Malang, Sekilasmedia.com-Pada kesempatan libur semester kali ini menjadi momen yang tepat untuk rehat sejenak dari hiruk-pikuk ibu kota. Saya dan sekeluarga memutuskan untuk pergi ke Kota Apel, Malang, sebagai tujuan utama perjalanan. Hampir 12 jam kami habiskan di dalam kereta, menikmati pemandangan yang berganti sepanjang jalur perjalanan. Saya banyak melihat pemandangan baru yang belum pernah saya lihat sebelumnya, seperti sawah luas yang membentang dan pegunungan yang menjulang di kejauhan. Meski lelah, kami tetap bersemangat untuk petualangan yang menanti.
Sesampainya di Malang, kami menghabiskan tiga hari dua malam di sana. Di hari kedua, kami merencanakan perjalanan ke Gunung Bromo untuk menyaksikan matahari terbit. Perjalanan dimulai tepat tengah malam, saat kami dijemput oleh supir dengan mobil jeep yang akan membawa kami ke kaki gunung. Dalam perjalanan, kami berbincang dengan supir yang banyak bercerita tentang pengalaman membawa wisatawan ke Bromo. Jalan berbatu yang kami lalui sedikit tidak nyaman, tetapi rasa kantuk membuatku sempat tertidur sebentar karena harus melakukan perjalanan di jam 12 malam.
Mendekati puncak, saya terbangun dan melihat suasana yang mulai ramai. Kami tiba di gerbang masuk kawasan Bromo, tempat kami beristirahat sebentar sambil membeli tiket masuk. Meski sudah mengenakan pakaian berlapis, udara dingin tetap menusuk tubuh kami. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk membeli sarung tangan dan syal agar lebih hangat. Gunung Bromo yang berada di ketinggian 2.329 meter memang memiliki suhu yang cukup ekstrem, terutama menjelang fajar.
Sekitar pukul 4 pagi, kami tiba di puncak Penanjakan, tempat terbaik untuk menikmati matahari terbit. Sudah banyak orang yang berkumpul di sana, menunggu momen langka tersebut. Saya banyak melihat pemandangan baru yang belum pernah saya lihat sebelumnya, seperti lautan awan yang menyelimuti lembah di bawah kami. Suasana begitu hening, hanya terdengar suara bisikan kagum dari para wisatawan. Ketika matahari mulai menampakkan sinarnya, langit perlahan berubah warna. Gradasi jingga, merah muda, dan ungu membentuk lukisan alam yang luar biasa indah. Saya terpaku sejenak, menikmati keindahan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Gambar 1. Matahari Terbit dari Puncak Bromo
Setelah puas menikmati sunrise, sekitar pukul 6 pagi kami turun dan kembali ke jeep untuk melanjutkan perjalanan ke kawah Bromo. Kami berjalan menapaki pasir berbisik yang membentang luas sebelum akhirnya menaiki tangga menuju kawah. Tangga-tangga tersebut cukup curam dan berpasir, sehingga orang-orang yang menaikinya harus berhati-hati dan berpegangan agar tidak tergelincir.
Sesampainya di puncak kawah, kami bisa melihat kepulan asap belerang yang keluar dari dalamnya. Pemandangan ini begitu menakjubkan, meski bau belerang cukup menyengat. Saya juga banyak melihat hal baru yang belum pernah saya lihat sebelumnya, seperti kawah aktif yang masih mengeluarkan asap putih.
Di sana, saya melihat beberapa warga yang menunggu untuk mengambil sesajen yang dilemparkan ke kawah Bromo. Saat bertanya kepada sopir jeep kami, saya baru tahu bahwa itu disebut Marit, yaitu orang yang sengaja mengumpulkan sesajen saat upacara. Menariknya, perjalanan kami kali ini bertepatan dengan upacara Yadnya Kasada, sebuah ritual keagamaan masyarakat Tengger yang diyakini sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Hyang Widhi dan leluhur.
Suasana sakral begitu terasa, dengan masih banyaknya orang yang berkumpul untuk melakukan persembahan ke kawah Bromo. Selain warga lokal, banyak juga wisatawan yang datang untuk menyaksikan prosesi ini. Hal ini membuat pengalaman kami semakin berkesan karena bisa berkesempatan menyaksikan tradisi lempar sesajen ke dalam kawah Bromo yang penuh makna tersebut secara langsung.
Dari kawah, perjalanan kami berlanjut ke Bukit Teletubbies, sebuah hamparan padang savana hijau yang membentang luas. Kami tak melewatkan kesempatan untuk berfoto di sana, termasuk berfoto di depan jeep yang telah membawa kami melewati perjalanan ini dengan latar belakang hamparan bukit. Suasana di sekitar bukit begitu tenang dan menyegarkan, berbeda dengan hiruk-pikuk kota yang biasa kami temui.
Menjelang siang, kami kembali ke jeep untuk pulang ke Malang. Meski lelah, perjalanan ini benar-benar memberikan kesan mendalam. Gunung Bromo tidak hanya menyajikan pemandangan yang luar biasa, tetapi juga pengalaman spiritual dan budaya yang tak terlupakan. Saya dan keluarga pun kembali ke Malang dengan hati yang penuh rasa syukur dan kenangan indah yang akan selalu kami ingat.
Penulis: Marsya Regitha Avantie, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB University
editor: Kaylla






