
Badung,Sekilasmedia.com –
Pasca menghebohkan, kemunculan kera berwarna putih mirip tokoh pewayangan Hanuman di Jalan Uluwatu areal Pura Selonding, Desa Adat Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, diyakini niskala (keramat) oleh masyarakat Bali.
Diharapkan, kemunculnya membawa aura positif di tengah keterpurukan ekonomi Indonesia khususnya Bali, akibat pandemi C-19. Selain itu, tak sedikit yang khawatir bila hewan langka tersebut menjadi buruan, mengingat harganya yang mahal.
Bendesa Adat Pecatu, I Made Sumerta, Sabtu (7/9) mengatakan kemunculan kera putih itu pertama kali diketahui oleh seorang warga yang tinggal di sekitar Pura Selonding. Menemukan hal yang jarang terjadi, kera putih ini pun direkam oleh warga menggunakan kamera Ponselnya.
“Setelah kera putih itu lewat, warga yang merekam tidak mengetahui lagi keberadaannya,” ujarnya. .
Karena penasaran, setelah terakhir kali kera putih muncul di areal Pura Selonding tahun 2011 silam, dirinya bersama beberapa tokoh umat mendatangi lokasi munculnya satwa tersebut. Kemudian, dilakukan pengecekan ternyata kera putih itu masih berada di tempat.
“Saat kami hampiri untuk diberikan makan kera putih itu malah mendekat dan tidak agresif. Kera ini beda dengan kera putih yang dulu muncul sesaat langsung menghilang,” ungkapnya.
Meski termasuk kasus langka, Sumerta tidak mau mengaitkan kemunculan kera putih ini dengan hal mistis. Mengingat saat kemunculan kera putih 10 tahun silam, tidak ada kejadian yang mencolok.
Dikonfirmasi terpisah, Kasubbag TU Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Bali, Prawono Maruanto mengungkapkan, pihaknya telah melakukan pemantauan terhadap kera berwarna putih itu berada. Berdasarkan anatomi, kera itu masih dikatagorikan sebagai monyet ekor panjang.
“Kami mencurigai kera itu mengalami kelainan genetik, yaitu albino atau leukisme, karena dapat dibedakan dari matanya,” katanya.
Dejelaskan, bila monyet ekor panjang merupakan binatang yang tidak dilindungi undang undang. Bahkan, satwa liar dengan kelaiman genetik akan cinderung ditolak dari kelompoknya.
“Terhadap kera putih ini, kami BKSDA Bali hanya melakukan pemantauan. Bila diyakini niskala oleh masyarakat Hindu Bali, ini berarti pertanda baik,” tutupnya. (Soni).





