Daerah

Komisi E Soroti Tingginya Angka Pengangguran Gen Z

×

Komisi E Soroti Tingginya Angka Pengangguran Gen Z

Sebarkan artikel ini

Surabaya,Sekilasmedia.com-Komisi E DPRD Jawa Timur menyoroti masih tingginya angka pengangguran dari kelompok Gen Z yakni sekitar 9 – 14 juta di Indonesia termasuk di Jawa Timur. Tingginya angka pengangguran ini tentunya menjadi peringatan dari semua pihak, mulai dari pemerintah hingga semua masyarakat untuk mencapai target Indonesia emas di tahun 20245 mendatang

“Harus dijadikan salah satu acuan untuk berusaha mengatasi untuk mengejar Indonesia emas mendatang, “ujar Ketua Komisi E DPRD Jatim, Wara Sundari Renny Pramana.

Reni menyebut dalam penanganan pengangguran, nantinya pemerintah tidak hanya memprioritaskan tenaga kerja dari sektor formal saja. Melainkan juga mendorong tenaga kerja di sektor informal. Mengingat sektor informal bisa sebagai garda terdepan mengatasi banyaknya pengangguran.

BACA JUGA :  Toni Andreas Turun Tangan terkait Permasalahan Wali Santri dan Ponpes di Blitar

“Karena pengangguran terbanyak dari lulusan SMK dan SMA serta S1 hendaknya Pemerintah mendorong ada sinergi antara Pendidikan, pelatihan dan kebutuhan dunia kerja, sehingga siswa tamat dari sekolah di tingkatannya bisa langsung kerja sesuai dengan keterampilan yang dimiliki, “paparnya.

Sebelumnya, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menyebut ada sejumlah faktor yang membuat banyak anak muda alias Gen Z menganggur. Salah satu faktornya adalah salah memilih sekolah dan jurusan.

Deputi Bidang Kependudukan dan Ketenagakerjaan Bappenas, Maliki berkata rata-rata waktu yang dibutuhkan seseorang yang baru lulus untuk mencari kerja adalah 6 bulan. Ketika seseorang salah memilih jurusan, kata dia, maka masa tunggu hingga mendapatkan pekerjaan akan semakin lama hingga 1 tahun.

BACA JUGA :  Tidak Menunggu Lama Tiga Tuntutan ARMMI Langsung Masuk Sekretariat DPR RI

Faktor salah jurusan inilah menjadi banyak anak muda Indonesia masuk golongan pengangguran tanpa kegiatan atau youth not in education, employment, and training (NEET).”Kalau dia memang mempunya latar belakang yang cukup unik atau tidak cocok, bisa sampai 1 atau 2 tahun, NEET terjadi karena masalah ini,” kata Maliki.

Beberapa waktu lalu Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat masih ada 7,2 juta pengangguran di Indonesia sampai Februari 2024. Dari jumlah ini, paling banyak adalah tamatan SMK dan SMA.Secara rinci, jumlah penduduk usia kerja di Indonesia mencapai 214 juta orang. Dari jumlah itu yang tercatat sebagai angkatan kerja sebanyak 149,38 juta orang, tetapi yang terserap atau bekerja hanya 142,18 juta orang sehingga sisanya 7,2 juta orang masih menganggur.