Daerah

Mahasiswa STKIP Ngawi Belajar Harmoni di Teater Lingkar Semarang

×

Mahasiswa STKIP Ngawi Belajar Harmoni di Teater Lingkar Semarang

Sebarkan artikel ini
Sindhunata Gesit Widiharto, bersama dua pengajar karawitan, Pak Dadi dan Mas Dafa, memberikan penting ya makna karawitan dan filosofi gamelan Jawa,”kepada Mahasiswa STKIP Ngawi.(Foto : Dwi Saptono - sekilasmedia.com)

Semarang,Sekilasmedia.com- Sabtu, 1 November 2025, udara di Sanggar Seni Teater Lingkar, Semarang, dipenuhi denting gamelan yang berpadu dengan tawa dan rasa ingin tahu 22 mahasiswa Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Modern Ngawi. Dalam suasana hangat dan penuh makna, mereka datang bukan sekadar berkunjung, melainkan untuk menyapa kembali akar budaya Jawa melalui karawitan, gamelan, dan teater tradisi.

Kunjungan belajar ini lahir dari keprihatinan mahasiswa terhadap menurunnya minat generasi muda pada seni tradisional. “Masih banyak yang belum mengenal budaya Jawa sendiri. Lewat karawitan dan gamelan, kami ingin belajar tentang kekompakan dan kebersamaan,” ujar Aprilia Asmaraningtyas (20), mahasiswa yang bertugas sebagai humas kegiatan.

Rombongan berangkat dari Ngawi pukul lima pagi dan tiba di Semarang sekitar pukul sembilan. Setibanya di sanggar, mereka disambut hangat oleh Ketua Teater Lingkar, Sindhunata Gesit Widiharto, bersama dua pengajar karawitan, Pak Dadi dan Mas Dafa.

BACA JUGA :  Silaturahmi Bersama Pagar Nusa Jadi Role Model Bagi Polres Gresik

Sindhunata mengaku bangga menerima kedatangan para mahasiswa calon guru itu. “Mereka datang bukan hanya untuk menonton, tapi sungguh ingin memahami makna karawitan dan filosofi gamelan Jawa,” ujarnya di sela kegiatan.

Menurutnya, belajar karawitan bukan hanya perkara teknik menabuh gamelan, tetapi juga cara memahami harmoni kehidupan. “Gamelan itu seperti kehidupan. Tidak ada suara yang ingin menonjol sendiri. Semua harus berpadu agar indah. Nilai ini penting bagi calon guru — mereka akan menanamkan semangat kebersamaan kepada generasi muda,” kata Sindhunata.

BACA JUGA :  Jelang Nataru, Polresta Sidoarjo Rutin Patroli Pagi dan Malam

Para mahasiswa tampak antusias mengikuti pelatihan dasar tabuhan dan mengenali filosofi di balik setiap nada. Salah satu peserta, Legowo, mengaku terkesan dengan pengalaman ini. “Kami merasa menyatu dengan irama gamelan. Ada rasa tenang sekaligus bangga bisa mengenal budaya sendiri secara langsung,” tuturnya.

Bagi Sindhunata, kegiatan semacam ini menjadi jembatan penting antara pendidikan dan pelestarian budaya. “Seni tradisi tidak seharusnya berhenti di museum. Selama masih ada generasi muda yang mau belajar dan mencintainya, gamelan akan tetap bernyawa,” ujarnya penuh harap.

Kunjungan mahasiswa STKIP Modern Ngawi ke Teater Lingkar bukan sekadar perjalanan akademik. Ia menjadi perjalanan batin — sebuah upaya kecil namun bermakna untuk menjaga denyut nadi kebudayaan Jawa agar tetap hidup di tengah arus modernitas.