Bogor,Sekilasmedia.com-
Pagi masih gelap ketika satu per satu wartawan dari berbagai daerah berkumpul di Kantor Kementerian Pertahanan RI, Jakarta Pusat. Tepat pukul 05.00 WIB, Rabu (29/1/2026), 162 wartawan senior anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) bersiap mengikuti sebuah kegiatan yang belakangan kerap menjadi perbincangan nasional retret.
Bus milik Kemenhan RI membawa para peserta menuju Pusat Kompetensi Bela Negara (PKBN) di Desa Cibodas, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor. Setibanya di lokasi sekitar pukul 10.15 WIB, suasana langsung terasa berbeda. Barisan rapi, instruksi tegas perwira TNI, serta tata tertib yang harus dipatuhi menjadi pembuka rangkaian kegiatan.
Retret ini merupakan hasil kerja sama PWI Pusat dan Kementerian Pertahanan RI. Selama 29 Januari hingga 1 Februari 2026, para wartawan tidak hanya mengikuti pemaparan materi, tetapi juga menjalani disiplin khas bela negara. Mulai dari olahraga pagi sebelum subuh, apel penghormatan Bendera Merah Putih, hingga sesi kelas kebangsaan yang padat makna.
Di balik baris-berbaris dan jadwal ketat, terselip pesan penting tentang satu komando, disiplin, dan tanggung jawab. Nilai-nilai dasar yang sederhana, namun menjadi fondasi dalam kehidupan berbangsa, termasuk dalam dunia jurnalistik.
Sejumlah perwira TNI dan pejabat negara hadir sebagai pemateri. Menteri Pertahanan RI, Sjafrie Syamsuddin, menekankan bahwa ancaman terhadap bangsa kini tidak hanya bersifat militer, tetapi juga non-militer, termasuk perang opini di ruang publik dan media digital.
Menurut Menhan, insan pers memiliki posisi strategis dalam menjaga ketahanan nasional melalui pemberitaan yang berimbang, beretika, dan berlandaskan cinta tanah air. Nasionalisme, kata dia, harus menjadi ruh dalam setiap produk jurnalistik.
Puncak kegiatan ditandai dengan prosesi Api Semangat Bela Negara (ASBN) pada Sabtu malam (31/1/2026). Di tengah udara dingin Cibodas, para peserta dari berbagai suku, agama, dan daerah bergandengan tangan mengelilingi api unggun. Bendera Merah Putih dinaikkan, dicium secara bergantian, diiringi lagu kebangsaan, puisi persatuan, dan doa.
Malam itu, keheningan terasa khidmat.
Retret bukan sekadar agenda, melainkan ruang refleksi. Sebuah pengingat bahwa pers bukan hanya penyampai informasi, tetapi juga bagian penting dalam menjaga persatuan dan membangun negeri.





