
Jombang,Sekilasmedia.com- Tindak penjemputan secara paksa oleh Polda Jatim terhadap Moch Subchi Azal Tsani (MSAT) alias mas Bechi (42), tersangka pencabulan terhadap santrinya belum berhasil hingga malam ini (7/7/2022).
Upaya polisi kerap mendapat perlawanan sengit dari santri maupun masyarakat sekitar pesantren.
Dan hari ini sejak pagi hari Kepolisian Daerah Jawa Timur menerjunkan pasukannya secara masif untuk menangkap MSAT tersangka yang sejak enam bulan lalu masuk dalam daftar DPO, namun meski pihak kepolisian telah berhasil menguasai dan mengisolasi pesantren namun MSAT belum berhasil ditahan.
Keluarga MSAT bersikukuh untuk membawa pelaku sendiri ke Polda Jawa Timur untuk menjalani proses hukum.
Kasus yang sudah berjalan selama kurang lebih 4 tahun ini menjadi perhatian publik, tidak hanya masyarakat Jawa Timur namun juga secara nasional banyak pihak yang menyayangkan sikap polisi yang dinilai tidak tegas dan mengedepankan persuasif.
Sementara korban dan keluarga diliputi kecemasan karena konon kerap mendapat ancaman dari pihak pelaku. Lalu kenapa polisi harus lama menunggu upaya penjemputan secara paksa anak kyai ini yang sudah benar-benar dinyatakan DPO untuk menahan pelaku. Apakah keberpihakan kepada korban kekerasan seksual menjadi hal yang utama saat ini.
Kabid Humas Polda Jawa Timur, Kombes Pol Dirmanto angkat bicara terkait dengan kasus dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh anak Pengasuh Pondok Pesantren Shiddiqiyyah Jombang KH Muhammad Mukhtar Mukthi yaitu Moch Subchi Azal Tzani (MSAT).
“Jadi tadi sempat beredar video satu orang yang berhasil ditangkap itu tidak lain DD adalah sopir Panther S 1747 ZJ yang hari minggu lalu menghalang-halangi upaya penangkapan terhadap pelaku MSAT. Tadi sudah kami tangkap dan sudah kami amankan, ” kata Kombes Pol Dirmanto.
“Kemudian beberapa truk yang keluar masuk pondok itu tadi adalah truk yang mengangkut beberapa sukarelawan atau simpatisan yang tadi sempat melakukan dzikir-dzikir di dalam. Jadi kami menjaga kondusifitas di dalam, agar situasi tetap aman, sehingga orang-orang di luar pondok pesantren ini kita sisir dan periksa satu persatu jika bukan warga pondok atau santri Siddiqiyah akan kita bawa,” tuturnya.
Polisi pun mengamankan puluhan pendukung pelaku pencabulan itu karena berusaha menghalang-halangi tugas aparat untuk menangkap MSAT. Mereka diangkut menggunakan mobil brimob ke Mapolres Jombang.
“Puluhan orang tersebut diamankan, karena berusaha menghalang-halangi petugas yang akan masuk ke pesantren. Mereka dibawa untuk didata,” imbuhnya.
Dirmanto juga mengungkapkan bahwa total 60 orang pendukung MSAT sudah diamankan polisi, mereka diketahui sempat ikut berzikir di dalam ponpes ketika penangkapan hendak dilakukan. Polisi hanya mengizinkan santri atau warga internal ponpes yang ada di dalam ponpes.
“Hingga saat ini ratusan aparat gabungan masih bersiaga di sekitar pondok pesantren tempat MSAT tinggal. Dia mengungkapkan, sejumlah aparat sedang menggeledah ke ruangan-ruangan pondok untuk menemukan MSAT,” pungkasnya. “(Kay)






