Probolinggo,Sekilasmedia.com – Kota Probolinggo mencatatkan prestasi positif dalam pemerataan ekonomi masyarakat. Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), angka Gini Ratio Kota Probolinggo berada di angka 0,258 dan menjadi yang terendah kedua di antara 38 kabupaten/kota di Jawa Timur.
Capaian tersebut menunjukkan tingkat kesenjangan pendapatan masyarakat di Kota Probolinggo tergolong rendah dibandingkan daerah perkotaan lainnya di Jawa Timur. Rendahnya angka Gini Ratio menjadi indikator bahwa distribusi ekonomi masyarakat relatif lebih merata.
Kepala BPS Kota Probolinggo, Joko Santoso menjelaskan, Gini Ratio merupakan alat ukur untuk melihat tingkat ketimpangan pendapatan masyarakat di suatu wilayah. Semakin kecil nilainya, maka semakin baik tingkat pemerataan ekonominya.
Menurut Joko, angka 0,258 termasuk kategori sangat baik untuk wilayah perkotaan. Sebab, kota umumnya memiliki tantangan ketimpangan ekonomi yang lebih besar dibandingkan daerah kabupaten yang ditopang sektor pertanian.
“Nilai Gini Ratio yang rendah menunjukkan distribusi pendapatan masyarakat lebih merata. Untuk ukuran daerah perkotaan, angka 0,258 ini termasuk sangat baik,” ujarnya.
Ia menambahkan, capaian tersebut dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari pengendalian inflasi, menjaga daya beli masyarakat, hingga program penanggulangan kemiskinan yang terus dilakukan pemerintah daerah.
Dalam penghitungan tingkat kemiskinan, lanjut Joko, BPS tidak hanya melihat pendapatan masyarakat, melainkan pola pengeluaran rumah tangga. Pendekatan tersebut dinilai lebih menggambarkan kondisi ekonomi masyarakat secara nyata.
“Pengeluaran masyarakat menjadi indikator kemampuan memenuhi kebutuhan dasar. Jika konsumsi masyarakat tetap stabil, maka kondisi ekonominya juga relatif terjaga,” katanya.
BPS menilai rendahnya angka ketimpangan tersebut menjadi sinyal positif bahwa pertumbuhan ekonomi di Kota Probolinggo mulai dirasakan oleh lebih banyak lapisan masyarakat. Meski demikian, keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan pemerataan kesejahteraan tetap perlu dijaga.
Sementara itu, Wali Kota Probolinggo, Aminuddin menyebut capaian tersebut menjadi dorongan bagi pemerintah daerah untuk terus memperkuat pembangunan yang berpihak kepada masyarakat.
Menurutnya, rendahnya angka Gini Ratio menunjukkan berbagai program pemerintah mulai memberikan dampak positif terhadap kondisi ekonomi warga, termasuk dalam menjaga stabilitas harga dan membuka peluang usaha masyarakat.
“Alhamdulillah, capaian ini menjadi indikator bahwa pembangunan ekonomi di Kota Probolinggo bergerak ke arah yang lebih merata. Pemerintah akan terus berupaya menjaga daya beli masyarakat dan memperluas kesempatan ekonomi bagi warga,” tutur Aminuddin.
Meski demikian, pihaknya mengakui masih terdapat kelompok masyarakat yang memerlukan perhatian khusus. Karena itu, program pengentasan kemiskinan berbasis data akan terus diperkuat agar bantuan pemerintah lebih tepat sasaran.
Ke depan, Pemerintah Kota Probolinggo menargetkan pertumbuhan ekonomi yang tidak hanya meningkat dari sisi angka, tetapi juga mampu menghadirkan kesejahteraan yang merata bagi seluruh masyarakat.






