Daerah

Noe Letto Soroti Ekosistem Kopi Bondowoso, Kualitas Produk Dinilai Sudah Punya Modal Kuat

×

Noe Letto Soroti Ekosistem Kopi Bondowoso, Kualitas Produk Dinilai Sudah Punya Modal Kuat

Sebarkan artikel ini
Sabrang Mowo Damar Panuluh Putra Pertama Budayawan Emha Ainun Nadjib/Cak Nun dibersamai oleh Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Mulyadi, S.P., M.M saat mengunjungi salah satu Stand di Festival Kopi Nusantara Bondowoso (Foto: Sekilas Media Bondowoso)

Vokalis Letto, Sabrang Mowo Damar Panuluh atau Noe, menilai kopi Bondowoso memiliki modal kuat untuk berkembang lebih jauh. Namun, kualitas komoditas menurutnya tidak akan cukup apabila tidak dibarengi dengan penguatan ekosistem yang menopang keberlangsungan industri kopi.

Pandangan tersebut disampaikan Noe saat menghadiri Festival Kopi dan Tembakau di Alun-alun Bondowoso. Putra pertama budayawan dan cendekiawan nasional Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun itu tidak hanya tampil menghibur masyarakat, tetapi juga menyempatkan diri berkeliling mengunjungi stan kopi.

Di sela kunjungannya, Noe berdiskusi dengan sejumlah pelaku kopi dan mencicipi beberapa produk kopi khas Bondowoso. Salah satu yang menarik perhatiannya adalah kopi yang disebut sebagai kopi endemik Indonesia.

Menurut Noe, keberagaman karakter kopi yang ia cicipi menunjukkan bahwa Bondowoso memiliki kekayaan produk yang menarik. Namun, pilihan terhadap kopi pada akhirnya tetap bergantung pada selera masing-masing penikmat.

“Macam-macam kopi yang bisa dicoba dan menarik semuanya. Tinggal urusan selera,” ujar Noe dalam agenda Diskusi Senja di sela Festival Kopi dan Tembakau.

BACA JUGA :  Panglima TNI Bersama Menhub Tinjau Lokasi Ditemukannya Serpihan Pesawat Sriwijaya Air SJ 182

Ia mengaku salah satu kopi yang dicicipinya memberikan kesan tersendiri. Karakter rasanya disebut cukup pekat, tetapi tetap nyaman ketika diminum.

“Saya salah satunya mencoba yang tadi itu, yang endemik kopi, endemik Indonesia. Sepertinya impress saya, tertarik banget,” katanya.

Bagi Noe, persoalan utama pengembangan kopi tidak berhenti pada kualitas biji maupun cita rasa. Komoditas yang sudah kuat membutuhkan ekosistem pendukung agar mampu memiliki daya saing dan memberikan dampak yang lebih luas.

“Kalau bicara kuatnya sebuah komoditi, itu didukung oleh ekosistemnya. Ada ekosistem legal, finansial, koneksi, kampanye dan seterusnya,” jelasnya.

Ia menilai penguatan ekosistem menjadi pekerjaan penting bagi para pemangku kepentingan. Dukungan terhadap sektor kopi perlu mencakup berbagai aspek, mulai dari kepastian dan dukungan regulasi, akses finansial, jaringan, hingga kampanye dan promosi.

Dengan ekosistem yang semakin kuat, Noe meyakini potensi kopi Bondowoso dapat berkembang melampaui sekadar komoditas pertanian. Produk yang telah memiliki bahan dasar kuat berpeluang menjadi bagian dari kekuatan ekonomi daerah apabila dikelola secara terintegrasi.

BACA JUGA :  Pemkab Tuba Raih Penghargaan Dari Kemenkum HAM RI

“Saya harapkan ekosistemnya itu diperkuat, karena kopinya sudah kuat. Jadi bahan dasar yang sudah kuat akan jadi jauh lebih kuat kalau ekosistemnya diperkuat,” tuturnya.

Noe juga mengaku tidak mudah menjelaskan karakter kopi menggunakan istilah teknis seperti yang biasa digunakan para pegiat kopi. Ia lebih melihat pengalaman tersebut dari perspektif sebagai penikmat.

“Kalau saya merasakan ini pekat tanpa bikin pusing,” ujarnya.

Kehadiran Noe di Festival Kopi dan Tembakau kemudian tidak hanya menjadi bagian dari hiburan masyarakat. Pandangannya turut memberikan catatan bahwa pekerjaan rumah pengembangan kopi Bondowoso bukan semata-mata menghasilkan kopi berkualitas, tetapi bagaimana membangun ekosistem yang mampu membawa produk tersebut semakin dikenal dan memiliki nilai ekonomi lebih besar.

Di tengah potensi kopi yang telah dimiliki, pesan Noe menjadi relevan: kopi yang kuat membutuhkan ekosistem yang sama kuatnya agar mampu tumbuh lebih jauh dan menembus pasar yang lebih luas.