Daerah

Bupati Ikfina: Relawan harus Punya skill yang bisa dipertanggungjawabkan

×

Bupati Ikfina: Relawan harus Punya skill yang bisa dipertanggungjawabkan

Sebarkan artikel ini

 

Mojokerto,sekilasmedia.com – Guna meningkatkan kapasitas para relawan dalam mengantisipasi adanya bencana alam. Pemerintah Kabupaten Mojokerto melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto menggelar Peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) Penanggulangan Bencana Alam di wilayah Kabupaten Mojokerto.

Agenda peningkatan SDM tersebut, diikuti oleh 50 peserta dari unsur BPBD dan relawan mitra BPBD, yang digelar di Aula PT. Haraka Kitri Endah, Desa Jatidukuh, Kecamatan Gondang, Minggu (26/6) pagi.

Dalam sambutan dan arahannya, Bupati Mojokerto Ikfina Fahmawati sangat mengapreasi kepada para relawan yang memiliki panggilan untuk menjadi atau terlibat dalam pertolongan kebencanaan.

“Jadi disaat banyak orang-orang yang punya kepedulian apalagi sekarang ini, itu menunjukan bahwa memang tanggung jawab yang besar dari kalian semuanya, sebagai relawan tidak cukup statusnya relawan tetapi relawan itu memang harus punya skill yang harus bisa dipertanggungjawabkan,” ucapnya.

BACA JUGA :  Komisi III DPRD Kab. Blitar Akan Sidak Proyek Jembatan Subali Blitar, Sekilasmedia.com Proyek Jembatan Subali yang berada di Kecamatan Sutojayan masih belum berwujud. Padahal proyek jembatan senilai 10,5 miliar rupiah tersebut harus selesai pada akhir bulan Desember 2023 ini. Hingga saat ini progres pembangunan jembatan yang menghubungkan Kelurahan Sutojayan dan Kelurahan Kedungbunder Kec. Sutojayan tersebut masih mencapai 25 persen saja. Sejauh ini yang sudah terbangun adalah abutmen atau substruktur yang berada di ujung bentang jembatan sisi barat. Dengan progres yang begitu lelet, warga sekitar lokasi pun khawatir jembatan ini tidak akan selesai pada akhir tahun ini. Menanggapi keluhan tersebut DPRD Kabupaten Blitar pun akan melakukan sidak pembangunan jembatan Subali tersebut. “Emang terkesan lelet ya, kami akan sidak ya beberapa pekan ke depan,” kata Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Blitar Sugianto (Sugik), Jumat (01/12/23). Warga khawatir proyek jembatan senilai 10,5 miliar rupiah tersebut tidak akan selesai tepat waktu. Kekhawatiran warga tersebut didasarkan didasarkan kondisi saat ini yang telah memasuki hujan, dimana sungai Ludo Agung biasanya akan meluap ketika hujan terus turun. Jika banjir terjadi warga khawatir pondasi bangunan jembatan akan terbawa arus sungai. Sehingga jembatan yang memakan APBD senilai Rp 10,5 miliar rupiah tersebut tidak akan rampung. Pembangunan jembatan ini memang mengalami sejumlah kendala, mulai dari material hingga pembebasan lahan. Proses pembebasan lahan untuk pembangunan jembatan Subali ini ternyata belum selesai. Total ada 19 warga yang akan terdampak pembangunan jembatan Subali. Tanah dari warga tersebut baru akan dibebaskan atau diberikan ganti rugi dengan akta notaris pada pekan depan. “Memang ada kendala pembebasan lahan di sekitar lokasi dan warga terdampak tapi PUPR tetap optimis katanya bisa rampung dalam pekan depan,” tegas Sugik. (adv/ddg)

Lebih lanjut, Ikfina juga menjelaskan, dalam mengahadapi pasca bencana semua sarana dan prasarana yang rusak akibat bencana harus segera diperbaiki agar tidak menjadi salah satu penyebab bencana berikutnya.

“Kabupaten Mojokerto ini bencana-bencana yang terjadi sebagian besar adalah bencana yang bisa diantisipasi dan terjadi rutin terutama karena berhubungan dengan hidrometeorologi,” ujarnya.

Masih Ikfina, ketika menghadapai korban dikawasan hutan yang membutuhkan relawan melakukan pertolongan pertama terkait cidera yang dihadapi, maka mau tidak mau para relawan melakukan penyelamatan pertama, sebelum membawa ke para medis.

“Karna kita punya wilayah hutan yang harus di support oleh tenaga rescue yang memadai dan skill yang standar,” bebernya.

BACA JUGA :  PROYEK PASAR BADUNG DIHARAPAKAN RAMPUNG TAHUN INI

Selain itu, Ikifina juga menekankan, tugas tim rescue tidak hanya pada bencana alam, akan tetapi para relawan juga harus menghadapi kecelakaan wisatawan yang beraktifitas didalam hutan.

“Ini adalah satu hal perlu kita perhatikan bersama bahwa nanti ini menjadi bagian dari yang kita semua hadapi,” tururnya.

Ikfina juga menegaskan, Kabupaten Mojokerto harus memiliki para relawan-relawan rescue yang tangguh, mempunyai skill dan tanggap karena para relawan akan berhubungan langsung dengan nyawa manusia.

“Jadi istilahnya tidak hanya kalian disiapkan untuk menghadapi bencana-bencana yang penting yang longsor yang apapun itu, tetapi kalian juga dibutuhkan manakali kita membuka satu kegiatan produktif yaitu pembukaan besar-besaran wisata pendakian gunung diwilayah Kabupaten Mojokerto,” pungkasnya