Daerah

Pendidikan Militer Jadi Model Pembinaan Karakter, Kadisdik Purwakarta: Semua Anak Potensial Asal Diberi Stimulasi Positif

×

Pendidikan Militer Jadi Model Pembinaan Karakter, Kadisdik Purwakarta: Semua Anak Potensial Asal Diberi Stimulasi Positif

Sebarkan artikel ini
Kadis Pendidìkan Dr. H. Purwanto, M.Pd. (Foto Ade Irma/Sekilasmedia.com)

Purwakarta,Sekilasmedia.com – “Semua anak pada dasarnya memiliki potensi. Yang terpenting adalah bagaimana kita memberi mereka stimulasi yang positif,” ujar Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta, Dr. H. Purwanto, M.Pd. di kantornya pada Senin (05/05/25). Ia menekankan bahwa pendidikan formal hanya mencakup sebagian waktu anak dalam sehari, sehingga peran lingkungan dan keluarga sangat penting dalam proses pembinaan karakter.

Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional, Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta menggelar program pendidikan berbasis militer sebagai model pembinaan karakter bagi siswa. Kegiatan ini berlangsung di lingkungan Resimen Altileri Medan, Sadang, Kabupaten Purwakarta dan melibatkan 39 siswa dari jenjang menengah pertama dan atas.

BACA JUGA :  Bersama Walikota, DPRD Kota Mojokerto Sepakati KUA-PPAS Tahun 2023

Sebanyak 39 siswa mengikuti program ini dengan pendampingan intensif dari para guru, terutama guru bimbingan dan konseling (BK). Setiap guru mendampingi tiga siswa dan juga menjalin komunikasi aktif dengan orang tua mereka.

Para siswa menjalani berbagai aktivitas fisik seperti gerak jalan, lari, bela diri dan karate. Kegiatan ini dirancang untuk membentuk kedisiplinan, mental, serta karakter siswa, di samping aktivitas pembelajaran reguler.

BACA JUGA :  Bangun Sinergi, Polres Lamongan Menerima Kunjungan Institut Karate-do Nasional Lamongan

Program ini diselenggarakan dalam rangkaian peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun ini dan direncanakan dapat menjadi program berkelanjutan.

Program dijalankan secara terstruktur dengan sistem rotasi guru, pendekatan konseling aktif, dan integrasi kegiatan fisik. Pendekatan ini sejalan dengan teori naturalisme dan nativisme yang menekankan pentingnya pengaruh lingkungan dalam perkembangan anak. Hasil awal menunjukkan siswa merasa termotivasi dan antusias mengikuti program.

“Ini adalah bentuk treatment, bukan hukuman. Jika terbukti efektif, kita akan jadikan sebagai program berkelanjutan di masa depan,” tutur Dr. H. Purwanto.