Kesehatan

Program JKN Temani Perjuangan Iswati Jalani Hemodialisis Selama 10 Tahun

×

Program JKN Temani Perjuangan Iswati Jalani Hemodialisis Selama 10 Tahun

Sebarkan artikel ini
Iswati tetap menjalani hemodialisis selama 10 tahun dengan dukungan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang membantu menjaga akses layanan kesehatannya.(foto: doc)

 

Mojokerto ,Sekilasmedia.com– Perjuangan untuk menjaga kesehatan dan keberlangsungan hidup telah dijalankan oleh Iswati (45) yang selama 10 tahun ini telah menjalani terapi cuci darah atau hemodialisis untuk pengobatan gagal ginjal yang dideritanya. Perjuangan jangka panjang ini tentu tidak lepas dari Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang diselenggarakan BPJS Kesehatan yang terus memberikan perlindungan kesehatan bagi masyarakat, dan Iswati menjadi saksi betapa bermanfaatnya Program JKN ini.

BACA JUGA :  Peringati HUT ke-58, BPJS Kesehatan KC Mojokerto Gelar Donor Darah untuk Perkuat Kepedulian Sosial

Iswati menceritakan bahwa perjalanan pengobatannya bermula ketika dirinya menjalani pemeriksaan kesehatan dan mendapatkan diagnosis tekanan darah tinggi. Kondisi tersebut kemudian berkembang hingga dirinya dinyatakan mengalami gagal ginjal dan harus menjalani hemodialisis secara rutin. Diagnosis tersebut menjadi kabar yang mengejutkan baginya, terlebih saat itu usianya masih tergolong muda.

“Awalnya saya kaget sekali, karena usia saya masih cukup muda, tetapi sudah harus menghadapi penyakit gagal ginjal dan menjalani cuci darah. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya kalau saya harus menjalani pengobatan rutin seperti ini,” ungkap Iswati saat ditemui pada Kamis (08/10) saat sedang menjalani perawatan cuci darah di RS Gatoel Kota Mojokerto.

Iswati mengaku mendapatkan pelayanan yang baik dari tenaga medis di Rumah Sakit Gatoel maupun dukungan melalui Program JKN yang memberikan jaminan pembiayaan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Baginya, menjalani hemodialisis bukan hanya tentang proses pengobatan untuk menjaga kondisi tubuh, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan hidup yang mengajarkannya untuk tetap kuat dan bersemangat. Rutinitas cuci darah yang dijalaninya selama bertahun-tahun membuatnya bertemu dengan sesama pasien yang memiliki perjuangan serupa. Pertemuan tersebut menjadi salah satu sumber semangat bagi Iswati untuk terus menjalani pengobatan.

“Kalau sudah waktunya cuci darah, sekarang rasanya bukan hanya datang untuk berobat. Saya juga bisa bertemu dengan teman-teman seperjuangan yang sama-sama menjalani cuci darah. Kami bisa saling menyemangati. Petugas medis di rumah sakit juga memberikan dukungan yang baik, sehingga saya merasa lebih tenang dan tidak merasa sendirian menghadapi kondisi ini,” tuturnya.

Dengan adanya jaminan kesehatan dari BPJS Kesehatan, ia dapat menjalani pengobatan sesuai prosedur tanpa harus terbebani dengan biaya pelayanan yang dijamin dalam Program JKN. Iswati mengungkapkan rasa syukurnya karena selama menjalani perawatan, dirinya tidak pernah dibebani biaya tambahan untuk pelayanan yang dijamin sesuai ketentuan Program JKN.

“Saya sangat berterima kasih kepada BPJS Kesehatan. Kalau tidak ada BPJS Kesehatan, mungkin saya tidak bisa menjalani pengobatan seperti sekarang dengan lebih tenang. Selama perawatan, semuanya ditanggung sesuai ketentuan, dan saya tidak mengeluarkan biaya tambahan untuk pelayanan yang dijamin. Alhamdulillah, saya bisa tetap menjalani aktivitas dan menjaga kondisi tubuh dengan baik,” ujarnya.

Pengalaman Iswati menjadi gambaran pentingnya perlindungan kesehatan, khususnya bagi masyarakat yang membutuhkan pengobatan jangka panjang. Program JKN hadir untuk membantu peserta memperoleh akses pelayanan kesehatan sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku, sehingga peserta dapat lebih fokus menjalani perawatan.

“Saya berharap semakin banyak masyarakat yang sadar akan pentingnya memiliki kepesertaan JKN yang aktif. Bagi saya, menjalani cuci darah selama kurang lebih 10 tahun bukanlah perjalanan yang mudah. Saya bersyukur bisa terus menjalani pengobatan dan beraktivitas dengan baik. Semoga pengalaman saya ini bisa menjadi penyemangat bagi pasien lain untuk tidak menyerah dan tetap optimistis dalam menjalani pengobatan,” ungkap Iswati. (adv)

BACA JUGA :  Lebih Cepat, Lebih Dekat: 144 Diagnosis Bisa Ditangani di FKTP