Probolinggo,Sekilasmedia.com – Antusiasme masyarakat mewarnai pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) yang kembali digelar Pemerintah Kota Probolinggo di kawasan Kios Pangan Kopi Siaga, Jalan Panglima Sudirman, Selasa (21/7). Sejak pagi, warga telah memadati lokasi untuk mendapatkan berbagai kebutuhan pokok dengan harga di bawah pasaran.
Di tengah ramainya pembeli, Wali Kota Probolinggo, dr. Aminuddin, turun langsung meninjau pelaksanaan program tersebut. Kehadirannya didampingi Sekretaris Daerah Budiono Wirawan, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Aries Santoso, Kepala Bagian Perekonomian dan Pembangunan Andri Purwanto, serta Kepala UPT Pasar Hendra Prunomo.
Dalam kesempatan itu, wali kota menyempatkan berdialog dengan masyarakat sekaligus memantau distribusi sejumlah komoditas pangan agar berjalan lancar dan tepat sasaran.
Menurut Aminuddin, Gerakan Pangan Murah menjadi salah satu strategi pemerintah daerah dalam menjaga kestabilan harga bahan pokok sekaligus mengendalikan inflasi di Kota Probolinggo. Program tersebut juga diharapkan mampu menjaga daya beli masyarakat di tengah fluktuasi harga pangan.
“Pemerintah berupaya menghadirkan kebutuhan pokok dengan harga yang lebih terjangkau. Namun kami juga tetap memperhatikan keseimbangan harga di tingkat pedagang agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi pelaku usaha,” katanya.
Ia menjelaskan, beberapa komoditas seperti beras dan minyak goreng diberlakukan pembatasan pembelian. Langkah tersebut dilakukan agar stok dapat dinikmati lebih banyak masyarakat dan distribusi berlangsung merata.
Aminuddin menambahkan, pemerintah akan terus melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan Gerakan Pangan Murah berdasarkan perkembangan harga kebutuhan pokok dan kondisi inflasi daerah.
“Lokasi kegiatan dipilih di titik yang mudah dijangkau masyarakat. Ke depan pelaksanaannya akan disesuaikan dengan hasil evaluasi rutin sehingga program ini tetap efektif dalam menjaga stabilitas harga,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Probolinggo, Fitriawati, mengatakan Gerakan Pangan Murah memiliki konsep berbeda dibanding operasi pasar biasa. Program ini digelar secara berkala dua kali setiap pekan, yakni setiap Selasa dan Jumat.
Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan menjaga ketersediaan pasokan pangan, tetapi juga memberikan akses kepada masyarakat untuk memperoleh kebutuhan pokok dengan harga yang lebih terjangkau.
Dalam pelaksanaannya, Pemerintah Kota Probolinggo menggandeng sejumlah mitra, di antaranya Perum Bulog dan PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), guna memastikan pasokan berbagai komoditas tetap tersedia.
“Kami berharap ke depan produk yang dipasarkan semakin beragam, termasuk hasil pertanian, perikanan hingga produk UMKM lokal sehingga manfaatnya semakin luas bagi masyarakat,” ujar Fitriawati.
Pada pelaksanaan kali ini, masyarakat dapat membeli beragam kebutuhan pokok seperti beras SPHP, gula pasir, Minyak Kita, telur ayam, bawang merah, bawang putih, telur puyuh, tomat, cabai rawit, tepung terigu, bumbu dapur, kecap, garam hingga mi instan dengan harga yang lebih rendah dibanding harga pasar.
Selain menyediakan kebutuhan pokok, Gerakan Pangan Murah juga menjadi ruang promosi bagi pelaku usaha mikro. Salah satunya Dapur Lovelyta Food milik Alita yang menawarkan berbagai olahan hasil perikanan, mulai dari dimsum, udang keju, ikan belanak berbumbu hingga rice bowl dengan harga yang terjangkau.
Salah seorang pengunjung, Yuliatin (51), mengaku sengaja datang dari wilayah Pabean, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo untuk membeli sejumlah kebutuhan usaha kulinernya.
Ia mengatakan harga bahan pokok yang lebih murah sangat membantu menekan biaya produksi usaha makanan yang dijalankannya.
“Saya membeli telur, gula, dan minyak goreng untuk kebutuhan jualan. Selisih harganya cukup membantu. Harapannya kegiatan seperti ini bisa terus dilakukan agar pedagang kecil juga merasakan manfaatnya,” tuturnya.
Gerakan Pangan Murah menjadi salah satu upaya Pemerintah Kota Probolinggo dalam menjaga stabilitas harga sekaligus memastikan masyarakat tetap memiliki akses terhadap kebutuhan pokok dengan harga yang terjangkau di tengah dinamika harga pangan nasional.






