Daerah

Kegiatan Sosialisasi Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial 2024: Fokus pada Dunia Perfilman untuk Pacet

×

Kegiatan Sosialisasi Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial 2024: Fokus pada Dunia Perfilman untuk Pacet

Sebarkan artikel ini
Salah satu sutradara KenKen,dan Wawan salah satu kreator/pemerhati sosial dari Yayasan Bimasakti Peduli Negeri bersama puluhan karang taruna Pacet.

Mojokerto,Sekilasmedia.com– Dalam rangka mendukung program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial tahun 2024, sebuah acara sosialisasi yang difokuskan pada dunia perfilman telah dilaksanakan di Pacet. Rabu(28/08/2024).

Acara ini tidak hanya memperkenalkan program tersebut tetapi juga menyoroti potensi audio visual yang dianggap kurang diminati di kalangan masyarakat.

Untuk meningkatkan minat, Bima Sakti mengadakan kegiatan pembuatan film, terutama film pendidikan, yang dinilai lebih diminati masyarakat dibandingkan dengan membaca.

Kegiatan ini juga mendorong para pemuda untuk memanfaatkan film sebagai alat branding dan marketing bagi desa maupun objek wisata setempat. Dengan demikian, wisata di Desa Pacet diharapkan dapat dikenal tidak hanya oleh masyarakat lokal, tetapi juga dari luar Mojokerto.

Salah satu agenda utama dalam kegiatan ini adalah mengenalkan budaya lokal Mojokerto melalui film. Acara ini sangat dinanti oleh para pemuda di wilayah Pacet, yang sering kali merasa kebingungan dalam membuat konten video seperti short movie dan video promosi lainnya.

BACA JUGA :  Sambut Tahun Baru Islam, Mas Pj Wali Kota Mojokerto Ajak Masyarakat Ngaji Bareng Gus Mus

“Hari ini teman-teman akan diberi pelatihan dalam membuat video yang menarik sehingga dapat meningkatkan daya tarik masyarakat khususnya di wilayah Pacet,” ujar Khoirun, salah satu penyelenggara acara.

KenKen, seorang sutradara yang hadir dalam acara tersebut, menyampaikan bahwa para peserta tidak perlu takut untuk membuat kesalahan dalam proses pembuatan video. “Membuat film membutuhkan tempat dan referensi yang tepat.

Contohnya, film ‘Laskar Pelangi’ yang berhasil mengangkat desa menjadi destinasi wisata. Diharapkan, desa ini juga dapat memiliki ikon budaya yang dikenal melalui perfilman,” harap KenKen.

Acara ini dihadiri oleh puluhan budayawan, serta Camat Pacet dan kepala desa setempat. Tujuan dari kegiatan ini adalah memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang peran penting film dan short movie dalam mengembangkan desa berbasis inklusi sosial.

BACA JUGA :  Polresta Malang Gelar Press release Ungkap 2 Kasus Curanmor dan Curas

Selain itu, kegiatan ini juga membahas penggunaan dana desa untuk pengembangan perpustakaan desa.

Wawan, salah satu kreator dan pemerhati sosial dari Yayasan Bimasakti Peduli Negeri, menambahkan bahwa industri film memiliki potensi besar.

“Ada permintaan naskah film di OTT atau aplikasi digital dengan harga 10-15 juta per naskah. Potensi ini bisa dimanfaatkan untuk menampilkan wilayah Mojokerto melalui film dengan melibatkan karang taruna. Dengan demikian, kegiatan karang taruna bisa lebih kreatif dan memberikan dampak positif bagi masyarakat Pacet,” ungkap Wawan.

Selain itu, Wawan juga menyebutkan bahwa akan ada pelatihan-pelatihan praktis bagi aktor dan sutradara di desa untuk menghasilkan karya sendiri yang dapat ditampilkan di kecamatan.

Kegiatan sosialisasi ini diharapkan dapat menjadi langkah awal bagi pengembangan film dan budaya lokal di Mojokerto, khususnya di Desa Pacet.”pungkasnya.(Zies)