TENTARAKU

Siraman Gong Kyai Pradah 

×

Siraman Gong Kyai Pradah 

Sebarkan artikel ini

 

Blitar, Sekilasmedia.com-Hari ini (Minggu, 9/10/2022) di Alun-Alun Lodoyo Kecamatan Sutojayan digelar Ritual Siraman Gong Kyai Pradah. Ritual Siraman Gong Kyai Pradah merupakan agenda rutin tahunan yang dilaksanakan setiap penanggalan Maulud yang notabene bertepatan dengan Peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW atau tanggal 12 Rabiul Awal.

 

Dalam kegiatan ini di hadiri pula tamu dari Wakil ketua DPR RI Drs. H.A. Muhaimin Iskandar, M.si., Wakil Ketua MPR RI Bapak Ahmad Basarah, Wakil ketua Komisi IV DPR RI ibu Anggia Ermarini, dan Forkopimda Blitar

 

Bupati Blitar Rini Syarifah menghimbau masyarakat tetap mengikuti vaksinasi karena Covid 19 masih ada dan mengharapkan ekonomi masyarakat semakin tertata dengan baik sesuai visi maju bersama sejahtera bersama dapat terwujud.

 

“Saya meminta warga yang hadir di siraman gong kyai pradah untuk menjaga kesehatan, menjaga kebersihan dan keindahan alun alun lodoyo dan sekitarnya supaya warga bisa nyaman di Alun alun lodoyo” tegasnya.

 

Sejarah singkat Siraman Gong Kyai Pradah, diambil dari berbagai sumber bahwa ada yang mengatakan bahwa Kyai Pradah dibuat oleh Sunan Rawu, kembaran Kyai Becak, pusaka R.M. Said atau Pangeran Mangkunegoro I. Ada pula yang mengatakan bahwa Kyai Pradah berasal dari Adipati Terung, kembaran dari tongkat sakti Tikus Jinodo yang diberi nama Kyai Macan, yang diturunkan kepada Kyai Pengging sebagai kembaran Bende Udan Arum. Kyai Macan tersebut kemudian dipinjam oleh Sunan Kudus sebagai tengoro bagi lasykar Demak sewaktu menyerang kerajaan Majapahit. Mengenai riwayat gong tersebut sampai sekarang belum diperoleh sumber data yang pasti, hanya dari cikal bakal daerah Lodoyo dan tutur kelantur di masyarakat diperoleh gambaran sebagai berikut: Ada yang mengatakan bahwa Kyai Pradah dibuat oleh Sunan Rawu, kembaran Kyai Becak, pusaka R.M. Said atau Pangeran Mangkunegoro I. Kyai Macan tersebut kemudian dipinjam oleh Sunan Kudus sebagai tengoro bagi lasykar Demak sewaktu menyerang kerajaan Majapahit.

BACA JUGA :  TMMD Ke 111 Kodim 0814 Jombang Bertujuan Bantu Percepatan Pembangunan

 

Pelacakan oleh Bupati Blitar dan Asisten Kediri pada tahun 1927, mengenai riwayat Kyai Pradah, diperoleh informasi sebagai berikut: Sewaktu tentara Demak akan menggempur kerajaan Majapahit, Sunan Kudus mengikuti dari belakang sambil membawa bende Kyai Macan. Berhubung pasukan tentara Demak lebih kecil bila dibandingkan dengan pasukan tentara Majapahit, maka pasukan tentara Demak kemudian berpencar. Pada saat itu, wilayah sekitar Majapahit masih berupa hutan, sehingga ketika Kyai Macan dipukul, suaranya yang menyerupai harimau menggaum memantul ke segala penjuru. Mendengar suara itu, tentara Majapahit mengira tentara Demak mengerahkan harimau siluman. Banyak di antara mereka ketakutan dan meninggalkan pos penjagaan.

 

Hal itu justru memudahkan tentara Demak masuk ke dalam kota Majapahit dan mendudukinya. Sesudah kerajaan Majapahit roboh, berdirilah kerajaan Demak. Kyai Macan kemudian dijadikan pusaka Demak disatukan dengan gamelan Sahadatin. Sejak itu, Kyai Macan berpindah-pindah menjadi pusaka Pajang dan Kartosuro. Menurut cerita, Sunan Paku Buwono I mempunyai seorang putra dari garwo ampeyan bernama Pangeran Prabu. Sewaktu garwo padmi belum berputra, Pangeran Prabu dijanjikan akan diangkat menjadi raja sebagai pengganti dirinya. Namun, ternyata garwo padmi melahirkan seorang putra laki-laki.

 

Agar tidak menimbulkan perang saudara, Pangeran Prabu disuruh pergi ke hutan Lodoyo untuk babad mendirikan kerajaan. Saat itu, hutan Lodoyo terkenal wingit, maka Pangeran Prabu diberi gong Kyai Macan sebagai tumbal. Pangeran Prabu bersama-sarna isterinya, Putri Wandansari, kemudian berangkat babad disertai beberapa abdi. Sebenarnya Sunan Paku Buwono I berbuat demikian itu bukan bermaksud agar Pangeran Prabu berhasil mendirikan kerajaan, melainkan agar Pageran Prabu mengalami kehancuran dari godaan jin. Dilain pihak, Pangeran Prabu sendiri sebenarnya juga tidak ingin mendirikan kerajaan karena beliau sesungguhnya seorang ulama besar. Pangeran Prabu dapat menangkap maksud Sunan Paku Buwono I terhadap dirinya. Sehingga untuk menghilangkan jejaknya, beliau berpindah-pindah tempat tinggalnya. Setiap menempati lokasi baru, beliau mengadakan pengajian. Pangeran Prabu kemudian mendirikan pondok. Pondok Pangeran Prabu atau yang kemudian lebih dikenal dengan nama Panembahan Imam Sampurna, semakin lama bertambah banyak muridnya. Keberhasilan itu akhirnya terdengar oleh Adipati Srengat yang bernama Pangeran Martodiningrat, maka segera dilaporkan ke Kartosuro karena dikhawatirkan Pangeran Prabu akan mendirikan kerajaan. Kartosuro pun kemudian mengirim tentaranya dibantu oleh kompeni Belanda. Pangeran Prabu atau Panembahan Imam Sampurno mengetahui hal itu lalu bersembunyi di hutan Kedung Bunder dan berganti nama menjadi Mbah Tjingkrang. Kata Tjingkrang mengandung arti ’maksud beliau belum tercapai’. Mbah Tjingrang akhirnya menetap di Kedung Bunder sampai akhir hayatnya. Makam Mbah Tjingkrang pun akhirnya menjadi punden keramat.

BACA JUGA :  Anggota Koramil 0814/14 Ngoro, Antusias Mengikuti Pelatihan Alkom Digital

 

Kyai Macan yang disertakan Pangeran Prabu pada waktu hendak babad, karena tempat tinggalnya berpindah-pindah, Kyai Macan kemudian dititipkan pada Nyi Partosoeto dengan pesan agar setiap tanggal 12 Rabiul Awal dan 1 Syawal disiram dengan air kembang setaman dan diborehi. Dikatakan pula bahwa air bekas siraman Kyai Macan dapat dipakai untuk menyembuhkan orang sakit. Setelah Nyi Partosoeto meninggal dunia, Kyai Macan disimpan oleh Ki Rediboyo, lalu tumurun ke Kyai Rediguno, dan tumurun lagi ke Ki Imam Setjo, yang bertempat tinggal di Dukuh Kepek, Ngeni. Ketika disimpan Ki Imam Setjo, terjadi kejadian yang agak ganjil mengenai jiwa penduduk. Setiap ada anak lahir pasti ada orang yang meninggal dunia. Di tengah suasana. yang demikian itu, ada seseorang bermimpi agar anaknya terhindar dari serangan penyakit, maka ia harus nyekar ke Kyai Macan. Saran dalam impian itupun dilaksanakan dan ternyata berhasil. Tindakan itu kemudian banyak diikuti hingga tersiar sampai ke tempat yang jauh. Semakin lama semakin banyak orang meminta berkah kepada Kyai Macan. Karena kebaikannya itu, Kyai Macan kemudian diberi nama Kyai Pradah. ddg