mojokerto,Sekilasmedia.com-Menjelang waktu berbuka pada Kamis (26/2/2026), Masjid Jami’ Sabilul Huda Pacing dipadati sekitar 100 jamaah yang antusias mengikuti pengajian rutin bulan Ramadhan. Menghadirkan KH Nur Kholis dari Pohgurih, tausiyah sore ini membedah makna syukur yang mendalam serta kemuliaan beribadah malam.
Dalam ceramahnya, KH Nur Kholis menekankan bahwa syukur tidak boleh berhenti di lisan saja, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Beliau mencontohkan teladan Nabi Muhammad SAW yang meski sudah dijamin surga, tetap menjalankan shalat malam hingga kakinya bengkak sebagai bentuk syukur tertinggi kepada Allah SWT.
Beliau juga mengajak jamaah untuk istikamah dalam berdoa, terutama memohon agar wafat dalam keadaan khusnul khotimah. “Sering mendoakan diri sendiri dan orang lain akan membuahkan pahala yang luar biasa. Harapannya, saat ajal menjemput kita dalam keadaan tenang, ibaratnya mimpi bertemu bidadari sehingga tidak diberatkan oleh urusan dunia,” ujarnya.
Selain itu, KH Nur Kholis mengingatkan pentingnya peran orang tua dalam membimbing keluarga. Beliau menceritakan kisah Nabi Muhammad SAW yang selalu mengetuk pintu kamar anak Siti Fatimah untuk mengajak shalat malam. “Sebaik-baiknya ulama dan orang saleh adalah mereka yang mau mendirikan shalat tahajud,” tambahnya.
Suasana di Masjid Jami’ Sabilul Huda sore itu tampak sangat hidup. Selain jamaah tetap, banyak pengendara yang sedang melintas di jalur utama Pacing turut menepi untuk ikut menyimak kajian sekaligus berbuka puasa.
Junaedi, salah satu pengurus masjid, menyampaikan bahwa memang berupaya memberikan pelayanan terbaik bagi siapa saja yang datang. “Kami ingin masjid ini jadi tempat yang nyaman buat istirahat sekaligus menunggu waktu berbuka. Setiap sore kami sediakan takjil dan makanan buka bersama. Jadi, warga yang kebetulan lewat atau tidak perlu bingung cari tempat berbuka,” ungkapnya.






