BISNIS

Dari Ide Komunitas ke Kolaborasi Brand, De Lune Fleur Coba Strategi Baru Kenalkan Fashion Lokal

×

Dari Ide Komunitas ke Kolaborasi Brand, De Lune Fleur Coba Strategi Baru Kenalkan Fashion Lokal

Sebarkan artikel ini
Mojokerto Community bersama de lune fleur dalam acara grand launching. (Foto: Shalvana)

Mojokerto,Sekilasmedia.com-Kolaborasi antara komunitas konten kreator dan brand lokal mulai banyak dilakukan untuk memperkuat promosi produk, termasuk di Mojokerto. Salah satunya dilakukan brand fashion muslim baru, De Lune Fleur, yang menggandeng komunitas kreator dalam acara gathering sekaligus launching produk perdananya. Konsep ini dinilai berbeda karena tidak hanya mengandalkan promosi biasa, tetapi menghadirkan pengalaman langsung bagi audiens.

Ide kolaborasi ini datang dari Regita Puspita Pitaloka Putri (28), seorang konten kreator sekaligus founder komunitas MOJOKERTO COMMUNITY. Ia mengaku awalnya hanya ingin membuat kegiatan untuk anggota komunitas tanpa biaya, lalu terpikir untuk mengajak brand lokal bekerja sama. Kebetulan owner De Lune Fleur juga tergabung dalam komunitas tersebut, sehingga komunikasi berjalan lebih mudah.

“Jujur aku sempat grogi, karena ini pertama kalinya aku sendiri yang menawarkan konsep ke brand. Takut kalau tidak sesuai ekspektasi mereka,” ujar Regita saat menceritakan awal kerja sama tersebut.

Menurutnya, setiap produk memiliki strategi marketing yang berbeda. Untuk fashion, promosi tidak cukup hanya lewat foto katalog atau model profesional saja. Banyak calon pembeli justru ragu karena model yang digunakan biasanya memiliki tubuh proporsional, sehingga sulit dibayangkan saat dipakai oleh orang dengan bentuk tubuh berbeda.

BACA JUGA :  Karena Asahan Memiliki Bahan Baku Pengelolahan Kerang Kepah Anggota Komisi lV DPR RI Dorong Pemerintah Bangun Pabrik Industri

Karena itu, konsep gathering dipilih agar satu produk bisa dipakai oleh banyak kreator dengan karakter tubuh dan gaya yang beragam. Dengan begitu, audiens bisa melihat langsung bagaimana baju tersebut terlihat di berbagai orang. Hal ini dinilai lebih relatable dan membuat calon pembeli lebih percaya. “Kalau satu produk dipakai banyak orang dengan body yang beda beda, penonton jadi lebih kebayang. Mereka merasa lebih dekat dan yakin untuk beli,” jelasnya.

Dalam pelaksanaannya, komunitas membantu memilih kreator yang sesuai dengan target market brand. Setelah kriteria ditentukan, pihak brand diberi kesempatan untuk memilih langsung kreator yang dianggap cocok dengan karakter produk mereka. Sistem ini dianggap lebih adil karena kedua pihak sama-sama mendapat keuntungan.

Manfaat terbesar yang dirasakan brand setelah acara launching adalah meningkatnya brand awareness. Banyak konten kreator mengunggah konten secara bersamaan di media sosial, sehingga memicu rasa penasaran audiens. Strategi posting serentak ini membuat nama brand lebih cepat dikenal dalam waktu singkat. “Ketika banyak kreator upload bareng, orang jadi kepo. Mereka tanya ini brand apa sih. Dari situ awareness langsung naik,” katanya.

BACA JUGA :  Hilirisasi Kopi Desa Ngembat, Sinergi Petani dan Teknologi Pemerintah

Regita juga menilai, kesalahan yang sering dilakukan brand baru adalah terlalu fokus pada produk tanpa memikirkan siapa yang mempromosikan dan bagaimana cerita di baliknya. Padahal, fashion membutuhkan storytelling dan pengalaman nyata agar lebih mudah diterima pasar.

Ia melihat potensi besar brand lokal di Mojokerto untuk berkembang lebih jauh jika didukung strategi promosi yang tepat. Komunitas kreator pun diharapkan bisa menjadi jembatan antara pelaku usaha dan audiens digital.

Ke depan, ia berharap kolaborasi seperti ini tidak hanya dilakukan sekali, tetapi bisa membangun ekosistem bersama. Brand lokal bisa berkembang, sementara kreator juga mendapat ruang untuk bertumbuh secara profesional.
“Harapanku brand lokal Mojokerto bisa makin dikenal, bukan cuma di kotanya sendiri tapi juga keluar daerah. Kita bisa naik bareng bareng,” tutupnya.