Jombang,Sekilasmedia.com- Bertempat di Balai Desa Mojojejer Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang, Jumat (10/02/2023) berlangsung kegiatan Sosialisasi Kualitas Hidup dan Perlindungan Perempuan.
Kegiatan itu diselenggarakan oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Jombang bekerja sama dengan pemerintah Desa setempat.
Hadir pada acara tersebut Kepala Desa Mojojejer Putut Sulistyono, beserta Staf dan Perangkat Desa, Babinsa Mojojejer Serda Andi Chris Bhabinkamtibmas Bripka Agus Salim , tokoh masyarakat , tokoh agama, tokoh pemuda dan tokoh wanita.
Putut Sulistyono menjelaskan kegiatan sosialisasi dimaksud untuk bersinergi dengan berbagai pihak dalam upaya membangun pemahaman dan komitmen bersama di dalam mewujudkan Jombang tanpa kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Dikatakannya kaum hawa harus mengembangkan diri agar memiliki kualitas yang mumpuni sehingga dapat menempatkan diri sebagai istri hang bail bagi suaminya dan teladan bagi anak-anaknya. Pendidikan dan pola asuh anak sangat dipengaruhi oleh kualitas sosok ibu sebagai pendidik yang pertama dalam lingkup keluarga.
“Anak yang baik pasti lahir dan dididik oleh ibu-ibu yang baik,” ujarnya.
Sebaliknya seorang suami dalam sebuah rumah tangga adalah kepala keluarga yang harus mengayomi istri dan anak-anaknya. Suami harus bisa memberikan keteladanan di dalam keluarga yang dapat dijadikan contoh oleh istri dan anak-anaknya.
Dikatakannya kasus-kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang masih sering terjadi karena antara suami dan istri kurang bisa menempatkan diri sehingga menjadi pemicu terjadinya percekcokan yang berujung terjadi kekerasan.
Bhabinkamtibmas Mojojejer qBripka Agus Salim menjelaskan di dalam hidup berumah tangga, masing-masing anggota keluarga harus bisa menerima keadaan yang ada. Seorang suami harus bisa menerima kelebihan dan kekurangan istri. Demikian pula sebaliknya, seorang istri harus bisa menerima kelebihan dan kekurangan suaminya.
“Bila sudah selesai dari diri sendiri maka tidak akan ada masalah. Kalau tidak selesai pada diri sendiri inilah yang menjadikan masalah. Efeknya akan muncul sikap egois menyalahkan yang lain. Misalnya suami akan menyalahkan istrinya akhirnya mengatakan “saya berbuat begini karena istri saya yang cerewet,” paparnya.
Naelly menekankan agar masing-masing anggota keluarga juga bisa menjalankan kewajiban masing-masing dan saling memahami kekurangan masing-masing. Ia menyebut wanita cerewet adalah merupakan kodrat. Maka suami harus bisa memahami hal itu.
“Mengapa wanita itu cerewet ? Karena kodratnya wanita memang begitu. Menurut penelitian wanita itu sehari harus mengeluarkan 20 ribu kata. Kalau laki-laki hanya 7 ribu kata. Jauh sekali perbandingannya sehingga tidak heran jika wanita itu cerewet. Hanya saja perlu diarahkan agar kata-kata yang dikeluarkan itu berkualitas,” ucapnya sembari tersenyum.
Pada kesempatan tersebut, Babinsa Mojojejer Serda Andi Chris mengupas perbedaan konsep pendidikan di sekolah di masa dulu dan di era saat ini. Disebutnya pada masa sekolahnya dulu para guru menggunakan sistem pendekatan yang tegas di dalam menanamkan karakter siswa. Guru terkadang memberikan sanksi memukul tangan siswa yang tidak patuh menggunakan penggaris. Ketika anak melaporkan kepada orang tua, maka orang tu justru memarahi anaknya dan membela sang guru.
“Tidak mungkin guru memukul kalau kamu tidak bersalah,” kata Babinsa menirukan ucapan orang tua.
Tetapi berbeda dengan kondisi saat ini, kata Babinsa. Ketika guru memberi sanksi kepada siswa, orang tua yang justru mengamuk ke sekolah.
Berbagai persoalan diangkat yang berkaitan dengan penanganan kasus KDRT, permasalahan kekerasan anak, dan pelecehan seksual. Tokoh-tokoh masyarakat dan Babinsa juga mengajukan pertanyaan serta memberikan usulan, saran dan masukan terkait persoalan rumah tangga.





