Daerah

Investasi Rp50 Juta, Balik Modal 10 Bulan KADIN Sumsel Bongkar Matematika Bisnis UMKM Modern

×

Investasi Rp50 Juta, Balik Modal 10 Bulan KADIN Sumsel Bongkar Matematika Bisnis UMKM Modern

Sebarkan artikel ini
Jangan Kalah di Kandang Sendiri! KADIN Sumsel Perangi Dominasi Pengusaha Luar atas Produk Lokal (Foto/Sekilasmedia.Com)

 

PALEMBANG, Sekilasmedia.com-Dalam langkah strategis untuk mendongkrak ekonomi daerah dan memberdayakan pelaku usaha lokal, Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Sumatera Selatan menggelar *Sumsel Expo* ke-4 yang berkolaborasi dengan International Franchise and Business Expo (IFBEX) 2026. Acara yang berlangsung di Atrium Palembang Square Mall pada Kamis (15/10/2026) ini tidak hanya sekadar pameran dagang, melainkan sebuah gerakan masif untuk mencetak 1.000 pengusaha muda atau yang disebut sebagai “Sultan Muda”.

Hadir hampir 50 peserta pameran, acara ini menargetkan kalangan mahasiswa dan masyarakat umum untuk terjun langsung ke dunia wirausaha dengan model bisnis yang minim modal namun terstandarisasi. Ketua Umum KADIN Sumatera Selatan, H. Affandi Udji, SE, MM., menegaskan bahwa kolaborasi ini merupakan wujud sinergi antara pemerintah provinsi, KADIN, serta lembaga riset seperti BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) untuk menciptakan ekosistem bisnis yang sehat.

“Target kami adalah menciptakan minimal 1.000 ‘Sultan Muda’ selama event ini berlangsung. Ini adalah peluang bisnis yang tidak padat modal, sehingga sangat terbuka bagi adik-adik mahasiswa untuk memulai usaha,” ujar Affandi dalam sambutannya.

BACA JUGA :  Koramil 0815/02 Trowulan Selenggarakan Komsos Dengan Komponen Masyarakat

Affandi menyoroti bahwa hambatan utama produk lokal Sumsel seperti pempek, es kacang, dan selingkungan—untuk menembus pasar nasional hingga internasional bukanlah pada rasa, melainkan pada standarisasi dan edukasi bisnis. Ia menekankan pentingnya pemahaman mengenai Standard Operating Procedure (SOP), analisis biaya, dan perhitungan Break Even Point* (BEP).

“Banyak produk lokal kita yang belum bisa *go national* karena kurang pemahaman soal standarisasi. Misalnya, proses pembuatan pempek harus memiliki SOP suhu dan takaran yang jelas. Ketika kemitraan ditawarkan, calon mitra perlu melihat angka profit dan BEP yang transparan,” jelasnya memberikan contoh. “Jika investasi gerobak Rp50 juta dengan profit Rp5 juta per bulan, maka BEP tercapai dalam 10 bulan. Data seperti inilah yang membuat investasi menjadi menarik.”

Dengan proyeksi transaksi mencapai Rp60 miliar selama acara, KADIN Sumsel optimis dapat berkontribusi signifikan terhadap target pertumbuhan ekonomi Provinsi Sumatera Selatan sebesar 6%. Komitmen KADIN tidak berhenti pada transaksi, tetapi juga membimbing UMKM untuk membangun merek dan sistem kemitraan yang profesional.

BACA JUGA :  Kenang Jasa Pahlawan, Polres Batu Ajak Pengendara Di Batos Heningkan Cipta Di Hari Pahlawan

Di sisi lain, Djoko Kurniawan, S.E., M.M., memberikan peringatan keras terkait fenomena hilangnya potensi pasar lokal. Ia menyayangkan banyaknya produk khas Palembang justru lebih dikuasai dan dikembangkan oleh pengusaha dari luar daerah.

“Jangan sampai kita kalah di kandang sendiri. Saat ini, banyak produk seperti kacang merah atau olahan khas Palembang lainnya justru dikuasai oleh orang non-Palembang yang membuka usaha di Jakarta atau kota besar lainnya. Mereka memiliki kreativitas bisnis yang tajam, sementara ahli lokal justru ketinggalan,” tegas Djoko.

Melalui program pendampingan intensif bersama KADIN dan lembaga iptek, para peserta diharapkan mendapatkan wawasan teori sekaligus praktik langsung dalam membangun bisnis yang skalabel. Event ini menjadi bukti nyata sinergi akademisi, bisnis, dan pemerintah dalam mewujudkan mimpi UMKM Sumatera Selatan untuk bersaing di tingkat nasional maupun global.
( Lin)