Mojokerto,Sekilasmedia.com-Dulu kalau ngomongin ngabuburit, yang kebayang pasti jalan-jalan cari takjil atau sekadar nongkrong di pinggir jalan. Tapi sekarang, pemandangannya sudah beda banget. Di mana-mana orang asyik pegang HP. Tapi menariknya, isi scrolling-an kita sekarang bukan cuma hiburan kosong, melainkan potongan video dakwah yang visualnya estetik banget.
Jujur saja, kehadiran dakwah visual di YouTube atau Reels ini jadi penyelamat buat kita yang mungkin malas kalau harus duduk diam dengerin ceramah satu jam penuh. Pesan soal sabar atau cara tenangin hati dikemas singkat, pakai musik yang adem, dan videonya enak dilihat. Rasanya jadi lebih “masuk” ke keseharian kita yang serba cepat.
Fenomena ini sebenarnya jadi semacam digital detox yang produktif. Daripada waktu nunggu buka puasa terbuang cuma buat lihat konten yang nggak jelas, mendengarkan pesan-pesan singkat ini setidaknya bikin hati lebih tenang.
Kita jadi sadar kalau teknologi nggak selamanya bikin jauh dari agama, malah bisa jadi jembatan buat lebih ingat hal-hal yang baik.
Tapi ya memang ada tantangannya. Kadang kita cuma terjebak di “bagusnya” video itu saja tanpa benar-benar meresapi isinya. Padahal, inti dari dengerin dakwah itu kan biar ada yang berubah di sikap kita, bukan cuma buat dipajang di story biar kelihatan religius.
Pada akhirnya, cara kita belajar agama memang sudah berubah mengikuti zaman. Menunggu adzan Maghrib sambil nonton video dakwah yang menyejukkan hati itu pilihan yang cerdas. Yang penting, setelah HP ditaruh dan takjil sudah di depan mata, pesan-pesan baik tadi jangan ikut hilang bersama habisnya gorengan di piring.






