Siswahyu Kurniawan Persilakan Pelajar Kirim Ide Soal Desa Serta Puisi Soal Eyang Djoego Gunung Kawi & Pangeran Diponegoro

×

Siswahyu Kurniawan Persilakan Pelajar Kirim Ide Soal Desa Serta Puisi Soal Eyang Djoego Gunung Kawi & Pangeran Diponegoro

Sebarkan artikel ini
Siswahyu Kurniawan, (ilustrasi) Pangeran Diponegoro, Gus Haji Mas Sulthon (Gus Ton), (acara) Napak Tilas Eyang Djoego, AA Ngurah Agung Wira Bima Wikrama, dan Pak Djito.

(….”Bisa peluang dapat beasiswa atau hadiah. Silakan pelajar SMP/SMK sederajat, kirimkan satu karya tulis ringkas ide mengenai DESA, serta tiga buah karya puisi dengan masing-masing tema berbeda misal ada yang mengenai DESA, ada yang mengenai Eyang Djoego Gunung Kawi Dan Pangeran Diponegoro, serta ada yang mengenai Silaturahmi Budaya Ujung Galuh-Canggu Surabaya-Mojokerto Raya Majapahit, mengenai sehubungan NU, sehubungan sepakbola/pemuda atau yang lain.

Tokoh Jatim yang dekat Eyang Djoego diantaranya Gus Haji Mas Sulthon yang peduli sosial. Sedangkan Pak Djito getol soal Silaturahmi Ujung Galuh-Canggu,” ungkap Siswahyu Kurniawan penulis sejumlah buku puisi, seraya mengarahkan karya tulis dan karya puisi para pelajar tersebut agar dikirim ke nomer WA 081216271926 dan sekaligus dikirim ke alamat email: kurniawansiswahyu@gmail.com …..).

SURABAYA, Sekilasmedia.com – “Kalau nanti ada Penulis yang berbakat (dari hasil tulisan pelajar SMP/SMA yang dikirim kepada Siswahyu Kurniawan, red.) bisa tampil di Festival saya, Ubud Writers And Readers Festival/UWRF (di Bali, red.).

Banyak penulis Indonesia punya reputation internasional setelah tampil di Ubud Writers And Readers Festival,” ungkap dukungan kepada Siswahyu Kurniawan dari Doktor Drs I Ketut Suardana yang bersama isterinya, Janet De Neefe (asal Australia), mendirikan Yayasan Mudra Swari Saraswati (sudah belasan tahun) yang peduli kepada para penulis muda yang sekaligus penyelenggara Ubud Writers And Readers Festival yang tiap tahun diadakan di Ubud Bali pada bulan Oktober/November dengan peserta ratusan dari seluruh dunia. Dr Drs I Ketut Suardana yang juga ketum PSSI Bali, dan (isterinya) Janet De Neefe, bahkan sudah membantu banyak penulis muda go internasional.

*****

Situasi pandemi Covid-19 di Indonesia sejak bulan Maret 2020 yang lalu hingga kini (Januari 2021), yang berarti sudah berjalan hampir satu tahun (menginjak bulan ke-11), dimana para pelajar dari tingkat yang terendah hingga yang tertinggi (termasuk mahasiswa) dalam menjalani proses belajar-mengajar adalah dengan mayoritas waktu (kalau tidak boleh dibilang hampir semua) dengan cara online via internet (daring). Alias sangat minus ‘suasana’ tatap muka pertemuan yang seharusnya penuh aktivitas, interaktif, dialogis. Kurang lebih hal tersebut diungkapkan Siswahyu Kurniawan penulis buku puisi dan buku biografi Asmuni-Srimulat (salah satu pelawak Indonesia berkarakter khusus terbaik), dalam diskusi terbatas kemarin (28/01/2021) di Surabaya.

Menurut Siswahyu Kurniawan yang juga penulis buku biografi Mardjito GA (Ketua Umum Puskud Jatim yang pernah jadi anggota DPD RI, Komisaris Bank Bukopin, serta Sekretaris Umum Induk KUD pusat, red.) suasana proses belajar dengan nyaris full daring, menjadikan jenuh para siswa maupun para guru pendidik, yang bahkan menjadikan ketidak-puasan diantara mereka namun seperti tak berdaya. Masih menurut Siswahyu Kurniawan bahkan hal tersebut meningkatkan stres masyarakat secara drastis apalagi banyak sendi-sendi ekonomi mereka yang berantakan namun belum mendapat ‘perhatian’ yang memadai dari pihak-pihak terkait.

“Banyak guru pendidik yang mengeluh atas situasi-kondisi ini, yang seolah mencekam yang malah menjadikan stres namun mereka tak berani mengungkapkan kepada pihak-pihak terkait. Menurut mereka, sudah ada Protokol Kesehatan terutama soal Mencuci Tangan, Memakai Masker, dan Menjaga Jarak meskipun soal kena penyakit ataukah tidak merupakan hal diluar kemampuan masing-masing manusia. Kena penyakit ataukah tidak itu sebenarnya ‘kan diantara manusia pasti ada yang kena penyakit meskipun tidak dalam pandemi Covid-19. Jadi soal belajar tatap muka di sekolah mestinya juga bisa dilaksanakan namun dengan diatur misal jumlah masuknya siswa digilir, pada hari ganjil 50 persen siswa dan pada hari genap juga 50 persen siswa, dan tidak harus tiap hari. Jika bisa seperti itu, minimal bisa mengurangi stres,” ungkap Siswahyu Kurniawan seraya menyebut banyak guru dan masyarakat yang berseloroh bahwa selama Covid-19 malah menjadikan goblok. Apakah ini juga tujuan dari pihak asing memanfaatkan situasi untuk melemahkan kita?

Diantaranya karena situasi-kondisi semacam itu, Siswahyu Kurniawan lantas ingin ikhtiar berpartisipasi ikut memberi aktivitas kepada para siswa dengan harapan bisa ikut mengurangi stres, namun ada saluran positif. Para siswa SMP/SMA dan yang sederajat dipersilakan membuat karya tulis yang bisa dikirim ke pihaknya melalui WA dan sekaligus alamat email, meskipun tanpa harus bertatap muka terlebih dahulu. Siswahyu Kurniawan ada ide memberi kesempatan para pelajar, kali ini untuk SMP/SMA dan yang sederajat, untuk mengirimkan berbagai karya tulis misal satu tulisan ide soal desa, dan (minimal) tiga (3) buah karya puisi dengan masing-masing berbeda tema. Karya tulis dikirimkan ke WA 081216271926 sekaligus dikirim ke alamat emailnya kurniawansiswahyu@gmail.com

Ide tersebut juga dipicu karena pada bulan Juli 2021 sudah memasuki Tahun Ajaran Baru 2021/2022, serta karena diantara bulan Januari-Juni 2021 terdapat berbagai peringatan hari-hari besar yang kemungkinan tidak bisa diperingati dengan tatap muka. Sehingga diharapkan ide mengirimkan karya tulis melalui WA dan sekaligus email tersebut juga bisa dimanfaatkan untuk mengisi peringatan-peringatan meskipun tanpa tatap muka. Di antara peringatan-peringatan tersebut misal yang berhubungan dengan Nahdlatul Ulama, ada Harlah NU yang lahir 31 Januari 1926, HUT Muslimat NU yang lahir 29 Maret 1946, HUT Fatayat NU yang lahir 24 April 1950, HUT Persatuan Guru NU (PERGUNU) yang lahir Mei 1952. Misal lainnya memperingati haul Pangeran Diponegoro yang wafat 8 Januari 1855 serta haul Kyai Zakaria II (Eyang Djoego) Gunung Kawi (‘orangnya’ Pangeran Diponegoro) yang wafat 22 Januari 1871 dan haul R. Iman Soedjono yang wafat 8 Februari 1876.

Misal lainnya yang berhubungan dengan pers (media), ada Hari Pers Nasional 9 Februari dan Hari Pers Sedunia 3 Mei. Kemudian yang berhubungan dengan desa ada HUT Lembaga Sosial Desa 5 Mei dan Hari Krida Pertanian. Sedangkan yang berhubungan dengan wanita, ada HUT Muslimat NU, HUT Fatayat NU, Hari Perempuan Internasional 8 Maret, Hari Wanita Indonesia 9 Maret, HUT Hari lahir Aisyiyah Muhammadiyah yang lahir 19 Mei 1917. Ada pula yang berhubungan dengan Kota Denpasar Bali dan Puri Satria Denpasar (Puri Denpasar) dimana tanggal ulang tahun Kota Denpasar diambil dari tanggal lahir Puri Satria yaitu 27 Februari 1788. Selain itu pada tanggal 21 Maret merupakan Hari Puisi Sedunia, dan tanggal 28 April merupakan Hari Puisi Nasional.

BACA JUGA :  Siswahyu Kurniawan: Mimpi Ahmad Sahroni  Jadi Presiden Diawali Banner, Bisa Bukan Mimpi

Karya-karya berupa satu (1) karya tulisan ide soal desa dan minimal tiga (3) karya puisi tersebut ditampung dahulu melalui WA dan email, bisa juga misal sambil dipublikasikan, serta bisa pula pada saatnya akan menjadi bagian lomba dengan menyesuaikan tema mana saja yang paling banyak diminati para peserta yang pelajar SMP/SMA dan sederajat. Namun proses terus sambil berjalan. Dari proses-proses tersebut, ada peluang dapat beasiswa atau hadiah.

Bahkan yang mengejutkan, Siswahyu Kurniawan mengungkapkan bahwa pihaknya sebagian telah mendapat dukungan dari berbagai pihak yang siap ikut memberi penghargaan (hadiah) untuk karya puisi ataupun soal ide desa yang terpilih setelah melalui proses tertentu. Termasuk salah satunya ada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) swasta yang siap memberikan beasiswa di SMK-nya bagi siswa yang terpilih. Penghargaan atau ‘hadiah’ berupa beasiswa itu sudah positif. Bahkan sedang terus dinegosiasikan agar beasiswa penuh itu, bisa ditambah dengan pemberian difasilitasi seperti tempat tinggal jika diperlukan serta suport kehidupan sehari-hari.

Namun menurut Siswahyu Kurniawan, beasiswa SMK tersebut hanyalah salah satu bentuk penghargaan, yang tidak menutup kemungkinan akan ada ‘hadiah-hadiah’ lain dari berbagai pihak lain yang peduli. Termasuk ada pihak yang siap membantu memberi penghargaan jika ada anak yatim piatu yang karya tulisnya ikut terpilih. Sambil berjalan proses pengumpulan (karya puisi dan karya tulis/ringkas ide soal desa, red.) Siswahyu Kurniawan menyebut akan berupaya terus-menerus lobi-lobi dan negosiasi agar ada lebih banyak pihak yang ikut peduli dengan mendukung program tersebut, entah itu secara pribadi maupun sponsor dan CSR yang peduli. Apalagi pada bulan Juli 2021, yang kurang sekitar enam (6) bulan, akan dimulai Tahun Ajaran Baru.

“Kami juga akan coba jajagi kerjasama Bambang Smit Center (BSC, red.) Surabaya yang di dalamnya terdapat jaringan sebagai tim sukses yang ikut memenangkan Walikota Surabaya Eri Cahyadi dan Wakil Walikota terpilih Armuji, juga ada dukungan dari Pro Joko Widodo (Projo) daerah tertentu, ada dukungan dari Pemuda Garuda Bersatu (PGB), MIO, dengan harapan juga akan ada lebih banyak pihak dan swasta yang mendukung,” ungkap Siswahyu Kurniawan yang juga memiliki ide sedang menyiapkan program lain dengan membentuk tim sepakbola untuk anak-anak usia ‘transisi’ 16,17, 18, 19 tahun yang jika memungkinkan dijembatani untuk menjadi pesepakbola profesional yang sekaligus jika sukses lantas ikut peduli memperhatikan terhadap ‘adik-adik’ juniornya, apalagi yang kurang beruntung secara ekonomi.

Sedangkan soal karya tulis dari pelajar SMP/SMA sederajat diberikan kesempatan mengirimkan karya tulisnya via WA 081216271926 yang sekaligus juga diminta dikirim ke alamat email untuk back-up data: kurniawansiswahyu@gmail.com

Karya yang dikirim adalah berupa satu (1) tulisan ringkas ide soal desa, dan (minimal) tiga (3) buah karya puisi yang masing-masing berbeda-beda tema.

Adapun minimal tiga (3) karya puisi yang masing-masing dengan tema berbeda, untuk tema-temanya bisa dipilih diantara yang tertulis di bawah ini.

1) puisi soal pers/media
2).soal desa & transmigrasi
3).soal pendidikan/guru
4).soal perempuan/anak
5).puisi Kebangkitan Nasional

6).puisi anti narkoba
7).Cheers Mari Bersulang
8).puisi soal angkutan/perhubungan
9).soal sepakbola & pemuda
10).puisi Lion-ku

11).puisi sehubungan NU
12).soal Surabaya Raya
13).puisi Garuda-ku
14).soal Bali – Majapahit/Mojokerto Raya
15).soal koperasi/gotong royong

16).puisi tentang Eyang Djoego Gunung Kawi & Pangeran Diponegoro
17).puisi tentang Silaturahmi Budaya Ujung Galuh-Canggu Surabaya-Mojokerto Raya
18).puisi tentang Kota Denpasar Dan (Keraton) Puri Satria Denpasar & Majapahit

“Untuk peserta yang mengirimkan karya, jangan lupa sertakan biodata diri secara ringkas penulis dan foto Sang Penulis,” ungkap Siswahyu Kurniawan, seraya sedikit menambahkan info bahwa HUT Kota Surabaya beriringan dengan HUT Kabupaten Mojokerto yaitu tanggal 31 Mei dan tanggal 9 Mei karena mengambil momentum yang juga beriringan yaitu tanggal 9 Mei 1293 bisa disebut sebagai awal berdirinya Majapahit (yang memiliki pelabuhan utama di Canggu/Sungai Brantas, red.) karena ibaratnya secara ‘diplomasi-kenegaraan’ pada tangga tersebut merupakan awal kemenangan Raden Wijaya (‘perdikan’ Majapahit untuk jadi Kerajaan Majapahit, red.) sedangkan pada tanggal 31 Mei 1293 merupakan puncak kemenangan Raden Wijaya yang bisa mengusir total pasukan Kekaisaran Mongol yang ‘lari’ terbirit-birit pulang balik ke negaranya terutama melalui Pelabuhan Ujung Galuh (Tanjung Perak).

Meskipun untuk peringatan HUT Kerajaan Majapahit sendiri justru mengambil momen 10 November 1293 saat penobatan Raden Wijaya menjadi Raja Majapahit, dimana kemudian Majapahit ‘hidup’ dari tahun 1293 hingga tahun 1527. Sehingga jika berulang tahun (HUT) pada tahun 2021 ini maka bagi Kerajaan Majapahit dan Kota Surabaya serta Kabupaten Mojokerto merupakan HUT ke-728 karena mengambil tahun lahir yang sama yaitu 1293. Sesuatu yang unik. Ada yang unik lainnya, tanggal penobatan Raden Wiajaya menjadi Raja Majapahit pada tanggal 10 November (1293) dimana tanggal 10 November tersebut juga diperingati sebagai Hari Pahlawan yang didasarkan atas peristiwa heroik 10 November 1945 yang terjadi di Surabaya.

Sedangkan soal Pangeran Diponegoro, serta Eyang Djoego (Jugo) Gunung Kawi dan R. Iman Soedjono yang merupakan ‘murid’ Eyang Djoego, juga ada yang unik. Eyang Djoego adalah ‘orangnya’ Pangeran Diponegoro, begitu juga R. Iman Soedjono yang ‘merangkap’ sebagai murid Eyang Djoego. Hal unik diantaranya adalah soal wafat mereka yang tanggalnya saling berdekatan, dan ‘interval’ jumlah harinya sama masing-masing berjarak sekitar setengah bulan, meskipun tahunnya berbeda-beda. Pangeran Diponegoro wafat 8 Januari (tahun 1855), sedangkan Eyang Djoego Gunung Kawi wafat tanggal 22 Januari (tahun 1871). Lalu R. Iman Soedjono wafat tanggal 8 Februari (1876). Dan dari jalur keturunan jika diruntut nyambung dengan Kerajaan Majapahit yang ‘hidup’ pada tahun 1293-1527.

BACA JUGA :  Gus Ton dan Ibunda Yang Berusia 95 Tahun, Rahasia Sukses Gus Ton Pun Terungkap Media

Mengenai kelahiran Kota Denpasar (Bali) juga unik, karena mengambil tanggal berdirinya Puri Satria Denpasar (yang kini dipimpin Tjokorda Manyun Samirana/Raja Ida Tjokorda Denpasar IX yang lahir tanggal 15 Juni 1943, dengan putera sulungnya Dr AA Ngurah Agung Wira Bima Wikrama ST, MSi yang lahir 26 November 1965, red.). Tanggal ‘berdiri’ Kota Denpasar yang mengambil waktu saat berdirinya Puri Satria Denpasar Jalan Veteran adalah 27 Februari 1788, sehingga jika tahun 2021 ini Kota Denpasar dan Puri Satria Denpasar (Puri Denpasar) berulang tahun maka merupakan HUT yang ke-233. Salah satu ‘sesepuh’ Puri Satria pada zamannya adalah sahabat Bung Karno dengan Partai PNI-nya, jauh sebelum ada PDIP. Ternyata pula silsilah Raja Denpasar tersebut juga merupakan keturunan dari Kerajaan Majapahit. Pahlawan nasional Untung Suropati yang wafat di Bangil (Pasuruan, Jawa Timur, red.) pada tanggal 5 Desember 1706 itu secara silsilah masih keluarga dari lingkungan Puri Denpasar tersebut.

“Untung Surapati (Suropati) nama kecilnya adalah Kyayi (Kyai) Alit Made Jambe (Kyai Made Jambe Beribu Pande Karsana Tatasan, red.). Ibunya keluarga Pande di Belaluan. Keturunannya sekarang bapak Ketut Suandi, yang ada hubungan kekerabatan dengan keluarga Pande di Tatasan,” jelas Dr AA Ngurah Agung Wira Bima Wikrama ST, MSi, yang pernah menjadi Wakil Ketua DPRD Denpasar (2009-2014) kepada Siswahyu Kurniawan, seraya menyebut keluarga dari Untung Surapati yang di Bali itu juga dilibatkan jika ada acara-acara besar di Puri Denpasar.

Catatan lainnya dari proses ‘pengumpulan’ karya tulis ringkas ide soal desa dan (minimal) tiga (3) buah karya puisi oleh masing-masing pelajar SMP/SMA sederajat ini, bahwa juga ada beberapa pihak yang sedang terus dijajagi untuk kerjasama peduli ikut memberi penghargaan/hadiah.

Dari salah satu SMK juga siap mendukung program tersebut ataupun jika dikembangkan.

Dalam publikasi ini juga sengaja ikut dimuat sejumlah puisi, hanya untuk sekadar sebagai semacam gambaran ‘contoh’ karya puisi. Juga diberi gambaran ‘contoh’ karya tulis ringkas (maksimal satu halaman ketik dengan spasi 1,5) soal ide mengenai desa.

Gambaran ‘contoh’ karya tulis ringkas, ide soal desa. Dengan judul: Ide BUMDes Untuk Desa Kami.

*Ide BUMDES Untuk Desa Kami*
Kebetulan saya memiliki kenalan di desa sebelah yang bisa diajak ngobrol ngalor ngidul dan diskusi yang positif. Hingga pada suatu saat, saya dan teman saya mendapatlan pemikiran bahwa desa-desa kami yang cukup terisolasi, harus berani membuat terobosan dengan membuka akses jalan sendiri, namun juga sekaligus dimanfaatkan untuk kemungkinan membuka peluang-peluang usaha, peluang-peluang bisnis.

Hal tersebut pun kami sampaikan kepada Sang Kepala Desa yang baru dilantik dan masih berusia muda. Salah satu ide kami adalah dengan membentuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang difokuskan untuk menangani bisnis yang diharapkan bisa memberi pendapatan yang signifikan dari desa tersebut.

Diantara yang akan dikerjakan BUMDes adalah membuka usaha bisnis tempat wisata dengan memanfaatkan potensi alam sekitar dan sumber air pegunungan yang melimpah. Meskipun diantara resikonya, desa harus membangun akses jalan sendiri dan dengan dana sendiri. Dengan total pengeluaran beaya yang dibutuhkan untuk seluruh keperluan membangun sekitar Rp.1 Miliar, dengan secara bertahap selama dua tahun. Sambil membangun akses sekaligus membuka tempat wisata, sehingga diperhitungkan setelah berjalan maka pendapatan yang diperoleh bisa mencapai Rp.100 juta lebih per bulan.

Kemudian untuk gambaran ‘contoh’ puisi, dalam publikas ini juga dimuat tiga (3) buah karya puisi dengan tema berbeda. Pertama berjudul: Jika 9 Mei 1293 Awal Berdiri Majapahit. Lalu puisi kedua berjudul: Pangeran Diponegoro Kita Dan Eyang Djoego. Kemudian untuk puisi ketiga berjudul: Pers Dalam Alam Mini, Desa Dan Manapun.

Ini puisi pertama berjudul: Jika 9 Mei 1293 Awal Berdiri Majapahit.

Puisi by Siswahyu K.
Jika 9 Mei 1293 Awal Berdiri Majapahit

jika kita
peringati saja
lahir Majapahit
sejak 9 Mei 1293
maka muka bicara
bahwa ambil suatu tonggak.

tahukah kita
betapa bermakna
tanggal 9 Mei 1293
sebab secara militer
dan juga diplomatik pun
Panglima Perang Tar-Tar
ketika itu seperti telah akui.

bahwa
9 Mei 1293
Raden Wijaya
telah mulai menang
hingga tahap bertahap
puncaknya 31 Mei 1293
menang total ke akar-akar.

31 Mei 1293 pun
untuk HUT Kota Surabaya
sedangkan jejak 9 Mei 1293
untuk HUT Kabupaten Mojokerto

meskipun untuk
Kerajaan Majapahit
mengambil HUT saat
Raden Wijaya dinobatkan
jadi raja pada 10 November 1293.
(Puisi by Siswahyu K.).

Puisi kedua berjudul: Pangeran Diponegoro Kita Dan Eyang Djoego.

Puisi by Siswahyu K.
Pangeran Diponegoro Kita Dan Eyang Djoego

sosok itu
tiadalah sok
saat bergerak
gerak-gerik melawan
dengan gagah dan gigih
berhadapan Belanda penjajah.

pada nada
tak ada gentar
meski darah biru
tetapi tetaplah nyala
dalam alam dadanya
menggebu bertalu-talu
pula tekad berpalu-palu
usir penjajah dari tanahnya.

nah…
pangeran
yang lahirnya
11 November 1785
Pangeran Diponegoro
putera Hamengkubuwono.

tahukah
kaum kamu,
dialah kakek dari
Eyang Djoego pula
Syekh Zakaria Kedua
yang telah mengibarkan
Gunung Kawi mendunia.

tahukah kamu
R. Iman Soedjono
murid Eyang Djoego?

namun…..
Pangeran Diponegoro
wafat 8 Januari tahun 1855.

Eyang Djoego pula
wafat 22 Januari 1871
ada pula dengan wafat
Raden Iman Soedjono
pada dada 8 Februari 1876

semoga juga
mereka dijaga
lindungan Yang Maha Kuasa.
(Puisi by Siswahyu K.).

Untuk ‘contoh’ gambaran, puisi ketiga kebetulan mengenai pers tapi juga ada soal desanya. Puisi ketiga berjudul: Pers Dalam Alam Mini, Desa Dan Manapun.

Puisi by Siswahyu K

Pers Dalam Alam Mini, Desa Dan Manapun

ingin
angan
dan angin
taklah ribut
saling berebut
dalam alam sesuatu itu.

pula
dalam alam
mini atau manapun
agar juga saling jaga.

jika
dalam tubuh
yang kuat tabah
mengalir menyatu
untuk ikhtiar kita semua
pun rakyat dari desa ke desa.

bahwa pers
adalah angin itu
mengalir sebagai nafas
dalam tubuh yang manapun.

untuk
saling imbang
dalam alam tubuh
mini ataupun manapun.

tapi tetap
untuk juga
kembali pada
suatu tujuan padi
dari tanam hingga panennya.
(Puisi by Siswahyu K.).