Sosial

Susuri Jalan Setapak Ekstrim, Gus Fawait ketuk Pintu Rumah Lansia yang Tak Mampu Berobat

×

Susuri Jalan Setapak Ekstrim, Gus Fawait ketuk Pintu Rumah Lansia yang Tak Mampu Berobat

Sebarkan artikel ini
Gus Fawait membawa tim medis untuk Lansia di kaki gunung Argopuro. (Foto pemkab jember)

Jember,Sekilasmedia.com-Udara dingin perbukitan Pegunungan Argopuro perlahan menyelimuti Dusun Gujuran Timur, Desa Sucopangepok, Kecamatan Jelbuk Jember.

Di ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut (mdpl), dusun terpencil yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Bondowoso ini geming dalam kesunyian.

Tak ada raungan mesin mobil, bahkan motor pun menyerah menghadapi medan tanah yang sempit, licin, dan terjal.

Namun, pada Minggu (4/10/2026), kesunyian itu pecah oleh derap langkah rombongan.

Bupati Jember, Muhammad Fawait atau Gus Fawait, bersama jajaran OPD dan tim medis Puskesmas Jelbuk memilih berjalan kaki menyusuri jalan setapak yang ekstrem.

Napas terengah dan cucuran keringat menjadi bayaran demi satu tujuan: memastikan negara hadir di pintu rumah warga miskin dan lansia yang tak mampu berobat ke kota.

Di salah satu sudut perbukitan, berdiri sebuah rumah berdinding bambu yang mulai melapuk.

Rumah sederhana itu dihuni dua lansia yang menghabiskan masa tuanya dalam keterbatasan fisik.

Nenek Misti berjuang dengan penurunan fungsi penglihatan, sementara pasangannya, Mbah Buya, mengalami gangguan pendengaran.

BACA JUGA :  Ratusan Warga Antusias Donor Darah, Semarak HUT Kota Mojokerto dengan Aksi Kemanusiaan

Keduanya saling melengkapi di tengah keterasingan dari riuk rendah dunia luar.

Melihat kedatangan orang nomor satu di Jember bersama tim dokter, binar haru memancar dari wajah renta mereka.

Tanpa canggung, Gus Fawait duduk bersama mereka, mendengarkan keluhan kesehatan, dan meninjau kondisi huniannya.

Uniknya, saat pemerintah menawarkan untuk membedah rumah mereka menjadi bangunan tembok permanen, kedua lansia tersebut dengan lembut menolaknya.

Mereka mengaku sudah telanjur nyaman dengan nuansa rumah bambu yang telah menemani perjalanan hidup mereka.

Pemerintah Kabupaten Jember pun memilih jalan yang humanis. Bantuan tidak dipaksakan sesuai standar kota, melainkan disesuaikan dengan kenyamanan mereka.

Lantai rumah yang semula tanah berdebu akan segera diplester semen agar tak dingin di telapak kaki mereka, sementara beberapa bagian struktur perbaikan disempurnakan agar lebih aman dihuni.

“Setiap bulan akan didatangi. Ini sudah didatangi selama tiga kali. Kondisi rumahnya kita perbaiki dan kesehatannya kita cek berkala,” ujar Gus Fawait dengan nada hangat di lokasi.

Perjalanan ekstrem menyusuri tebing Jelbuk ini menguatkan alasan pentingnya program Homecare.

Bagi warga di pelosok, menempuh jarak berkilometer menuju Puskesmas bukan sekadar perkara ongkos, melainkan fisik yang tak lagi mampu.

BACA JUGA :  Expo SMSI Blitar Raya Hadirkan Pengobatan Gratis dan Donor Darah

Lewat Homecare, nakes kini menjadi benteng terdepan yang ‘jemput bola’ mendaki bukit demi melayani yang sakit.

“Adanya Homecare ini untuk meminimalisir warga yang tidak bisa datang ke Puskesmas. Maka tim jemput bola, sampai naik jalan yang sangat terjal,” tutur Gus Fawait seraya menyampaikan apresiasi mendalam kepada para tenaga kesehatan yang mau berjuang menembus belantara.

Tak hanya soal kesehatan, jejak kaki di Dusun Gujuran juga membukakan mata akan pentingnya pembenahan akses jalan desa di wilayah perbatasan.

Meski jalan kabupaten sudah mulus, konektivitas desa masih menjadi pekerjaan rumah bersama.

Pemkab Jember pun berkomitmen mengucurkan bantuan perbaikan jalan desa mulai tahun depan.

Bagi warga Dusun Gujuran, hadirnya tim Homecare dan Bupati bukan sekadar membawa obat atau bantuan fisik, melainkan membawa kabar bahwa di balik bukit yang terisolasi, mereka tidak pernah dilupakan.

“Mudah-mudahan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia bisa mulai kita terapkan dari Kabupaten Jember,” pungkas Gus Fawait menutup peninjauannya.

Penulis: Aurel Editor: Erik