Pariwara

5 Perbedaan Film vs Novel The Housemaid, Mana yang Lebih Mencekam?

×

5 Perbedaan Film vs Novel The Housemaid, Mana yang Lebih Mencekam?

Sebarkan artikel ini
Poster resmi film thriller The Housemaid yang dibintangi Sydney Sweeney dan Amanda Seyfried. (englishcinemabarcelona.com)

Sekilasmedia.com-Film adaptasi The Housemaid yang rilis akhir Desember 2025 lalu sukses menjadi perbincangan hangat di awal tahun ini. Disutradarai oleh Paul Feig dan dibintangi duo Sydney Sweeney serta Amanda Seyfried, film ini memikul beban berat ekspektasi pembaca novel bestseller Freida McFadden. Meski sang penulis asli memberikan “restu” atas perubahan di filmnya, perdebatan di kalangan penggemar tetap panas.

Bagi penikmat film, menarik untuk membedah bagaimana sebuah teks literatur diterjemahkan ke bahasa visual. Melansir dari berbagai tinjauan kritis, berikut adalah 5 perbedaan mencolok antara versi film dan novel The Housemaid yang mengubah dinamika ceritanya.

Visual Nina Winchester: Hilangnya Sosok Depresi, Munculnya Sosialita Elegan

Amanda Seyfried tampil elegan sebagai Nina Winchester. (Elle.com)

Perbedaan paling visual langsung terlihat pada karakter Nina Winchester. Dalam novel, Nina digambarkan mengalami kenaikan berat badan drastis dan berpenampilan kacau sebagai manifestasi fisik dari tekanan mental yang ia alami. Penampilan fisiknya menjadi poin penting mengapa ia merasa insecure terhadap suaminya.

Namun, dalam versi film, Amanda Seyfried tampil ramping, elegan, dan chic. Perubahan ini menghilangkan lapisan “body image” yang kuat di buku. Film lebih memilih menggambarkan ketidakstabilan Nina melalui micro-expression dan tatapan mata yang unsettling daripada transformasi fisik.

Ini adalah keputusan estetik khas Hollywood yang sedikit mengurangi rasa simpati awal pembaca terhadap karakter Nina.

BACA JUGA :  Iklan Ucapan Desa Panggreh-Sidoarjo

 

Nasib Enzo: Dari Karakter Kunci Jadi Sekadar “Pemanis”

Michele Morrone sebagai Enzo, tukang kebun misterius yang porsi tampilnya dipangkas signifikan dibanding di buku. (Movieweb.com)

Bagi pembaca buku, karakter Enzo (tukang kebun) adalah kunci. Ia memiliki porsi dialog besar, latar belakang emosional yang dalam, dan menjadi aliansi strategis bagi tokoh utama.

Sayangnya, dalam film, peran Enzo yang dimainkan Michele Morrone terasa sangat dipangkas. Enzo di film lebih berfungsi sebagai “pemanis visual” dengan interaksi minim dan tanpa kedalaman hubungan emosional seperti di novel. Sub-plot romansa yang cukup krusial di buku pun ditiadakan demi memadatkan durasi film.

 

Level Kekejaman: Teror Psikologis vs Visual Berdarah

Sydney Sweeney menghidupkan karakter Millie dalam nuansa thriller. (IMDb.com)

Salah satu elemen horor The Housemaid adalah hukuman yang diterima Millie. Di novel, hukuman ini bersifat psikologis dan melelahkan (seperti memegang buku berat berjam-jam), membangun ketegangan yang lambat namun menyiksa.

Sebaliknya, Paul Feig mengambil pendekatan yang lebih viseral untuk layar lebar. Dalam film, hukuman diubah menjadi lebih sadis secara fisik, melibatkan pecahan piring beling dan luka nyata. Perubahan ini sejalan dengan tren film thriller modern yang membutuhkan visual “darah” untuk memicu adrenalin penonton, berbeda dengan buku yang mengandalkan imajinasi liar pembaca.

 

Eskalasi Konflik: Tuduhan Mengutil yang “Didramatisir”

Ketegangan memuncak antara Millie dan Nina saat konflik kecil berubah menjadi tuduhan kriminal yang serius. (seattletimes.com)

Detail kecil namun berdampak pada logika cerita adalah alasan Millie berurusan dengan hukum saat bekerja di rumah Winchester.

BACA JUGA :  Kepala SDN 109 Palembang, Mengucapkan "Dirgahayu Republik Indonesia Ke-79 Tahun"

Di novel, Nina menuduh Millie mengutil barang belanjaan—sebuah tuduhan “remeh” yang justru menunjukkan betapa piciknya permainan kuasa Nina.
Di film, konflik ini dieskalasi menjadi tuduhan pencurian mobil (Grand Theft Auto). Perubahan ini memberikan stakes (taruhan) yang lebih tinggi dan dramatis secara hukum, mempercepat tempo cerita menuju klimaks yang lebih genting dibanding versi buku yang slow burn.

Plot Twist Ending: Mengubah Kesunyian Menjadi Aksi Blockbuster

Perubahan ending menjadi lebih dramatis dan penuh aksi memberikan kepuasan visual yang berbeda bagi penonton film. (comingsoon.net)

Perbedaan terbesar terletak pada eksekusi babak ketiga. Sutradara Paul Feig mengakui bahwa ia ingin “memperluas endingnya” agar lebih memuaskan penonton bioskop yang haus aksi.

Jika novelnya diakhiri dengan nuansa yang dingin, sunyi, dan penuh kepuasan psikologis, filmnya menyajikan konfrontasi fisik yang intens dan brutal selayaknya film aksi. Freida McFadden sendiri menyebut perubahan ending ini “lebih cocok untuk layar lebar,” meskipun purist buku mungkin akan merindukan nuansa dark yang lebih subtil dari versi aslinya.

Pada akhirnya, The Housemaid versi film adalah interpretasi ulang yang disesuaikan untuk pasar mainstream. Jika novelnya adalah studi karakter yang lambat dan mencekam, filmnya adalah popcorn thriller yang cepat dan visual.

Keduanya memiliki kelebihan masing-masing, tergantung apakah Anda mencari kedalaman cerita atau hiburan visual semata.