Nasional

Direktur Baru LPDS Soroti Tantangan Pers di Era AI, Kualitas Jurnalistik Jadi Perhatian

×

Direktur Baru LPDS Soroti Tantangan Pers di Era AI, Kualitas Jurnalistik Jadi Perhatian

Sebarkan artikel ini
Direktur Eksekutif Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS) yang baru, Anthonius Jimmy Silalahi, menyampaikan sambutan saat serah terima jabatan dari Kristanto Hartadi di Jakarta. (foto: Wibowo)

JAKARTA, Sekilasmedia.com – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membawa perubahan besar dalam industri media. Di tengah kemajuan teknologi tersebut, kualitas pemberitaan, independensi wartawan, serta kepercayaan masyarakat terhadap pers menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian serius.

Hal itu disampaikan Anthonius Jimmy Silalahi setelah resmi menjabat sebagai Direktur Eksekutif Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS). Ia menyampaikan pandangan tersebut dalam acara serah terima jabatan dari direktur sebelumnya, Kristanto Hartadi, yang berlangsung di Jakarta, Rabu (21/10/2026).

Dalam sambutan perdananya, Jimmy menilai kondisi pers nasional saat ini sedang menghadapi berbagai tantangan mendasar. Selain perubahan pola produksi dan distribusi informasi akibat perkembangan teknologi, pers juga dituntut untuk terus menjaga mutu, independensi, dan kredibilitas pemberitaan.

Menurut Jimmy, masyarakat membutuhkan produk jurnalistik yang tidak sekadar cepat disajikan, tetapi juga akurat, berimbang, dan memberikan edukasi. Karena itu, peningkatan kompetensi wartawan dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga peran pers dalam kehidupan demokrasi.

Sebagai lembaga pendidikan jurnalistik yang dibentuk melalui sidang pleno Dewan Pers pada 1987, LPDS berkomitmen melanjutkan perannya dalam meningkatkan profesionalisme wartawan. Namun, proses pendidikan tersebut perlu menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi tanpa mengesampingkan prinsip dan etika jurnalistik.

BACA JUGA :  Perkembangan Indeks Menabung Konsumen dan Indeks Kepercayaan Konsumen

Jimmy menegaskan bahwa penggunaan AI dalam dunia jurnalistik tidak cukup hanya dipahami sebagai alat untuk mempercepat pekerjaan. Wartawan juga perlu memiliki kemampuan berpikir kritis, memeriksa kebenaran informasi, serta memahami batasan penggunaan teknologi dalam proses pemberitaan.

Menurutnya, AI dapat membantu pekerjaan jurnalistik, tetapi tidak dapat menggantikan tanggung jawab moral, penerapan kode etik, dan pengalaman wartawan ketika berinteraksi langsung dengan masyarakat.

“AI bisa membantu kecepatan, tapi AI tidak punya nurani, tidak punya etika jurnalistik, dan tidak bisa turun ke lapangan untuk merasakan denyut nadi masyarakat,” ujarnya.

Ia berharap prinsip-prinsip tersebut terus menjadi bagian penting dalam setiap program pelatihan yang diselenggarakan LPDS agar wartawan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman sekaligus mempertahankan kualitas karya jurnalistiknya.

Dalam kesempatan yang sama, Kristanto Hartadi menyampaikan dukungannya terhadap kepemimpinan baru LPDS. Setelah menjabat selama tiga tahun sejak 2023, Kristanto memutuskan mengundurkan diri dari posisi Direktur Eksekutif, tetapi menegaskan tetap akan mendukung keberlanjutan lembaga tersebut.

Ia berharap LPDS terus berkembang, mampu menjawab kebutuhan industri media, dan mempertahankan relevansinya di tengah perubahan lingkungan jurnalistik.

BACA JUGA :  Rekrut Bintang Voli Amerika, Jakarta Electric PLN Optimis Hadapi Final Four PLN Mobile Proliga 2025

Wakil Ketua Dewan Pers, Totok Suryanto, yang turut hadir dalam acara tersebut, juga menyoroti pesatnya pertumbuhan pers digital. Menurutnya, melimpahnya informasi, perubahan algoritma platform digital, serta penggunaan AI membuat masyarakat semakin membutuhkan produk jurnalistik yang dapat dipercaya.

Totok menilai LPDS memiliki peran penting dalam menjaga kualitas dan profesionalisme wartawan. Dewan Pers, lanjutnya, akan terus mendukung program pendidikan jurnalistik agar para pekerja media memiliki kompetensi yang memadai dan tetap berpegang pada Kode Etik Jurnalistik.

Selain memperkuat pendidikan wartawan, Jimmy mengajak pemerintah, sektor swasta, dan industri media untuk membangun kolaborasi dalam meningkatkan kualitas pers nasional. Ia mendorong pengembangan program pelatihan jurnalistik yang inovatif dan dapat menjangkau berbagai wilayah di Indonesia.

Selama hampir empat dekade, LPDS telah menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan bagi ribuan wartawan dari berbagai daerah. Melalui kepemimpinan baru, lembaga tersebut diharapkan mampu memperkuat peran pendidikan jurnalistik dalam menghadapi tantangan teknologi sekaligus menjaga kepercayaan publik terhadap pers.

Jimmy menegaskan bahwa kemajuan bangsa membutuhkan dukungan pers yang profesional, berkualitas, dan bertanggung jawab. Oleh sebab itu, adaptasi terhadap teknologi perlu berjalan seiring dengan penguatan integritas dan etika jurnalistik.