
Gresik, Sekilasmedia.com – Kawasan Ujungpangkah yang berada di muara sungai Bengawan Solo selama ini memang banyak ditumbuhi tanaman mangrove dan perairan disekitarnya menjadi tempat hidup burung air dan persinggahan habitat burung-burung migran.
Hal ini menjadi perhatian dan dasar penetapan oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Direktur Bina Pengelolaan Ekosistem Esensial dan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur, yang menjadikan kawasan mangrove Ujungpangkah menjadi Kawasan Ekosistem Esensial (KEE), menjadi suatu kawasan konservasi.
Keberadaannya ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui SK Gubernur Jawa Timur Nomor : 188/233/KPTS/013/2020 tertanggal 12 Mei 2020 tentang penetapan KEE Mangrove Ujungpangkah Kabupaten Gresik Propinsi Jatim.
Disebutkan luasan wilayah kawasan ekosistem esensial (KEE) Mangrove Ujungpangkah sebesar 1.554,27 ha tercakup dalam 3 wilayah desa. Yakni Desa Ujungpangkah Wetan 763,99 ha, Desa Ujungpangkah Kulon 347,03 ha dan Desa Banyuurip 32,69 ha. Serta wilayah perairan seluas 410,56 ha.
Bersamaan dalam rangka Hari Lahan Basah se Dunia (World Wetlands Day) tahun 2021, Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bersama Pemerintah Kabupaten Gresik, Balai BKSDA Jawa Timur serta KEE Mangrove Ujungpangkah mengadakan Media Gathering bersama awakmedia.
Menurut Direktur BPEE Kementrian LH dan Kehutanan Asep Sugiharta bahwa kegiatan media gathering kali ini, agar keberadaan Kawasan Ekosistem Esensial Mangrove Ujungpangkah di wilayah Kabupaten Gresik ini, bisa semakin dikenal masyarakat luas melalui publikasi media (di blow up).
” Karena KEE Mangrove Ujungpangkah merupakan kawasan ekosistem esensial dengan keanekaragaman hayati di dalamnya menjadi kawasan konservasi terutama burung migran dan edukasi terkait pelestarian lingkungan hidup ke masyarakat,” ujarnya, di Kantor DLH Gresik, Rabu (2/6/2021).
Dan diharapkan ada timbal balik antara masyarakat sekitar dengan keberadaan KEE Mangrove Ujungpangkah agar tetap lestari dan terlindunginya fauna serta floranya,tukas dia.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Gresik M. Najikh menambahkan pemerintah daerah terus mendorong agar KEE Mangrove Ujungpangkah ini bisa menjadu bagian penting dalam pelestarian hayati yang ada di Indonesia.
” Tentu kita bangga dengan dipilihnya Ujungpangkah sebagai kawasan ekosistem esensial, semoga bermanfaat dan kami akab selalu mendukungnya,” ucapnya.
Dalam media Gathering ini, pihak penyelenggara membagi awakmedia menjadi tiga tim sesuai tema masing-masing. Dan salah satunya mengangkat tema dampak keberadaan KEE mangrove Ujungpangkah dilihat dari sisi sosial budaya masyarakat ekosistem pantai setempat. Selain itu, sebagai pengungkit peningkatan ekonomi masyarakat melalui pemberdayaan dari sektor wisata alamnya. Masyarakat diajak menjaga kawasan tersebut secara berkesinambungan melalui program-program berwawasan lingkungan.
Koordinator dan pengarah tim, Abdullah Hanif menentukan tiga spot yang akan dieksplore oleh awakmedia, diantaranya kawasan tempat pelelangan ikan (TPI) di Desa Banyuurip, kawasan Pondok Pesantren yakni Ponpes Al Muniroh di Desa Ujungpangkah Wetan dan UMKM setempat di Desa Ujungpangkah Kulon.
Saat di Kawasan Ponpes Al Muniroh Desa Ujungpangkah Wetan, awakmedia menemui pemilik pondok pesantren Al Muniroh KH. Mahmudi Ambar beserta jajaran pengurus lainnya di kantor pondok pesantren tersebut.
Menurut Pemilik Ponpes Al Muniroh KH. Mahmudi Ambar bahwa Pondok Pesantren Al Muniroh merupakan ponpes tertua di kecamatan Ujungpangkah. Yang didirikan oleh KH. Mawardi sekitar tahun 1940-an.
Setelah beliau wafat, kemudian pengelolahannya dilanjutkan oleh putranya yakni KH. Munir. Dan sekarang dilanjutkan oleh KH. Mahmudi Ambar (menantu KH. Munir).
” Pengelolaan Pondok Pesantren Al Muniroh saat ini dilanjutkan oleh generasi ketiga. Selama berdiri sejak tahun 1940-an sampai sekarang, telah mendidik ribuan santri yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia,” ungkapnya bangga.
Selain penguasaan ilmu agama Islam, para santri juga dibekali kegiatan oalahraga bela diri pencak silat Setia Hati dan Al Banjari. Selanjutnya, untuk mendidik jiwa kewirausahaan , pihak Ponpes juga memberikan teknik beternak unggas (ayam dan bebek) serta pembudidayaan ikan air tawar ( seperti ikan mas koki, ikan lele, ikan gurami dan ikan patin) di kolam belakang ponpes, bebernya.
Pemilik Ponpes beserta staf dan guru juga mendidik santri untuk menerapkan hidup bersih dan sehat.
” Berbagai cara kami tempuh agar para santri bisa menerapkan pola hidup bersih dan sehat di lingkungan ponpes, baik melalui penyampaian secara edukatif dan praktek langsung untuk menggugah kesadaran hidup bersih dan sehat. Misal membuang sampah pada tempatnya, piket membersihkan ruang tidur masing-masing, mandi 2 kali sehari, cuci tangan dan masih banyak lagi,” kata KH. Mahmudi Ambar.
Di luar mendidik santri, Pondok Pesantren Al Muniroh juga mengajak warga sekitar untuk mengaji baik tua maupun muda. Namun kebanyakan di ikuti kaum hawa.
” Kebanyakan di ikuti ibu-ibu yang ditinggal suaminya bekerja sebagai nelayan saat melaut dan anak-anak. Untuk ibu-ibu ada 500 -an orang yang mengaji di sini, sedangkan anak-anak sekitar 250 orang anak. Kegiatan mengaji bagi warga sekitar ponpes sendiri, diadakan sejak tahun 1985 silam sampai sekarang,” imbuh salah satu Guru ngaji.
Secara subtansi sentuhan sosial budaya pondok pesantren Al Muniroh mewakili masyarakat Pangkah Wetan ikut mendukung adanya keberadaan KEE Mangrove Ujungpangkah.
Setelah dari Ponpes Al Muniroh, awak media melanjutkan ke UMKM Krupuk Ikan di Desa Ujungpangkah Kulon.
UMKM pembuatan krupuk ikan merk ikan tengiri milik Bapak Dzalil ( 65) yang sudah terkenal akan kualitas produknya. Beralamat di Dusun Setro Barat RT 03 RW 08 Desa Pangkah Kulon kecamatan Ujungpangkah Kabupaten Gresik.
Menurut Bapak Dzalil pembuatan krupuk berbahan dasar ikan laut ini sudah lama ditekuninya hampir 10 tahun lebih. Dibantu istri tercinta mengelola usahanya sampai sekarang.
Diakuinya,” Mengelola UMKM pembuatan krupuk ikan harus ulet, kreatif, punya terobosan terutama pemasaran dan selalu menjaga mutu produk krupuk tersebut melalui pilihan kualitas bahan baku, kebersihan, dan kualitas produk jadi sampai pengemasan.”
Proses pembuatan krupuk ikan di mulai dari penentuan bahan baku, dimana ikan laut kita potong kepalanya dan dibuang isi perut ikan lalu dicuci bersih. Lalu digiling tersendiri beserta rempah-rempah. Untuk membuat krupuk ikan, hasil gilingan ikan laut dicamput dengan tepung maizena. Satu kali produksi membuat sebanyak 30 Kg membutuhkan ikan laut 10 kg, tiap hari 2 kali produksi jadi 60 kg dengan kebutuhan ikan laut jadi 20 kg, bebernya.
Setelah, adonan yang di giling selesai lalu di atas meja stanlees di bentuk panjang lonjong seperti lontong sesuai permintaan. Lalu di kukus setelah matang lalu disimpan dalam lemari penyimpanan agar menjadi dingin dan kenyal. Selanjutnya, bahan setengah jadi berupa lontong itu diiris tebal tipisnya sesuai pesanan, dan dijemur diatas papan bambu sampai kering.
Setelah kering, krupuk mentah di kemas dengan kantong plastik sesuai berat yang diinginkan. Kalau untuk krupuk ikan yang matangan atau sudah di goreng akan dilakukan penggorengan lalu dibiarkan dingin baru dikemas sekaligus ditimbang sesuai ukurannya, terang Dzalil.
” Proses pembuatan krupuk berbahan dasar ikan laut, tepung maizena serta rempah-rempah sendiri memakan waktu hampir 4 hari. Bahan baku ikan laut segar dari daerah Weru Lamongan lebih terjaga kualitasnya daripada beli di nelayan pangkah. ” tandasnya.
Dari usaha produksi krupuk ikan ini, jelas Ibu Tin Dzalil, keuntungan per bulan hampir Rp. 42,5 juta kotor.
Dari hasil kunjungan ke lokasi di mana keradaan UMKM di sekitar KEE Mangrove Ujungpangkah seperti di Desa Pangkah Kulon akan ikut mendorong peningkatan ekonomi warga sekitar akibat terdongkrak dari sisi wisata alam. Sehingga akan mendukung keberadaan KEE Mangrove tersebut di wilayahnya.
Petangnya, di kawasan BMS diadakan penanaman tanaman Bakau dan melepaskan 25 ekor burung lokal oleh Wagub Jatim, Dirjen KSDAE, perwakilan Bupati Gresik, BLH propinsi Jatim dan BLH Kabupaten Gresik. (rud)





