Daerah

Prof Dr KH Imam Bukhori Al – Hafizh MBA Pemangku PPM Al Azhar: Metode ‘Darurat’ Tahfidz, 40 Hari Hafal Qur’an

×

Prof Dr KH Imam Bukhori Al – Hafizh MBA Pemangku PPM Al Azhar: Metode ‘Darurat’ Tahfidz, 40 Hari Hafal Qur’an

Sebarkan artikel ini

GRESIK,Sekilasmedia.com-Prof Dr KH Imam Bukhori Al – Hafizh MBA Pendiri dan Pemangku Pondok Pesantren Modern (PPM) Al Azhar, di kawasan Menganti, Gresik, Jawa Timur dikenal sebagai tokoh figur yang penuh kesabaran serta diberi kelebihan oleh Allah SWT untuk bisa melakukan pengobatan diantaranya melalui sarana air minum.

Kesabaran dan ketelatenannya, menjadikannya bisa mewujudkan PPM Al Azhar yang berdiri sejak 1 Agustus 2011 alias sekitar sebelas tahun yang lalu, yang hingga kini telah banyak menghasilkan para penghafal Al Qur’an, para hafidz dan hafidzah. PPM Al Azhar ada yang di Menganti untuk putra, dan ada yang di sekitaran Manyar untuk putri.

Bahkan pada tahun 2015 meskipun baru berdiri sekitar empat (4) tahun ketika itu, telah mampu menghasilkan penghafal Al Qur’an terbaik nasional diantaranya Alfiatur Rosida (Vivi) salah satu penghafal Al Quran terbaik di PPM Al Azhar yang dalam waktu hanya empat puluh (40) hari mampu menghafal 6.666 ayat, 114 surat, dalam 30 juz Al Quran. Bahkan Alfiatur Rosida terpilih meraih peringkat ketiga terbaik nasional dalam Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) nasional. Sekaligus merupakan diantara sedikit santriwati yang mampu dan berhasil menjadi hafidzah.

Di balik kemampuan Alfiatur Rosida untuk menjadi penghafal Al Quran dalam waktu 40 hari, memang tidak terlepas dari figur Prof Dr KH Imam Bukhori Al – Hafizh yang juga alumni Al Azhar Mesir yang menemukan Metode Menghafal Quran Dalam 40 Hari ini. Metode ‘Darurat’ Tahfidz.

BACA JUGA :  BPK Jatim Kunjungi Pemkab Malang, Ada Apa?

Ditemukannya Metode ‘Darurat’ Tahfidz tersebut diantaranya berangkat dari keprihatinan Sang Kyai bahwa tidak sampai satu persen (1 %) dari santri di pesantren di Indonesia yang mau hafal Al Quran. “Tidak sampai satu persen dari santri di Indonesia yang mau hafal Al Quran,” ungkap Kyai Imam Bukhori, seraya menyebut karena untuk menghafal tersebut biasanya dibutuhkan waktu yang panjang yaitu sekitar 3 – 4 tahun.

Bermula atas keprihatinan tersebut Kyai Imam Bukhori (yang pada tahun 2022 ini berusia 57 tahun, red.) ketika itupun mendirikan dua Pesantren modern, yakni Al Izzah di Desa Suci, Kecamatan Manyar, untuk santriwati dan Pesantren Al Azhar di Desa Boteng, Kecamatan Menganti, buat santri putra.

Dua Pesantren modern tersebut sama-sama mengembangkan motode belajar menghafal 30 juz Al Quran selama 40 hari, yang disebut oleh Kyai Imam Bukhori bahwa dirinya menciptakan metode tersebut atas dasar keadaan darurat.

Metode ‘Darurat’ Tahfidz tersebut sebagaimana disampaikan Kyai Imam Bukhori, diilhami Al Ayyubi, gurunya di Kairo (Mesir) yang menciptakan Metode 120 Hari. Kyai Imam Bukhori lantas memperpendeknya menjadi 40 hari.

Dasar ilmiahnya adalah manusia memiliki otak kanan dan otak kiri. Namun, selama ini hanya otak kiri yang lebih banyak difungsikan dan otak kanan kurang aktif. Untuk itu menurut Kyai Imam Bukhori, untuk membukanya, ada metode sugesti bagi para santri yang bertekad menghafal Alquran. Sugesti itu diharapkan mampu meningkatkan dan mengoptimalkan daya memori otak kanan.

BACA JUGA :  Sarasehan Dialog Kesenian Magetan Rahim Indonesia, Dalam Rangka Haul Gubernur Soerjo

Kyai Imam Bukhori pun memadukan antara cara ilmiah tersebut dengan yang non ilmiah yang mendukung, diantara cara dengan mengajak para santrinya tirakatan khusus. “Santri saya ajak tirakan khusus,’‘ ungkap Kyai Imam Bukhori, diantaranya dengan puasa, salat malam, dan wiridan dengan harapan minta pertolongan kepada Allah SWT agar dimudahkan dalam menghafal firman-firman-Nya yang mulia itu.

Dengan metode ilmiah dan nonilmiah tersebut, daya rekam otak menjadi sangat tajam. Nah, otak yang sudah tajam itu diyakini mampu menghafal 30 juz dalam 40 hari saja.

Jika biasanya menghafal Al Quran butuh 4 tahun, sejak Metode ‘Darurat’ Tahfidz tersebut, bisa hafal dalam 40 hari.

Sedangkan dalam praktik, pengasuh hanya memberikan kisi-kisi bagi santri. Di antaranya, menetapkan waktu belajar 14 jam per hari. Sisa waktu 9 jam digunakan untuk istirahat, tidur, salat, dan makan. Metode yang nyaman dan menyenangkan, diantaranya karena Santri sendiri yang menentukan jam belajarnya.

PPM Al Azhar pun sempat dikunjungi Menteri Koordinator PMK Muhadjir Effendy yang diantaranya didampingi Wagub Jatim Emil Dardak. “Tidak banyak pondok yang seperti (PPM) Al Azhar,” ungkap Muhadjir Effendy menteri kelahiran 29 Juli 1956. Pujian kurang lebih sama disampaikan Wagub Jatim Emil Dardak yang kelahiran 20 Mei 1984 ini. Pendapat Anda? Sms atau WA kesini= 081216271926 (Siswahyu).