Daerah

Virus LSD Muncul, Jembrana Resmi Berlakukan Lock Down Lalu Lintas Ternak Sapi

×

Virus LSD Muncul, Jembrana Resmi Berlakukan Lock Down Lalu Lintas Ternak Sapi

Sebarkan artikel ini
Salah satu kandang peternak sapi di Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana (foto sekilasmedia.com/soni)

Denpasar,Sekilasmedia.com-
Dunia peternakan Bali diselimuti rasa kegelisahan, pasca muncul kabar tentang “penyakit misterius” yang menyerang hewan peliharaan sapi dan kerbau di Kabupaten Jembrana.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distanpangan) Provinsi Bali, I Wayan Sunada, Selasa (13/1) menegaskan, bahwa wabah ternak yang terjadi di Jembrana adalah Lumpy Skin Disease (LSD), penyakit hewan menular berbahaya.

Penegasan tersebut bukan berdasarkan asumsi, melainkan bukti ilmiah yang terukur dan dapat dipertanggungjawabkan. Untuk asus LSD di Jembrana pertama kali terdeteksi pada 24 Desember 2025.

“Awalnya Balai Besar Veteriner Denpasar menerima laporan adanya sapi dengan gejala klinis, seperti benjolan keras di kulit, demam tinggi, hingga pembengkakan di leher. Kemudian dilakaukan pengambilan sempel darah dan kotoran kulit pada 26 Desember 2025,” ujar Sunada.

Hasil pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR) pada 27 Desember 2025 menyatakan bahwa ternak itu positif LSD. Hal itu diperkuat kembali pada 29 Desember 2025 melalui konfirmasi laboratorium rujukan nasional Balai Besar Veteriner Wates dengan temuan identik atau serupa.

BACA JUGA :  Polsek Dlanggu Galang Aspirasi Masyarakat Melalui Forum Jumat Curhat

“Ini adalah kasus introduksi pertama LSD di Bali. Begitu hasil laboratorium keluar kami langsung bergerak cepat,” ungkapnya.

Melalui investigasi lapangan yang dilakukan pada 5 Januari 2026 di Desa Baluk, Kecamatan Negara, serta wilayah lain di Jembrana seperti Desa Kaliakah, Banyubiru, Berangbang, dan Manistutu, tercatat 28 ekor sapi terindikasi LSD, dan beberapa ekor diantaranya dilaporkan mati.

“Angka ini menjadi peringatan serius, betapa penyakit ini tidak bisa dianggap remeh,” tambahnya.

Dari hasil penelusuran sementara mengarah pada dugaan kuat adanya pemasukan ternak secara ilegal dari luar Bali sebagai sumber penularan awal. Karena itu, pengawasan lalu lintas ternak akan diperketat secara menyeluruh.

“Sebagai langkah ekstrem namun krusial, wilayah Kabupaten Jembrana resmi diberlakukan lock down lalu lintas ternak sapi,” tegas Sunada.

BACA JUGA :  Jelang Pilkada 2024, Polres Lamongan Gelar Latihan Peningkatan Kemampuan Dalmas

Menurut dia, tidak ada lagi ruang kompromi, keluar-masuk penjualan sapi dari dan ke Jembrana, serta dihentikan sementara demi memutus mata rantai penyebaran virus. Pemerintah menilai keselamatan jangka panjang sektor peternakan jauh lebih penting.

Selain itu sejumlah langkah strategis lain juga diterapkan secara simultan, pemotongan bersyarat terhadap ternak yang menunjukkan gejala klinis berat, dengan pengawasan ketat dokter hewan berwenang.

“Pengawasan tidak berhenti di situ, surveilans aktif dan pasif terus dilakukan melibatkan koordinasi lintas sektor, sesuai standar kesehatan hewan nasional,” tandasnya.

Sunada menghimbau masyarakat khusnya peternak tidak panik dan tetap waspada. Setiap gejala mencurigakan pada ternak wajib segera dilaporkan, dan masyarakat diminta tidak terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi.

“Kami memahami kekhawatiran para peternak. Namun kami memastikan pemerintah hadir dan bekerja serius. Jaga biosekuriti kandang, lakukan pelaporan, jangan ambil keputusan sendiri terhadap T’ternak terindikasi,” tutupnya.