
Situbondo, Sekilasmedia.com – Berjarak sekitar 55 Km dari ibu kota Kabupaten Situbondo ke arah barat daya, masih berjuang masyarakat lereng Pegunungan Argapura untuk memenuhi kebutuhan ekonomi.
Kebanyakan dari mereka adalah petani. Ada bermacam-macam tumbuhan yang tumbuh subur di wilayah ini. Benar saja, wilayah Kecamatan Sumbermalang, Kabupaten Situbondo sebagian besar berada di lereng Pegunungan Argapura yang merupakan hutan luas. Rimba itu juga menjadi pembatas antara desa satu dengan yang lainnya.
Bisa dibayangkan, warga setempat setiap hari harus menyusuri hutan tersebut dengan melewati jalan setapak yang sepi. Belum lagi jika hujan mulai turun, membasahi tanah, hingga kadang membuat warga jatuh karena licinnya. Keputusasaan semakin mendera, begitu hasil panen tidak bisa segera dipulangkan. Yang tak kalah menyedihkan, jalanan licin di hutan, seringkali membuat rumput—pakan ternak berceceran penuh lumpur, karena para peternak gagal menjaga keseimbangan saat melewati jalanan sempit dan sunyi itu.
Pak Kolis adalah satu diantara puluhan masyarakat atau petani setempat yang merasakan kondisi melelahkan itu. Untuk pergi ke sawah atau kebunnya, tubuhnya sudah lelah karena melewati medan yang berat. Kinerja di sawah pun tidak bisa maksimal, lantaran beberapa suap nasi sebagai energi sudah habis difungsikan untuk melewati jalanan licin. Lebih-lebih jika musim hujan seperti ini.
“Selama ini saya setiap ke kebun atau sawah harus melewati medan yang hanya bisa kita lewati melalui jalan setapak yang sepi ini,” ujarnya sembari menunjukkan jalan kecil yang hanya bisa dilewati satu orang.

Pak Kolis memang sudah tidak lagi muda. Tetapi juga tidak ingin dikatakan tua, mengingat wajahnya masih bersih—tak banyak kerutan sebagai tanda usia senja. Ototnya juga masih terlihat kencang, nampak jelas dari kaos ketat warna coklat yang dikenakannya.
Petani asal Desa Tlogosari, Kecamatan Sumbermalang ini sudah puluhan tahun menikmati kehidupannya di antara rimba hutan. Dia memiliki beberapa ekor sapi, dan selalu membawa pulang rumput gajah. Sudah sejak lama berharap ada perubahan besar di desanya, agar mudah dalam memenuhi kebutuhan.
Harapan itu kemudian muncul setelah Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-107 memberikan jawaban atas hasrat masyarakat Tlogosari.
Pengabdian Di Tengah Corona
Tepat pada hari Senin, 16 Maret 2020, program pembuatan jalan baru TMMD Kodim 0823/Situbondo resmi dibuka. Tidak ada pesta yang meriah. Upacara pun digelar sederhana. Alasannya, negara sedang perang melawan virus corona (Covid-19) yang mulai masuk ke Indonesia.
Mengantisipasi hal itu, Pemerintah mengimbau rakyatnya agar melakukan Sosial Distancing, sebelum akhirnya bergeser makna menjadi Physical Distancing.
Seratus personel TNI AD yang bertugas tidak hanya fokus membelah hutan pembatas Desa Tlogosari dan Alastengah, demi membuat jalan baru untuk kemanusiaan, tetapi dalam pengerjaannya mereka seperti dipaksa untuk menjaga jarak satu sama lain. Solidaritas pun diuji akibat penyebaran Covid-19.
Para prajurit memang sudah menanggalkan atribut perang. Tidak ada sangkur atau laras panjang. Hanya baju seragam dan beberapa peralatan untuk menunjang infrastruktur. Mereka berbagi bersama warga, meneteskan peluh satu sama lain. Bertukar cangkul hingga tang untuk membuat gorong-gorong, bronjong dan plengsengan. Memecah batu bersama, dan saling bergantian mengaduk semen. Sungguh pemandangan yang tak biasa di Alastengah.

Di sela-sela pengerjaan bronjong dan plengsengan, beberapa tim yang ditugaskan khusus untuk pencegahan virus corona terus melakukan sosialisasi, memeriksa kesehatan masyarakat, dan membagikan masker. Dandim 0823/ Situbondo, Letkol Inf. Akhmad Juni Toa mengakui pengerjaan program kemanunggalan TNI tahun ini memang tidak biasa.
“Konsentrasi terbagi menjadi dua memang. Disatu sisi tetap harus melaksanakan seluruh program fisik dan non fisik yang telah diprogramkan. Disisi lain tetap mengutamakan, memproteksi, dan melakukan tindakan pencegahan terhadap para anggota Satgas TMMD yang berada di lapangan dan warga di desa sasaran,” kata Dandim dengan mencoba tetap tenang.
TNI memang manusia biasa. Mereka juga berkeluarga, memiliki anak dan istri yang jauh di mata. Namun mereka tetap profesional demi tugas kemanunggalan. Menghormati orang tua asuh, dan memilih tetap patuh untuk menyelesaikan tugas baru.
Jalan Baru, Harapan Baru
Kini, masyarakat desa Tlogosari dan Alastengah bisa mewujudkan mimpinya. Jalan Baladhika Jaya sepanjang 1.465 meter telah menghubungkan kedua desa. Hutan belantara yang hanya terdapat jalan setapak, licin ketika hujan, kini tidak hanya bisa dilewati para petani. Anak-anak sekolah, para pedagang, dan masyarakat pada umumnya, bisa melewati jalan Baladhika Jaya, baik dengan menggunakan sepeda, motor, dan juga mobil.
Pak Kolis sudah tidak perlu mengeluh lagi karena pernah jatuh di hutan ini. Panen kopi dan petai bisa menggunakan kendaraan roda tiga atau bahkan roda empat.

Kopi Tlogosari memang pahit. Tapi tidak sepahit jalanan yang masih berupa hutan dan jurang yang curam. Kopi Tlogosari membekas kenangan. Pahit-pahit manis yang selalu terkenang.
“Terima kasih pak tentara, semoga yang bapak-bapak tentara lakukan akan mendapat pahala yang setimpal dari Tuhan,” ujar Pak Kolis sembari malu-malu meneteskan air mata, sesaat setelah satgas pamit menyelesaikan tugasnya, Selasa (14/04/2020).
Tangannya, tak henti-hentinya menepuk pundak salah seorang personel TNI, seakan tak rela anak asuhnya pamit melangkah.
Dapat Apresiasi Pemda Setempat
Kini jalan Baladhika Jaya sudah mulai dibuka. Apresiasi tinggi pun diberikan oleh Pemkab Situbondo. Wakil Bupati Situbondo Ir. Yoyok Mulyadi bahkan berencana melanjutkan pembangunan jalan tersebut.
“Atas nama pemerintah daerah Kabupaten Situbondo, kami mengucapkan terima kasih kepada Dansatgas TMMD ke-107 Kodim 0823/Situbondo bersama Satgas lainnya yang telah membangun jalan baru untuk masyarakat Desa Tlogosari dan Desa Alastengah, Kecamatan Sumbermalang, Kabupaten Situbondo,” ujarnya, Rabu (15/04/2020).

Rencananya, Wabup akan melanjutkan pembangunan jalan dengan pengaspalan. Termasuk menambah bibit pohon dan tanaman toga yang sebelumnya dilakukan penanaman bersama-sama dengan Forkopimda.
Bersatu Prajurit TNI
Satria Merah Putih
Luhur Mengabdikan Diri
Bela Ibu Pertiwi
Teguh Pada Sumpah Setia
Takwa Kepada Tuhan
Rela Berkorban
Jiwa Raga
Demi Indonesia
Hymne TNI, Cipt. Addie MS





