
Malang, Sekilasmedia.com – Menjelang Penggusuran lapak PKL, paguyuban PKL Tidar Mulai bersiap dengan Mengibarkan Bendera Merah Putih dan Umbul-umbul simbol perjuangan dari ketidak Adilan disepanjang lapak PKL terminal Tidar. Paguyuban Pedagang kaki lima (PKL) saling menguatkan dan tersj merapatkan barisan serta menuntut keadilan kepada Walikota Malang Sutiaji. Hal tersebut terpaksa di lakukan para PKL karena di picu beredarnya Surat peringatan dan Ultimatum dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas Provinsi Jawa Timur, agar PKL yang selama puluhan tahun lapaknya menjadi mata pencaharian dibongkar secara mandiri dan jika tidak di indahkan sesuai tenggat waktunya, maka Lapak PKL Tidar akan di gusur oleh pihak BBWS Brantas. Minggu (28/05/2023) Siang.
Berdasarkan Surat Peringatan ke 3 Dirjen SDA BBWS Brantas bernomor PW0301-Am/704 yang mengklaim bahwa lokasi tempat PKL berjualan, merupakan sempadan Afvour Tidar Kelurahan karangbesuki kecamatan Sukun kota Malang tidak sesuai peruntukannya dan Memberikan tenggat waktu Pada PKL sampai dengan tanggal 14 Juni 2023 untuk membongkar secara mandiri, atau akan dibongkar Pihak BBWS Brantas.
Dipicu ultimatum BBWS Brantas yang akan membongkar paksa lapak mata pencaharian PKL itulah, Paguyuban PKL Tidar bereaksi dengan memasang Bendera Merah putih, Umbul-umbul dan Spanduk bertuliskan
“Paguyuban PKL Tidar Menolak Digusur,”
“Walikota Sutiaji Kami Rakyatmu”
“Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, Mana????,”
Edi salah satu PKL Tidar kepada awak media yang hadir menyampaikan bahwa dirinya dan seluruh PKL Tidar hanya meminta keadilan Pemerintah Kota Malang, Dirinya tidak ingin digusur jika untuk ditata untuk lebih baik kami jelas bersedia, bagaimana pun lapak yang di tempatinya selama 30 tahun ini menjadi mata pencaharian satu-satunya dirinya dan keluarganya.
“Saya meminta keadilan atas lahan lahan yang bermasalah dibelakang ini, kami tidak mau digusur, kalau penataan kami maulah ditata dengan baik, atas nama PKL kita ditata dengan baik, untuk mencari nafkah sehari-hari”, tutur Edi berkaca-kaca.
Salah satu pedagang PKL yang tidak bersedia disebut namanya dan saat ini menempati lahan yang akan di gusur BBWS Brantas mengungkapkan kepada awak media tentang dugaan penggusuran yang akan dilakukan BBWS Brantas kali ini merupakan Pesanan pengusaha, karena sebelumnya juga ada upaya serupa dengan berbagai macam cara. Diduga pemilik lahan di timur Sungai lah yang paling berkepentingan, karena Tanahnya tidak memiliki akses jalan maka berencana membangun jembatan dengan cara menggusur lapak-lapak PKL Tidar sehingga bisa dibangun jembatan.
“Tujuan penggusuran Lapak PKL ini diduga merupakan pesanan pengusaha pemilik tanah di belakang, mereka berencana membangun gedung sekolahan dan jembatan penghubung yang akan dilaksanakan CV Zeus Animation dengan menggusur semua tempat PKL dibelakang yang berbatasan dengan sungai pembuangan yang sering kali disebut kali wangan yang tidak ada air mengalir(sungai mati), Berpuluh-puluh tahun BBWS tidak pernah mengurus sungai mati, tapi sejak ada rencana pembangunan Jembatan yang peruntukannya hanya untuk akses tanah seberang sungai, tiba-tiba ada klaim dengan menyatakan bahwa lokasi sungai mati ini merupakan cucu dari sungai Brantas, kan Aneh, bisa-bisa nanti selokan-selokan yang ada di perkampungan juga di klaim cicit sungai Brantas,” ungkapnya kesal.
Hal senada juga disampaikan Nur Kholis PKL Tidar yang lapaknya juga akan digusur
“Kami intinya mau tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari, kami juga tidak mau ganti rugi dan digusur begitu saja, karena kita disini juga sudah 25 sampai 30 tahun menempati dan berjualan disini, jadi intinya semua paguyuban PKL untuk tetap bekerja disini mencari nafkah, tetapi kalau ditata kami mau tapi bukan penggusuran”, ucap Nur Kholis.
“Pak Walikota kami butuh keadilan, kalau memang tanah belakang milik CV tersebut bisa dipakai untuk dibangun jembatan,dan pembangunan sekolahan ataupun gedung disini , kami juga bisa, bukan berarti kami menghambat pekerjaan CV untuk membangun tetapi biar kita juga sama-sama bekerja”, pungkasnya (Tyo)





