumajang mengeluhkan hal tersebut, dimana mereka mengeluhkan susahnya bertani disaat Pandemi Covid-19 yang di alami seluruh penjuru dunia.
Imam salah satu petani mengatakan, Akibat langkahnya pupuk dan obat-obatan pertanian yang mahal, penderitaan mereka semakin lengkap, manakala mahalnya biaya produksi yang sangat murah.
“Informasinya, kuota pupuk memang dikurangi, Namun, faktanya di lapangan, pupuk justru tidak ada. Saya sendiri beli pupuk sampai ke Jember,” ungkap petani Lumajang Imam, Senin (12/10/2020).
Menurut Imam, sekarang ini biaya produksi terlalu mahal jika dibandingkan dengan hasil produksi. Bahkan, dalam dua kali panen, dirinya masih merugi. “Saya tanam padi dua kali, rugi semua,” ujarnya.
Ditambahkan, harga pupuk urea yang biasanya dijual Rp100 ribu, kali ini mengalami kenaikan sampai dikisaran angka Rp 300 ribu. Malahan untuk harga obat-obatan pertanianpun sama mahalnya.
“Bukan saya saja, yang merasakan mahalnya harga, Petani lainpun sekarang ini juga sama menjeritnya. Harga tomat saja sekarang ini harga jualnya cuma Rp 1000 rupiah,” Imbuhnya.
Umi salah satu pedagang di pasar baru Lumajang juga membenarkan hal tersebut, Seperti harga jual tomat di Pasar Baru, dipatok dengan harga Rp 2.000 rupiah per kilo.
“Untuk harga tomat, per kilonya seharga Rp 2.000 rupiah,” Kata seorang penjual,” Pungkasnya. (Maria)





