Palembang,Sekilasmedia.com-Ketebalan kabut asap yang kian menyelimuti Sumatera Selatan, khususnya Kecamatan Alang-Alang Lebar di Palembang, telah memicu kekhawatiran mendalam di tengah masyarakat. Merespons situasi darurat akibat meluasnya Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), sekitar 700 warga bersama jajaran Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang menggelar Shalat Istisqa’ (mohon hujan) di halaman Kantor Camat Alang-Alang Lebar, Sabtu (10/10/2026).
Suasana haru mewarnai prosesi ibadah tersebut. Jamaah yang terdiri dari berbagai lapisan masyarakat—mulai dari tokoh agama, ulama, tenaga pendidik, hingga Aparatur Sipil Negara (ASN)—tampak khusyuk memanjatkan doa. Banyak di antara mereka meneteskan air mata, berharap Allah SWT segera menurunkan hujan untuk memadamkan api dan membersihkan udara dari polusi asap yang kian pekat.
Kehadiran Wali Kota Palembang dalam kegiatan ini menjadi sorotan utama. Orang nomor satu di kota tersebut turun langsung ke lapangan, didampingi oleh Kepala Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), para Lurah, serta petugas RT/RW. Langkah ini dinilai sebagai simbol keseriusan pemerintah dalam menangani krisis asap tahun 2026 dan bentuk solidaritas penuh terhadap warga terdampak.
Strategi Baru: Libatkan Tetangga dan Telusuri Pemilik Lahan.
Camat Alang-Alang Lebar, Mukhtiar Hijrun, S.STP., M.Si., mengungkapkan bahwa wilayahnya mencatat kasus Karhutla tertinggi kedua di Kota Palembang, setelah sebelumnya menempati posisi pertama pada tahun lalu. Ia mengidentifikasi akar masalah utama adalah sulitnya menghubungi pemilik lahan yang banyak berdomisili di luar daerah, bahkan hingga Jakarta, sehingga absen rasa memiliki terhadap lahannya.
“Kami kesulitan menghubungi pemilik lahan karena domisili mereka yang jauh. Oleh karena itu, pasca-kebakaran ini kami sedang melakukan inventarisasi data pemilik lahan secara ketat. Surat teguran dan permintaan pertanggungjawaban akan diterbitkan,” tegas Mukhtiar.
Selain penegakan hukum administratif, Camat Mukhtiar memperkenalkan strategi pencegahan berbasis komunitas yang inovatif. Ide utamanya adalah melibatkan tetangga yang berbatasan langsung dengan lahan kosong atau terlantar.
“Jika ada izin pemanfaatan lahan seluas 10-15 meter untuk perkebunan oleh tetangga sekitar, maka akan tumbuh sense of belonging atau rasa memiliki. Jika terjadi kebakaran, tetanggalah yang pertama kali membantu memadamkan karena merasa memiliki kepentingan atas lahan tersebut,” jelasnya.
Dampak Nyata dan Layanan Kesehatan Siaga 24 Jam.
Dampak Karhutla tahun ini dinilai sangat serius, tidak hanya bagi kesehatan tetapi juga menyebabkan lumpuhnya aktivitas publik. Penundaan penerbangan dan libur sekolah akibat jarak pandang terbatas menjadi bukti nyata urgensi penanganan masalah ini.
Di tengah upaya spiritual dan administratif, Pemerintah Kecamatan Alang-Alang Lebar bergerak cepat dalam aspek mitigasi kesehatan. Sebuah posko kesehatan dibuka selama 24 jam di kantor camat untuk melayani masyarakat terdampak asap.
Ardiansyah, staf responden kesehatan dari Dompet Dhuafa Sumatera Selatan yang berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan, melaporkan bahwa kondisi kesehatan warga saat ini relatif terkendali meski tetap waspada.
“Belum ada keluhan yang signifikan atau kritis. Namun, kami siaga dengan menyediakan pengobatan gratis,” ujar Ardiansyah.
Layanan tersebut mencakup pemeriksaan gula darah, asam urat, serta distribusi obat-obatan untuk Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), iritasi mata, hipertensi, serta pemberian vitamin dan masker. Hingga saat ini, sekitar 300-400 paket obat telah disiapkan untuk meringankan beban warga yang terpapar polusi udara.
“Dengan kombinasi pendekatan spiritual melalui Shalat Istisqa’, penegakan aturan terhadap pemilik lahan, inovasi komunitas berbasis tetangga, serta layanan kesehatan tanggap darurat, Pemkot Palembang berharap krisis Karhutla 2026 di Alang-Alang Lebar dapat segera berakhir dan kualitas udara kembali normal.






