Daerah

Dari SPPG Mangli Pujer ke Kandang Ternak dan Budidaya Maggot, Sisa MBG Punya Nilai Ekonomis

×

Dari SPPG Mangli Pujer ke Kandang Ternak dan Budidaya Maggot, Sisa MBG Punya Nilai Ekonomis

Sebarkan artikel ini
SPPG Pujer Mangli Pujer Bondowoso dalam pengelolahan sampah/limbah bekerja sama dengan BSI Paguan Berseri dan Peternak Lokal (Foto: Sekilas Media Bondowoso)

Bondowoso,Sekilasmedia.com – Setiap malam, setelah proses pencucian ompreng Makan Bergizi Gratis (MBG) selesai dilakukan, Wasik Efendi mulai mengumpulkan sisa makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Mangli, Kecamatan Pujer, Kabupaten Bondowoso. Bagi sebagian orang, sisa makanan tersebut mungkin dianggap tidak lagi berguna. Namun, bagi Wasik, bahan yang berpotensi menjadi sampah itu justru memiliki nilai untuk memenuhi kebutuhan pakan ternaknya.

Warga Mangli tersebut telah melakukan aktivitas itu sejak program MBG mulai beroperasi. Ia memanfaatkan sisa makanan yang masih dapat digunakan daripada membiarkannya terbuang begitu saja.

“Ya semenjak MBG beroperasi saya ambil sisa makanan buat pakan ternak. Daripada enggak dimanfaatkan, kan sayang, Mas,” kata Wasik.

Setiap hari, Wasik biasanya memperoleh sekitar tiga hingga empat kantong plastik sisa makanan dari ompreng. Bahan tersebut dibawa pulang, kemudian dibersihkan kembali sebelum diberikan kepada hewan ternaknya.

Tidak hanya sisa makanan, bahan organik dari proses persiapan menu juga dimanfaatkan. Sekitar satu hingga dua karung bahan seperti gobis, kulit wortel, kulit kentang, daun brokoli, hingga kulit semangka dapat dikumpulkan untuk kemudian dijadikan pakan.

Berbagai bahan tersebut dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pakan ayam, bebek, entok, dan kambing miliknya. Dari kegiatan sederhana itu, Wasik merasakan manfaat langsung berupa berkurangnya pengeluaran untuk membeli pakan ternak.

BACA JUGA :  Gubernur H. Sugianto Sabran Lantik Anggota Komisi Informasi Kalteng

“Ya sangat membantu, bisa mengurangi biaya pakan,” ujarnya.

Meski memberikan manfaat, aktivitas tersebut membutuhkan ketekunan. Wasik harus menyesuaikan waktu pengambilan dengan kegiatan operasional SPPG. Ketika hujan turun, proses pengumpulan menjadi lebih sulit. Bahkan, pengambilan bahan dari proses persiapan makanan terkadang harus dilakukan sekitar pukul 02.00 WIB.

Di balik aktivitas Wasik, terdapat upaya lain dalam mengelola sisa makanan dan sampah organik dari lingkungan SPPG Mangli. Pengelolaan tersebut juga melibatkan Bank Sampah Induk (BSI) Paguan Berseri Bondowoso yang menjalin kerja sama dengan peternak maggot sejak program MBG hadir di Bondowoso.

Pengelola BSI Paguan Berseri, Yuli, mengatakan pihaknya melakukan pengumpulan dan pemilahan sampah domestik dari lingkungan SPPG sebelum menyalurkannya kepada peternak maggot. Melalui pola tersebut, sampah organik yang sesuai dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan pakan dalam budidaya maggot.

“Fokus pada pengolahan sampah, agar masyarakat tidak membuang sampah sembarangan. Sehingga masyarakat paham bahwa sampah-sampah juga punya nilai ekonomis,” ungkap Yuli melalui wawancara, Kamis (5/11/2026).

Dalam pelaksanaannya, Bank Sampah Induk Paguan Berseri mengangkut sampah yang telah dipilah dan dikemas dari lingkungan SPPG. Namun, tidak seluruh jenis sampah dapat dimanfaatkan oleh peternak maggot. Sampah yang tidak dikehendaki peternak sementara masih dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA).

Yuli menjelaskan, keterbatasan peralatan menjadi salah satu kendala dalam mengoptimalkan pengolahan sampah menjadi produk maupun sumber energi. Pihaknya juga belum melakukan penghitungan khusus mengenai volume dan persentase sampah yang berhasil dikelola. Meski demikian, pemilahan tetap dilakukan secara selektif agar sampah yang terkumpul dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan.

BACA JUGA :  Winarti Mengikuti Upacara Peringatan HUT RI Ke 76 Tahun

Dua pola pemanfaatan tersebut memperlihatkan adanya peluang pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Sisa makanan dari ompreng dimanfaatkan Wasik untuk kebutuhan ternaknya, sedangkan sampah organik yang dikumpulkan melalui bank sampah disalurkan kepada peternak maggot.

Bagi masyarakat, praktik tersebut tidak hanya membantu mengurangi bahan yang terbuang, tetapi juga membuka manfaat ekonomi dari sesuatu yang sebelumnya dipandang sebagai limbah. Pemanfaatan sisa makanan untuk pakan ternak dapat mengurangi biaya pembelian pakan, sementara pengelolaan sampah organik membuka ruang pemanfaatan melalui budidaya maggot.

Yuli berharap kerja sama antara Bank Sampah Induk Paguan Berseri dan SPPG Mangli Pujer dapat terus terjaga. Ia juga mendorong masyarakat membiasakan pemilahan sampah sejak dari rumah tangga agar sampah organik maupun jenis lainnya dapat dikelola dengan lebih baik.

Dari aktivitas dapur SPPG Mangli Pujer hingga kandang ternak warga, sisa makanan MBG memiliki perjalanan yang berbeda. Sebagian dimanfaatkan menjadi pakan ternak, sebagian lainnya disalurkan untuk budidaya maggot. Di tengah keterbatasan sarana pengolahan, keterlibatan warga dan bank sampah menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dapat menghadirkan manfaat lingkungan sekaligus nilai ekonomis bagi masyarakat.

Penulis: Rifky Editor: Kayla