Sosial

Sepotong Kesetiaan di Sudut Mangli: Saat Juma’ati Menjadi Napas Bagi Suaminya Butuh Uluran Medis

×

Sepotong Kesetiaan di Sudut Mangli: Saat Juma’ati Menjadi Napas Bagi Suaminya Butuh Uluran Medis

Sebarkan artikel ini
Rupik tergolek lemas di ranjangnya. (Foto aurel)

 

Jember, sekilasmedia.com– Di sebuah sudut sunyi Kelurahan Mangli, Kecamatan Kaliwates, Jember, waktu seolah berjalan lebih lambat bagi Juma’ati. Di usia senjanya, alih-alih menikmati masa tua yang tenang, perempuan ini sedang mengeja arti sejati dari sebuah kesetiaan.
​Di hadapannya, Rupik (63), belahan jiwanya, hanya bisa terbaring pasrah. Pria yang dulunya menjadi tiang sandaran keluarga itu kini ringkih, tak berdaya setelah serangan jantung mendadak menghantamnya sekitar dua pekan lalu.
​Bagi Rupik, bergerak bukan lagi sekadar aktivitas fisik, melainkan sebuah perjuangan bertaruh nyawa.
​”Bapak sakit jantung mendadak, lima belas hari yang lalu. Sekarang susah bergerak. Bergerak sedikit saja sudah ngos-ngosan, sesak napasnya,” tutur Juma’ati, suaranya bergetar menahan beratnya beban yang bergelayut di pundak, Senin (13/7/2026).
​Terjebak di Antara Cinta dan Keterbatasan
​Merawat pasangan yang sakit keras di usia tua adalah ujian fisik sekaligus batin. Juma’ati kini berdiri di persimpangan jalan yang teramat pelik. Di satu sisi, ia tahu suaminya butuh sentuhan medis yang rutin. Namun di sisi lain, membawa Rupik keluar rumah adalah sebuah siksaan fisik bagi sang suami.
​Setiap kali membayangkan tubuh renta suaminya harus diguncang di perjalanan menuju rumah sakit, hati Juma’ati teriris.
​”Kasihan kalau harus bolak-balik ke rumah sakit. Soalnya Bapak sudah nyaman tiduran seperti itu,” ucapnya lirih.
​Namun, cinta saja ternyata tidak cukup untuk menebus obat atau membayar biaya perjalanan. Juma’ati mengakui, dompetnya yang kian menipis menjadi tembok besar yang menghalangi langkahnya mencari kesembuhan untuk sang suami.
​”Mau wira-wiri ke rumah sakit, selain butuh tenaga, kan juga butuh biaya,” bisiknya, menyiratkan kepasrahan seorang warga prasejahtera yang terhimpit keadaan.

BACA JUGA :  Polsek Kejayan Bersama PT Tirta Jaya Salurkan Bantuan Air Bersih ke Dua Desa Terdampak Kekeringan

​Doa Kecil dari Pinggiran Jember,
​Juma’ati berharap, mukjizat kecil yang ia rasakan tidak berhenti di rumahnya saja. Di luar sana, ia tahu ada banyak “Juma’ati dan Rupik” lain yang sedang menangis dalam diam karena keterbatasan ekonomi.
​”Saya sangat berharap layanan langsung memeriksa pasien ke rumah seperti ini bisa dilakukan oleh seluruh layanan kesehatan di Jember,” harapnya dengan mata berkaca-kaca.
​Layanan ini mungkin sederhana bagi sebagian orang, namun bagi Juma’ati, ini adalah uluran tangan Tuhan.