Malang,Sekilasmedia.com– Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026 di Universitas Negeri Malang tidak berhenti pada seremoni. Melalui rangkaian kegiatan bertajuk Green Education yang dipusatkan di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) kampus, UM menegaskan komitmennya membangun sistem pengelolaan limbah berbasis edukasi ekologis dan berkelanjutan.
Kegiatan yang melibatkan sivitas akademika tersebut dirancang sebagai aksi nyata untuk memperkuat kesadaran kolektif tentang pentingnya pengelolaan sampah sejak dari sumbernya. Bagi UM, persoalan limbah bukan semata isu teknis, melainkan tantangan budaya yang menuntut perubahan perilaku.
Ketua UM Green Campus, Prof. Dr. Sumarmi, M.Pd., menegaskan bahwa Green Education bukan sekadar jargon institusional. Program ini, kata dia, merupakan strategi konkret untuk membentuk kebiasaan baru warga kampus dalam memproduksi, memilah, dan mengelola sampah secara bertanggung jawab.
“Green Education adalah gerakan perubahan. Kami ingin membangun kesadaran bahwa setiap individu di kampus memiliki peran dalam menekan timbulan sampah dan memastikan limbah yang dihasilkan tidak berakhir sia-sia,” ujarnya.
Salah satu agenda utama dalam peringatan HPSN kali ini adalah praktik pemilahan sampah anorganik secara masif. Mahasiswa dilibatkan langsung untuk memilah botol plastik berdasarkan jenis materialnya, sebagai langkah awal mempercepat proses daur ulang dan memperkuat penerapan ekonomi sirkular di lingkungan kampus.
Tak hanya berhenti pada pemilahan, UM juga mendorong inovasi daur ulang kreatif. Tutup botol plastik diolah menjadi produk kerajinan berlabel UM sebagai simbol komitmen sivitas akademika terhadap pengurangan sampah. Upaya ini sekaligus menegaskan bahwa limbah yang dikelola dengan benar memiliki nilai tambah ekonomi.
Langkah pemilahan yang disiplin dinilai efektif menekan volume sampah yang berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Dengan memastikan material anorganik terpisah sejak awal, kampus dapat mengonversinya kembali menjadi bahan baku yang bernilai guna, sekaligus mengurangi beban lingkungan.
Peringatan HPSN 2026 di UM diharapkan menjadi titik balik transformasi budaya kampus menuju sistem pengelolaan sampah yang lebih sistematis dan berkelanjutan. Melalui pendekatan Green Education, UM memposisikan diri bukan hanya sebagai institusi pendidikan tinggi, tetapi juga sebagai laboratorium hidup praktik pelestarian lingkungan.
“Kami ingin memastikan setiap lulusan UM tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki sensitivitas terhadap krisis lingkungan. Inisiatif di TPST ini adalah pijakan awal dari kontribusi besar kita untuk bumi,” pungkas Prof. Dr. Sumarmi.





