
Mojokerto,Sekilasmedia.com-Kegiatan seminar yang digelar oleh Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Kabupaten Mojokerto, pada Kamis, (11/11/2021) di Wisata Desa Dlanggu ada yang berbeda, pasalnya kegiatan kali ini, tampak menghadirkan narasumber 2 mantan Teroris yang baru keluar dari lapas Nusakambangan.
Untuk diketahui seminar ini selain membahas topik wawasan kebangsaan yang disampaikan Nara sumber dari Dosen hukum Universitas mayjen Sungkono Ragil Ira Mayasari, Juga hadir 2 narasumber mantan Teroris asal desa Kemlagi kabupaten Mojokerto yakni Sutrisno dan Lutfi Teguh Oktavianto keduanya adalah Bapak dan anak, Agustus kemarin baru keluar dari lapas Nusa kambangan,” ungkap Kabid Hubungan Antar Lembaga Sugeng Liyantoro, M.Si
” Tujuan dihadirkan mantan Teroris ini, agar bisa bercerita kepada para peserta hingga dia ditangkap oleh densus 88 dan akhirnya bisa kembali ke masyarakat untuk mencintai NKRI kembali,” tambahnya.
Peserta seminar kali ini terdiri dari unsur pemuda baik dari IPNU-IPPNU dan Mantan Anggota Paskibraka Kabupaten Mojokerto.
Mantan Teroris Lutfi Teguh Oktavianto (30), mengaku ia terjebak ikut masuk sebagai teroris ada beberapa faktor, antara lain faktor pemikiran, radikalisme dapat muncul dan berkembang karena yakin jika segala sesuatu nya harus dirubah kearah kelompoknya sekalipun harus menggunakan kekerasan,” ungkapnya.
Selanjutnya, adalah faktor ekonomi, faktor politik dengan uraian radikalisme bisa muncul dan berkembang ketika kelompok orang merasa pemerintah tidak adil pada rakyatnya atau hanya memperhatikan kelompok orang segelintir saja,” Urainya.
Selain itu, lanjut Lutfi, terjadi karena faktor sosial , psikologis, pendidikan, dan yang terakhir Lutfi juga mengaku berawal diajak oleh ayahnya sendiri (Sutrisno-red),” katanya.
Masih kata Lutfi, Ia juga bercerita tentang perjalanan hingga dia masuk menjadi kelompok radikal, pada Tahun 2007 bergabung dengan organisasi MMI, Tahun 2009 bergabung dengan JAT, tahun 2015 bergabung dengan kelompok ISIS atau JAD, sedangkan Mei 2018 ditangkap Densus 88 Anti Teror, selanjutnya pada Agustus 2021 akhirnya bisa menghirup udara bebas lulus dari lapas besi Nusakambangan.
Pada akhirnya saya sadar bahwa radikal itu cara yang tidak benar dan saya harus kembali mencintai NKRI,” tutupnya.(wo)





