
Probolinggo,Sekilasmedia.com- Bupati Lira angkat bicara mengenai persoalan rencana penyelenggaraan Adventure Trail & Mountain Bike Independent Day 3 Bromo Volcano Series yang menuai polemik setelah mendapat penolakan warga Kabupaten Probolinggo. Pada diskusi bersama pihak terkait, Sabtu (23/07/2022)
Dalam diskusi ini, Agus Supriyadi selaku pihak penyelenggara menyampaikan maksud dan tujuan, serta dampak positif dengan diselenggarakannya kegiatan tersebut. Namun beberapa pihak lain juga memaparkan dampak-dampak negatif dari penyelenggaraan acara ini.
Seperti yang disampaikan oleh Samsudin S.H selaku Bupati Lira, “Saya dari perwakilan Lira yang kemudian menampung aspirasi masyarakat , tokoh tokoh, dan kepala desa. Intinya kami hadir karena adanya kegaduhan, yang kedua saya juga warga probolinggo yang mana ikut serta dalam menjaga kelestarian alam kita yang menjadi kebanggaan masyarakat probolinggo, karena wisata bromo ini merupakan wisata internasional. Dan kebetulan saya juga hoby trail, jadi dampak dan manfaat dari trail itu kami tau.
Saya rasa pihak bersangkutan juga paham bagaimana dengan teman teman trail. Kami meminta koordinasi secara bersama agar tidak timbul kegaduhan dan menimbulkan kerugian kepada masyarakat karena disitu setelah saya klarifikasi tadi, mohon maaf, ternyata ijin belum keluar. Tapi, sudah di keluarkan di media sosial, pamflet, dan lain sebagainya sudah beredar diluar. Istilahnya woro – woro . Mengenai kuota, kalau dengan pemahaman kami. Itu sudah bertentangan dengan yang di tentukan. Kalau saya sebagai pengamat, berdasarkan UU No.5 Tahun 1990 tentang ekosistem. Kita disini tidak dalam maksud untuk menghalangi kegiatan tersebut. Tetapi, bagaimana dampak positif dan negatifnya yang harus kita kaji terlebih dahulu.” ungkapnya
Kemudian, pria yang akrab disapa Cak Sam ini juga memaparkan bagaimana kegiatan Trail secara umum, dan dampak pasca kegiatan Trail. Cak Sam meminta kepada pihak terkait agar benar-benar mempertimbangkan solusi bagaimana agar masyarakat tidak gaduh, dan agar tidak bertentangan dengan Undang undang.
“Kami lihat statement di media sosial itu sangat kami sayangkan. Karena pasalnya ijin saja belum keluar. Mestinya, ini perlu di kaji terlebuh dahulu. Apalagi mengenai rute-rute yang tidak sedikit disana juga merupakan tempat yang disucikan atau disakralkan oleh masyarakat”, sambungnya
Tak hanya itu, para tokoh masyarakat juga ikut serta dalam mengutarakan pendapatnya dalam diskusi ini. “Kami disini menjaga kearifan lokal, sementara tempat ini juga merupakan tempat yang kami sakralkan bagi seluruh masyarakat tengger. Dengan adanya diskusi ini, mari kita sampaikan pertimbangan pertimbangan apa saja yang perlu dikaji lebih dalam. Intinya, yang terutama menyangkut tempat tempat yang kita sucikan, yang kedua mengenai ekosistem”, ungkap beberapa tokoh masyarakat yang hadir dalam diskusi itu.
Lebih lanjut beberapa pihak juga meminta supaya sebelum memberikan ijin atas event trail dan mountain bike ini alangkah baiknya dikaji ulang dulu dampak positif dan negatifnya. Agenda Diskusi ini memang sudah diagendakan dikarenakan sudah banyak isu yang menyebar di media sosial tentang event trail ini.
“Jika tidak melalui kajian yang cukup dan kemudian berdampak negatif kepada masyarakat dan Wisata Gunung Bromo. Maka LSM Lira beserta masyarakat Tengger akan melakukan upaya hukum dan aksi besar – besaran”, sambung Cak Sam.
Pewarta : Suyitno






