Denpasar,Sekilasmedia.com-Proyek drainase, pasangan beton siklop di Gang Merta Shanti, Banjar Dukuh Tangkas, Pemogan, Denpasar Selatan, munuai protes. Pasalnya, pekerjaan itu munculkan banyak debu dan mempersempit akses gang.
Sejumlah warga yang tinggal di sepanjang gang itu berharap agar perbaikan got segera dipercepat, karena rumah mereka setiap hari selalu dipenuhi debu tebal.
“Sangat tidak nyaman, debu nempel dimana mana mengganggu kesehatan. Kami harap perbaikan got ini segera dipercepat,” kata Made Suta warga sempat, Senin (24/8/2026).
Menurut Suta, sejak awal pengerukan got tidak pernah ada sosialisasi. Bahkan tanah lumpur hasil galian ditumpuk di sepanjang gang tanpa pernah dipindah. Kini akses gang jadi sempit dan sulit untuk dilalui kendaraan apalagi berpapasan.
“Dari awal tidak ada sosialisasi, ini sudah lebih dua minggu material ditumpuk sampai kering di situ. Gang jadi sempit kendaraan sulit lewat,” ungkapnya.
Selain tidak memperhatikan kenyamanan, keberadaan galian yang terlalu lama dibiarkan membuat keluar masuk kendaraan (mobil) dari rumah warga ke jalan lumpuh. Tak sedikit warga harus mengeluarkan biaya lebih menyewa garasi di luar agar bisa memarkir kendaraannya.
“Kami sangat mendukung perbaikan got ini. Tapi tolong pekerjaan harus memperhatikan kenyamanan dan tidak merugikan warga,” kesal Suta.
Terkait keluhan tersebut, pelaksana proyek Anton, saat ditemui di lokasi membenarkan banyak warga yang protes karena debu, termasuk akses gang yang kini sempit. Kendati demikian, dia tidak mengetahui pasti proses awal pekerjaan karena baru tiba di Bali sepekan lalu.
“Benar, banyak warga protes ke saya. Saya juga tidak tahu karena baru seminggu di sini dan sudah mendapati saluran digali seperti ini,” ungkapnya.
Mengenai tumpukan lumpur di sepanjang gang, Anton menyebut akan digunakan kembali sebagai material urug pada pasangan yang sudah di cor. Alasan bekas galian itu tidak dibuang karena saat diangkut akan memunculkan debu di jalan.
“Tidak dibuang, nanti akan digunakan lagi menahan sisi kanan kiri beton siklop yang kosong karena perlu material urugan,” tandasnya.
Menanggapi hal itu, Kepala Dusun Dukuh Tangkas, I Wayan Wardana, langsung membantah jika material hasil galian saluran tersebut akan digunakan kembali. Material itu berupa lumpur, bahkan saat proses gali dan dinaikan ke truk tidak bisa justru berceceran di jalan.
“Begini pak, galian itu sudah kita sepakati diendapakan dulu satu malam, tujuannya agar air dilumpur habis dan mengering baru kita angkut,” ucapnya.
Terhadap keluhan warga juga tidak terkonfirmasi. Karena sebelum proyek dimulai pihaknya sudah berkoordinasi dengan kaur di kantor desa.
“Itu tidak mungkin, bagaimana proyek akan dibawa kesana tanpa usulan permintaan warga setempat,” tandasnya.
Berdasarkan pengamatan, kondisi lapangan nampak berantakan, ceceran material yang kering di jalan menimbulkan debu cukup tebal saat terbawa angin. Parahnya tidak ditemukan adanya rambu rambu peringatan proyek.
Informasi yang didapat, bahwa tim pelaksana kegiatan (TPK) Desa Pemogan Tahun 2026 melaksanakan kegiatan pekerjaan drainase/got, di lingkungan Banjar Dukuh Tangkas, menggunakan sumber dana pendapatan bagi hasil (PBH), dari 10 Agustus hingga 10 September 2026.






