
Jombang,Sekilasmedia.com Tanaman porang kini menjadi salah satu tanaman yang digandrungi petani, tak terkecuali petani di wilayah Wonosalam. Tanaman umbi-umbian yang memiliki nama latin Amorhophaluus Oncophyllus memiliki nilai jual tinggi bahkan tembus pasar ekspor.
Saat mellintasi di depan salah satu rumah warga, terlihat sejumlah orang tengah sibuk dengan tanaman porang. Terlihat deretan polybag tertata cukup rapi di salah satu lahan kosong.
Adalah Andik, 38, salah satu warga yang tengah mengembangkan budi daya pembibitan porang. “Karena bibitnya sangat mahal, ini coba-coba kembangkan buat penangkaran bibit porang sendiri,” terangnya, sembari tangannya dengan cekatan memasukkan tanah ke dalam polybag.’
Dia menambahkan, tanaman porang ini mulai dikenal warga sekitar beberapa tahun terakhir tepatnya sekitar 2017 lalu. Menurutnya, warga tergerak menggeluti budi daya bibit porang lantaran memiliki harga jual tinggi. ”Tanaman ini banyak dicari, jadi bibitnya mahal,” bebernya.
Tak ingin menyia-nyiakan peluang, dia pun memutuskan mengembangkan usaha pembibitan porang. ”Kebetulan saya punya tanaman sendiri, terus belajar membuat bibitnya,”
Karena sudah lama mengenal tanaman porang, sedikit banyak dia faham sifat tanaman jenis umbi-umbian ini, termasuk bagaiman cara membuat pembibitan. ”Untuk menanamnya sendiri juga tidak begitu rumit. Seperti umbi-umbian biasanya,” katanya.
Meski tak sulit, untuk menanam porang dia pun harus menyesuaikan dengan musim. ”Musim porang biasanya awal tanam itu sekitar Oktober dan November. Nanti bulan April mulai awal panen. Panen paling bagus itu Agustus dan September, itu paling bagus,” ungkapnya.
Selain meraup rupiah dari penjualan bibit, dia pun juga mendapat omzet besar dari hasil panen porang. “Kita di sini ada yang jual mulai dari bibit, ada juga yang jual dari hasil pembesaran porang.
Yang penting kita ini sama-sama berjalan. Jual bibit, ya jual umbi. Karena kebutuhan pasar sangat tinggi,” jelasnya.
Andik menyebut, biasanya dirinya menjual untuk harga bibit umbi Rp 1.000 per polybag ukuran 12 sentimeter, bibit umbi isi 3 sampai 5 biji harga Rp 7.500 ribu per kilogram, dan bibit katak harga Rp 150 ribu per kilogram.
“Kalau dari umbi, kalau musim hujan kan fluktuatif. Dari perusahaan sekarang Rp 10 ribu per kilogramnya, nanti pada bulan April keatas naik terus sampai bisa menembus Rp 15 ribu per kilogramnya,” ungkap lelaki yang mantan pelaut ini.
Andik mengatakan, untuk kegunaan porang ini macam-macam. Terutama untuk bahan produk kosmetik, bahan mengkilapnya cat, pelekat lem. Dan terakhir-terakhir ini untuk makanan konsumsi beras dari umbi porang.
“Tanaman ini sebenarnya tanaman ekspor. Kebutuhan paling banyak itu China, Korea, Jepang dan Australia. Lha sekarang ini lagi pengembangan untuk Timur Tengah, dan sudah ada permintaan barang,” katanya.
Kalau permintaan di Indonesia ini, lanjut Andik, hanya terpenuhi sekitar 10 persen. Jadi paling banyak pasarnya ke luar negeri. “Mulai dua tahun terakhir ini banyak yang budidaya, tapi ya belum begitu luas.
Karena sekarang bibitnya saja sudah mahal. Jadi itu kesulitan utama dari petani yang berada di bawah,” paparnya.
Urip menambahkan, sebenarnya tanaman ini adalah tanaman yang ekonomis dan bisa meningkatkan perekonomian petani. Harapannya, pemerintah ini nanti bisa men-suport.
“Karena tanaman ini juga sangat bagus dan sangat bisa meningkatkan taraf ekonomi masyarakat. Terutama yang di desa dan di pinggir hutan ini,” pungkasnya.





