
Batu, Sekilasmedia.com – Salah satu negara maju yang cukup menarik adalah Jepang. Barangkali bicara kultur sama dengan Bali kalau di Indonesia, dimana mempunyai kultur yang sudah mendunia dan menarik minat banyak orang untuk mengunjungi. Tidak sedikit orang yang ingin bekerja maupun magang ke Jepang, paling tidak dapat merasakan kehidupan di negeri Matahari.
Masalah serius yang dialami Jepang belakangan ini adalah kurangnya tenaga kerja. Oleh karena itu pemerintah Jepang cukup terbuka terhadap warga asing yang ingin hidup dan bekerja di Jepang.
Indonesia menjalin kerjasama dengan Jepang untuk menyelenggarakan program magang. Kerjasama tersebut tentu saja saling menguntungkan kedua belah pihak. Petani milenial yang dikirim magang akan belajar banyak di Jepang dan dapat berkontribusi untuk memajukan sektor pertanian di Indonesia. Pihak Jepang juga diuntungkan dengan ketersediaan tenaga kerja.
Program magang ke Jepang adalah untuk pembelajaran. Peserta magang ibarat siswa dan berstatus pelatihan. Mereka tidak sepenuhnya bekerja, tapi belajar sambil bekerja.
Terkait hal tersebut sesuai dengan arahan dari Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo bahwa untuk mewujudkan pertanian maju, mandiri dan modern salah satunya bisa tercapai melaui proses learning anlearning. Kalau ingin membuat maju mandiri dan modern ada proses belajar, learning anlearning. Learning itu melalui sekolah yang ada. Sedangkan anlearning itu melalui keteladang yang ada.
Dalam amanat yang disampaikan pada saat kunjungan pada peserta magang Jepang di BBPP Batu, Sabtu (17/03) Sekretaris Badan BPPSDMP Dr. Ir. Siti Munifah, M.Si, meminta peserta Magang Jepang untuk mengubah mind set.
“Magang di Jepang tidak semata-mata untuk mencari pengalaman tapi menyerap hal positif dari praktik pertanian di Jepang untuk kemudian diterapkan di tanah air” jelasnya.
Menurutnya tujuan ke Jepang jangan cuma mikir finansial yang menggiurkan, tapi harus ambil etos kerja serta kemampuan mengolah pertaniannya.
“Kalian adalah usia produktif, dimana kalau saat ini tidak dibangun nantinya penyesalan itu tidak ada di depan tapi penyesalan itu ada di belakang hari selamat mengikuti pelatihan semoga kalian semua sukses, serta apa yang dicitakan tercapai” tegasnya.
Lebih lanjut menurut Siti Munifah bahwa tidak ada proses yang mengingkari hasil. Kalau ingin sukses, proses ikuti dengan baik, ikuti iramanya tetapi dengan kompetisinya yang positif.
Sementara menurut Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Prof. Dedi Nursyamsi, menyampaikan dalam lima tahun kedepan akan membangun pertanian milenial, sebanyak 2,5 juta melalui pendidikan dan pelatihan vokasi.
“Diantaranya 1.000 orang petani milenial akan dicanangkan melalui magang di Jepang. Harapannya setelah magang 6 sampai 12 bulan di Jepang, kemudian para petani milenial pulang, mereka jadi penguasa petani milenial” kata Prof. Dedy. (BAS)





