Daerah

Jalan Cokroaminoto Jadi Pasar Rakyat Paling Meriah di Kanigaran, Cokro Fair Samarasya 2026 di Padati Ribuan Masyarakat

×

Jalan Cokroaminoto Jadi Pasar Rakyat Paling Meriah di Kanigaran, Cokro Fair Samarasya 2026 di Padati Ribuan Masyarakat

Sebarkan artikel ini
Wakil Walikota Probolinggo Ina Dwi Lestari saat meninjau stand jajanan Tradisional di pagelaran Cokro Fair Samarasya 2026 (Foto : Suyitno)

Probolinggo,Sekilasmedia.com-Kalau biasanya malam Sabtu isinya knalpot bising dan lampu kendaraan. Jalan Cokroaminoto, Kecamatan Kanigaran “ditutup paksa” dan diserahkan ke warga.

Namanya “Cokro Fair Samarasya 2026”. Dari jam 18.00 WIB sampai tengah malam, jalan sepanjang Bundaran Gladak Serang sampai Pertigaan Loji berubah jadi pasar rakyat, panggung seni, dan ruang nongkrong bareng, Sabtu (29/08/2026) malam.

Konsepnya sederhana: pemerintah buka jalan, warga yang isi. Hasilnya? Ribuan orang berdatangan dari segala arah.

Sekcam Kanigaran yang juga Ketua Panitia, Anita, mengaku sengaja membuat acaranya “nggak resmi-resmi amat”. “Cokro Fair ini rumah bersama. Mau kamu UMKM, komunitas, RT, atau cuma warga biasa, semua punya panggung di sini,” kata Anita.

Ia menolak kalau Cokro Fair hanya disebut festival biasa. “Ini ikhtiar kita menghidupkan ekonomi dari trotoar. Biar ibu-ibu PKK bisa jualan, biar anak muda bisa manggung, biar RW bisa unjuk kreativitas,” ujarnya.

Anita juga menekankan pentingnya kebersamaan. “Yang bikin rame bukan sound systemnya. Tapi karena semua ngerasa punya. Dari kelurahan sampai sponsor, semua turun tangan,” tambah Anita.

BACA JUGA :  Kapolres Pasuruan Kunjungi Gereja Terkait Penerapan Prokes Dan Antisipasi Teror Menjelang Perayaan Nataru

Wakil Wali Kota Probolinggo Ina Dwi Lestari hadir tanpa protokoler berlebihan. Ia jalan kaki bareng ibu-ibu PKK menyusuri lapak.

Langkah pertama Ina berhenti di booth Sahabat Disabilitas. Di sana ia ikut bernyanyi bersama. Penonton langsung tepuk tangan paling kencang malam itu.

Geser sedikit, ada anak-anak SD yang menari dengan kostum seadanya tapi semangat luar biasa. Ina langsung nyamperin dan ngasih balon. “Pinter-pinter. Nanti tampil lagi ya,” celetuknya.

Wawali juga nggak sungkan jajan. Cilok, es teh jumbo, sampai tas rajut karya UMKM dibelinya. “Ini bukan pencitraan. Saya memang mau UMKM kita naik kelas. Caranya ya dibeli,” ucap Ina.

Penampilan paling beda datang dari komunitas Tionghoa. Barongsai dan liong lewat di tengah kerumunan. Warga yang tadinya duduk langsung berdiri buat video.

Acara ini juga dihadiri Forkopimda, camat-lurah se-kota, BUMN, BUMD, sampai sponsor. Tapi sorotan tetap ke warga.

Ina Dwi Lestari di atas panggung kecil menyebut Cokro Fair sebagai “laboratorium kota”. “Di sini kita lihat Probolinggo yang sebenarnya. Kreatif, toleran, dan suka gotong royong,” ujar Ina.

BACA JUGA :  Tausiah Sambut Ramadan, DWP Palembang Ajak Anggota Perkuat Adab Dan Sunnah

Ia meminta warga ikut jaga ketertiban. “Ramai boleh, tapi jangan buang sampah sembarangan. Biar tahun depan kita bisa bikin lagi yang lebih gede,” pesannya.

Menurut Ina, kunci majunya sebuah kecamatan ada di UMKM-nya. “Pemerintah cukup fasilitasi. Yang jualan, yang kreatif, yang dagang, itu warga. Dukung terus,” katanya.

Ia menutup dengan harapan besar. “Jangan sampai ini cuma setahun sekali. Jadikan Cokro Fair ini DNA-nya Kanigaran. Biar orang nyebut Probolinggo, ingetnya ke sini,” pungkas Ina.

Sepanjang malam ada 4 panggung aktif. Ada musik akustik, stand up, tari tradisional, sampai DJ kampung.

Data panitia, lebih dari 150 UMKM ikut. Omzetnya? Ada yang tembus 3 juta semalam. Lumayan buat modal bulan depan.

Dishub dan Satpol PP kompak alihkan arus. Warga justru senang karena bisa jalan kaki tanpa takut kendaraan.

Malam itu Jalan Cokroaminoto membuktikan. Kota tidak butuh mal baru untuk bahagia. Cukup tutup jalan sehari, kasih mic, kasih lapak, dan biarkan warga yang berkarya.

Cokro Fair Samarasya 2026 resmi jadi bukti: kalau ruang publik dikembalikan ke rakyat, hasilnya akan selalu meriah.