Mojokerto,Sekilasmedia.com-Rumah produksi sepatu Al-Fatih di Surodinawan, terdapat transformasi bisnis yang luar biasa. Usaha yang telah dirintis selama lebih dari 30 tahun oleh Prayam ini sempat berada di titik terendah saat pandemi melanda. Namun, berkat keberanian Widya, sang istri, bisnis keluarga ini justru “meroket” di tengah krisis.
Berjalannya Al-Fatih terletak pada kegigihan sang pemilik dalam membangun hubungan personal dengan pelanggan di tengah kakunya sistem pada marketplace. Widya menyebut bekerja dengan platform online seperti Shopee dan TikTok bak “bekerja dengan robot” yang tidak mengenal toleransi.
Sebelum tahun 2020, Al-Fatih murni mengandalkan penjualan offline dengan sistem kodian (partai besar). Namun, saat bisnis sepatu di seluruh Indonesia terpuruk, Ibu Widya memutuskan untuk belajar jualan online secara otodidak.
“Pas awal Corona itu saya belajar Shopee dan langsung meroket. Padahal awalnya daftar saja tidak bisa sampai minta tolong adik yang guru IT. Dulu sering dimaki-maki dibilang penipu karena belum terkenal, tapi saya hadapi dengan sabar. Saya japri satu-satu pembeli yang kasih bintang satu untuk tanya kendalanya,” ucap Widya.
Dahulu, Al-Fatih dikenal dengan produksi sepatu kulit sapi asli. Namun, demi mengikuti dinamika pasar yang menginginkan harga lebih ekonomis, kini fokus pada bahan kulit sintetis dengan kapasitas produksi mencapai 200 pasang per hari. Jangkauan pasarnya pun tidak lagi sekadar nasional, melainkan sudah menembus pasar Asia, termasuk Malaysia.
Uniknya, bisnis ini benar-benar dijalankan secara kekeluargaan. Ketiga anak Ibu Widya memilih langsung terjun membantu usaha orang tua mereka setelah lulus sekolah. Kini, sang suami, tengah mengembangkan pengembangan baru berupa “Rumah Sepatu” di kawasan Pacet, sebuah ikon bangunan berbentuk sepatu yang memadukan konsep wisata kuliner dan sentra kerajinan.
Di tengah ketatnya persaingan harga di marketplace, Al-Fatih tetap bertahan dengan standar kualitasnya sendiri. Widya juga aktif menjadikan rumah produksinya sebagai tempat Praktek Kerja Lapangan (PKL) bagi siswa SMK.
“Kita sudah masuk gelombang ketiga anak PKL di sini. Saya ingin berbagi ilmu bahwa bertahan di bisnis ini perlu perjuangan. Kami bersyukur, saat orang lain kesulitan saat Corona, kami justru bisa menambah karyawan. Intinya harus ramah dan terus mengikuti kemauan pasar,” tambahnyanya.






