
MOJOKERTO.Sekilasmedia.com- Kehidupan ini seperti selalu ada dua sisi, seperti ada siang ada malam, ada tinggi ada rendah, ada atas ada bawah, ada langit ada bumi, ada bodoh ada pintar, dan juga yang lainnya termasuk ada kaya dan ada miskin. Dalam menjalani hal tersebut dibutuhkan pemahaman, sebab jika telah sampai pada pemahaman masing-masing bahwa mengarah untuk Allah SWT maka Allah SWT pun akan memberikan nilai tersendiri yang di luar jangkauan nalar manusia. Kurang lebih hal tersebut disampaikan Gus Haji Mas Sulthon (Gus Ton/ Gus Thon) seorang kyai dan budayawan serta tokoh Jawa Timur yang peduli pada anak yatim dan fakir miskin serta pihak-pihak yang membutuhkan.
Gus Haji Mas Sulthon pun memberikan gambaran bahwa orang yang miskin, bahkan sangat miskin pun bisa berubah menjadi kaya raya, dengan ikhtiar sesuai kemampuan masing-masing sekalipun, ketika doanya, doa orang tua nya, doa guru – guru nya, doa sahabat – sahabat nya kepada Allah SWT dikabulkan alias jika Allah SWT berkehendak. Gus Ton pun memberikan contoh di terangkan dalam kitab ada salah satu kisah pada zaman Nabi Musa AS.
“Bahkan pada zaman Nabi Musa AS, ada sepasang suami istri yang hidup dengan penuh kemiskinan, namun mereka menghadapinya dengan penuh kesabaran,” ungkap Gus Ton yang juga dikenal sebagai Kyai, Budayawan, dan peduli pada seni-budaya lebih-lebih wayang kulit dimana Gus Ton malah pernah mendapatkan tiga Rekor Dunia dari MURI dan LEPRID atas kepeduliannya terhadap wayang kulit beserta kru.
Gus Ton pun melanjutkan menceritakan tentang suami isteri yang miskin itu yang pada suatu ketika tatkala mereka beristirahat, sang istri bertanya kepada suaminya: “Wahai suamiku, bukankah Musa adalah seorang Nabi yang bisa berbicara dengan Rabb-nya (Tuhan-nya)?”
Lalu sang suami menjawab: “Ya, benar.”
Sang istri berkata lagi: “Kenapa kita tidak pergi saja kepada-nya untuk mengadukan kondisi kita yang penuh dengan kemiskinan dan memintanya agar ia berbicara kepada Rabb-nya, agar Dia menganugerahkan kepada kita kekayaan?”
Sang istri berkata lagi: “Kenapa kita tidak pergi saja kepada-nya untuk mengadukan kondisi kita yang penuh dengan kemiskinan dan memintanya agar ia berbicara kepada Rabb-nya, agar Dia menganugerahkan kepada kita kekayaan?”
Akhirnya mereka mengadukan kemiskinannya itu kepada Nabi Musa AS.
Lalu Nabi Musa bermunajat menghadap Allah SWT dan menyampaikan keadaan keluarga tersebut.
Allah SWT pun berfirman kepada Musa:
“Wahai Musa, katakanlah kepada mereka, Aku akan memberikan mereka kekayaan, tetapi kekayaan itu Aku berikan hanya satu tahun, dan setelah satu tahun, Aku akan menjadikan mereka miskin kembali.”
Gus Ton pun bercerita lebih lanjut bahwa: “Lalu Nabi Musa menyampaikan kepada mereka bahwasanya Allah telah mengabulkan permohonan mereka, dengan syarat kekayaan itu hanya diberikan satu tahun saja.”
“Bayangkan bagaimana jika diantara masyarakat kita disini ada yang mendapatkan hal tersebut? Kira-kira apa yang akan dilakukan? Tentu dengan respon yang berbagai macam, dan mungkin berbeda-beda,” ulas Gus Ton.
Pada inti kisah isi kitab di zaman Nabi Musa AS yang disampaikan Gus Ton bahwa suami istri yang miskin itupun ketika mendapat informasi dari Nabi Musa AS soal kabar dari Allah SWT tersebut, lantas menyambut dengan penuh kebahagiaan dan kegembiraan.
“Beberapa hari kemudian benar-benar datang rejeki yang melimpah dari jalan yang tak terduga darimana arahnya seperti dijanjikan Allah SWT. Dan merekapun menjadi orang terkaya pada saat itu,” ungkap Gus Ton yang secara rutin telah memberi santunan kepada ribuan anak yatim, kalangan fakir miskin dan pihak-pihak yang peduli ini. Dan Gus Ton juga sangat mahir dalam membaca Kitab Kuning, yang mana di setiap rumah Gus Ton di berbagai daerah selalu terpampang Kitab Kuning berbahasa Arab di almari ruang tamu nya.
Kembali ke kisah sumi istri di zaman Nabi Musa AS : Keadaan suami istri yang miskin itupun berubah dengan kekayaan yang berlimpah. Lalu sang istri berkata kepada suaminya :
“Wahai suamiku, selama setahun ini kita akan memberi makan orang-orang miskin dan menyantuni anak-anak yatim mumpung kita masih punya kesempatan, karena setelah setahun kita akan kembali miskin.”
Sang suami pun menjawab: “Baiklah, kita akan menggunakan harta ini untuk membantu orang-orang yang membutuhkannya.”
Gus Ton pun menceritakan bahwa kemudian mereka membantu orang-orang yang membutuhkan, dan membangun tempat-tempat singgah para musafir, serta menyediakan makan gratis bagi orang yang membutuhkan.
“Setelah satu tahun berlalu, mereka masih tetap sibuk menyediakan makanan sampai mereka lupa bahwasanya sudah setahun lebih mereka menjadi orang kaya dan mereka lupa bahwa akan kembali menjadi orang miskin,” urai Gus Ton yang dikenal low profile dan bersahaja ini.
“Nabi Musa pun heran melihat keadaan mereka yang tetap kaya,” kata Gus Ton.
Singkat kisah, kemudian Nabi Musa pun bertanya kepada Allah SWT: “Ya Rabb, bukankah Engkau berjanji memberikan mereka kekayaan hanya satu tahun saja, kemudian setelah itu Engkau akan kembalikan mereka pada kemiskinan seperti semula?”
*Allah SWT pun berfirman : “Wahai Musa, Aku telah membuka satu pintu rezeki kepada mereka, tetapi mereka membuka beberapa pintu rezeki untuk hamba-hamba Ku. Maka Aku titipkan lebih lama kekayaan itu pada mereka.”*
Nabi Musa menjawab :
*سبحانك اللهم ما أعظم شأنك وأرفع مكانك*
“Maha Suci Engkau Ya Allah, betapa Maha Mulia urusan-Mu dan Maha Tinggi kedudukan-Mu.”
Dari kisah tersebut menurut Gus Ton bisa diambil banyak sekali hikmah dan berbagai hikmah. Salah satunya bahwa dengan berbagi bukan justru mengurangi yang kita miliki. “Dengan kita suka berbagi, maka Allah SWT pun akan lebih suka kepada kita. Bahkan Allah mengubah batas rezeki kita yang harusnya pendek, menjadi lebih panjang, menjadi lebih luas, diberi kemurahan yang berlimpah-limpah,” tandas Gus Ton. (Siswahyu).





