Daerah

Kades Banyutengah Klarifikasi Terkait Tuntutan Warga Soal Layanan Mobil Siaga yang Dianggap Lamban

×

Kades Banyutengah Klarifikasi Terkait Tuntutan Warga Soal Layanan Mobil Siaga yang Dianggap Lamban

Sebarkan artikel ini
Kantor Desa Banyutengah Kecamatan Panceng, tempat perundingan pemerintah desa bersama warga terkait layanan mobil siaga. (Foto: Rudi/ Sekilasmedia.com)

Gresik, Sekilasmedia.com – Kejadian puluhan warga Desa Banyutengah, Kecamatan Panceng, Kabupaten Gresik, mencopot dua ban belakang mobil siaga desa hingga melempar kursi di Balai Desa, sempat viral di media sosial.

Yangmana aksi ini menjadi puncak kemarahan buntut meninggalnya Fatkul Hadi, warga setempat yang kesulitan mendapatkan akses mobil siaga dalam kondisi darurat.

Fatkul Hadi sempat dibawa ke Puskesmas Prupuh menggunakan motor tosa milik warga. Namun, nyawanya tak tertolong saat dirujuk ke RSUD Ibnu Sina.

Insiden itu, memicu gelombang amarah warga. Mereka berbondong-bondong mendatangi balai desa, Minggu siang (29/6/2025), dan melampiaskan protes dengan mencopoti ban mobil siaga.

Menurut warga, pelayanan mobil siaga selama ini tidak transparan dan lamban dalam merespons situasi darurat.

Alih-alih mendapat jawaban, Kepala Desa Banyutengah, Fadloli, justru melaporkan insiden pencopotan ban itu ke pihak berwajib.

Tak terima, warga dan keluarga korban kembali mendatangi Balai Desa Banyutengah pada Senin siang (30/6/2025). Suasana audiensi yang memanas memicu aksi lempar kursi. Baku hantam pun nyaris pecah, meski akhirnya dapat dapat diredam oleh kedua pihak dan memilih melanjutkan perundingan.

Atas kejadian tersebut, Kepala Desa Banyutengah Fadloli kepada Sekilasmedia.com, pada Selasa (1/7/2025) di ruangan kerjanya memberikan klarifikasi bahwa terkait keberadaan mobil siaga itu memang diperuntukkan bagi masyarakat yang membutuhkan. Dan kejadian ini murni miskomunikasi saja, alhamdulillah semua berjalan kembali normal serta kondusif.

Kemudian Fadloli menceritakan dimana pada Sabtu malam (28/6/2025) sekira pukul 24.00 WIB, ada warga yang menanyakan mobil siaga ke salah satu perangkat desa dan diarahkan menghubungi kepala desa. Sebab untuk melepaskan mobil siaga bisa dipakai atau tidak itu wewenang kepala desa, dan kuncinya ada di balai desa.

” Karena sampai saat ini kami belum memiliki sopir khusus untuk menjalankan mobil siaga maupun mobil sehat milik desa tersebut,” ujarnya memberikan alasan.

Namun ternyata pihak keluarga pasien tidak menghubungi kepala desa. Seandainya mereka menghubunginya langsung atau ke rumah Kades untuk minta bantuan, pasti akan diantarkan sendiri berobat ke puskesmas atau rumah sakit saat itu juga.

Karena panik, akhirnya mereka meminjam kendaraan motor tosa ke warga lainnya untuk dibawa ke puskesmas, dan ditangani. Kayaknya kondisi pasien agak parah lalu dirujuk ke rumah sakit Ibnu Sina menggunakan mobil ambulance puskesmas. Dan Minggu siang (29/6/2025) dikabarkan kalau warga Desa Banyutengah tersebut yaitu Fatkul Hadi telah meninggal dunia, jelasnya.

” Atas meninggalnya pasien tersebut kemudian memicu kemarahan warga padahal keluarga pasien tidak menyalahkan kita, karena pasien wafat karena sakit. Kejadian ini, sebenarnya hanya miskomunikasi antara pihak yang mencari kendaraan siaga dengan pemerintah desa. Dimana mereka (warga) menyangka pemerintah desa mempersulit atau lamban dalam memberikan layanan mobil siaga kepada warga yang membutuhkan tersebut, padahal tidak demikian,” ungkapnya.

Di Desa Banyutengah, sambung Fadloli, sebenarnya ada 5 unit mobil siaga, rinciannya 2 unit milik Bainul Zahid, 1 unit milik NU dan milik desa sendiri ada 2 unit kondisi ready. Sebenarnya tidak ada kendala menggunakan fasilitas mobil siaga itu.

Dan di akhir wawancara, Kades Banyutengah Fadloli menyampaikan kepada warga desa setempat, apabila membutuhkan mobil siaga atau mobil sehat bisa langsung menghubungi kepala desa. Jikalau tidak ada mobil sehat/ siaga pasti oleh pemerintah desa akan diupayakan menggunakan mobil lainnya untuk melayani warga secara gratis.

Sementara atas hasil pertemuan warga pendemo dengan pihak desa saat itu di balai desa Banyutengah pada Senin (30/6/2025), meski alot namun akhirnya mencapai kesepakatan damai.

Kesepakatan damai itu disahkan dalam dokumen tertulis bermaterai yang juga ditandatangani oleh Ketua BPD Muhammad Natsir. Di situ, Fadloli berkomitmen tidak akan mengajukan laporan serupa di masa mendatang.

Ketua BPD Desa Banyutengah Mohammad Nasir kepada Sekilasmedia.com menjelaskan bahwasannya hasil kesepakatan pertemuan dengan warga pada Senin kemarin (30/6/2025), yaitu kunci mobil siaga akan di pegang satu orang yang ditunjuk.

” Sehingga apabila ada warga sakit bisa langsung menghubungi orang tersebut (sopir) untuk mengantarnya ke puskesmas atau rumah sakit saat itu juga,” ujarnya.

M. Nasir juga mengungkapkan bahwa warga yang meninggal dunia itu merupakan tetangganya. Yaitu Fatkul Hadi (30) RT 8 RW4 Desa Banyutengah itu meninggal dunia karena sakit saat berada di Rumah Sakit Ibnu Sina pada Minggu siang (29/6/2025).

Pada kesempatan lain, Kepala UPT Puskesmas Panceng dr Mujtahidah kepada Sekilasmedia.com mengungkapkan pada Sabtu malam (28/6/2025), pasien warga Desa Banyutengah sesampai di puskesmas, mendapat periksaan kondisi kesehatannya lalu dirujuk ke rumah sakit Ibnu Sina, dibawa menggunakan ambulance puskesmas. Lalu pada keesokan harinya, Minggu siang (29/6/2025) dikabarkan telah meninggal dunia di RS Ibnu Sina.